PESAN UNTUK KEMATIAN, LAGI

ilustrasi by: lakonhidup.com

SAVANA- Halo Kematian, apa kabarmu? Sudah agak lama ya, sejak pesan pertama yang aku titipkan padamu untuk adikku. Kalau tidak salah, dua atau tiga bulan yang lalu. Setelah itu, semua berjalan begitu saja. Keseharian aku lewati dengan memulai segala hal dengan penuh semangat dari tempat tidur. Sarapan dengan sepotong kue manis yang Ibu buat, sengaja untuk menyambut satu hari yang spesial. Hari Rabu.

“Semua hari juga spesial, semua jadi hari kelahiran bagi siapa pun. Jadi hari keberuntungan, jadi hari penuh berkah,” katanya.

Aku sendiri sebenarnya tidak setuju sarapan hanya dengan kue yang terbuat dari pisang dan cokelat. Enak dan manis, sih! tapi perutku kurang kenyang. Maklum ya, Kematian! aku biasa sarapan bubur yang diaduk dengan kecap dan ati ampela plus sebuah doa yang diucapkan sebelum suap pertama.

Setelah keseharian yang biasa itu, kemacetan yang biasa, pembangunan perumahan yang biasa, hingga keburukan-keburukan yang biasa dilakukan sampai ia menjadi kebaikan, aku dikagetkan oleh sebuah pesan yang kau sampaikan. Terimakasih Kematian, sudah menyampaikan pesan kerinduanku kepada adikku.

Terimakasih, sekali lagi.

Entah apa yang harus aku balas untuk kebaikan yang telah kau lakukan. Kau telah sampaikan pesan kata adikku. Setidaknya ketika kami bertemu dalam sebuah pertemuan sebentar saja pada sebuah mimpi. Andai kau tau, Kematian, aku begitu bahagia. Sebuah kebahagiaan yang sesaat. Tetapi begitu terasa, amat terasa. Sebuah pertemuan sebentar saja. Tetapi bukan kah kita akan selalu merasa sebentar ketika hidup di dunia ini?

Dalam mimpi itu, aku bertemu adikku. Kami bertemu pada sebuah rumah sederhana dengan satu bangku dan dua kursi yang seolah sudah disediakan untuk kami bertemu. Aku lihat di sekitar terdapat banyak cahaya masuk. Ternyata dinding di rumah tersebut terbuat dari kaca. Cahaya yang entah berasal darimana masuk begitu saja, menghangatkan tatapannya padaku. Ia tersenyum, ketika aku tiba dengan berjalan kaki, menggeser kursi dan duduk.

“Aa, kan ini mah mimpi,” ia berbicara lembut.

“Iya, makanya aa mah alim waka gugah,”

“Sudah waktunya bagun, aa!”

Kemudian pada pertemuan kami yang hangat dan tenang itu, aku mendengar langkah mendekat. Semakin mendekat, membuka pintu lalu adikku tak ada.

“Aa, bangun, sudah jam lima pagi,” Ibu membangunkanku.

Yah, padahal banyak hal yang belum aku ceritakan pada adikku. Makanya, aku menulis lagi pesan untukmu, Kematian. Tidak apa-apa, kan? Sampaikan lagi pesan dariku untuk Adikku. Maklum, Kakaknya selalu berbicara banyak ketika Adikku pulang dari kampus atau seberes tugas malam di rumah sakit.

***

Kematian yang baik hati dan murah senyum,

Pada pertemuan yang sebentar saja dengan adikku itu, ada yang sempat tidak aku omongkan padanya. Banyak hal sih, terus hal-hal biasa. Tapi kan, dari hal-hal biasa bisa jadi membuat istimewa, memikat, bahkan sulit dilupakan. Kebiasaan keseharian yang kita lakukan pun adalah satu hal yang membentuk diri kita saat ini, bukan?

Kematian, sampaikan pada adikku jika semakin hari sejak dia diajakmu pergi, ternyata semakin begitu terasa rasa rindu. Kami sekeluarga hanya bisa berdoa di setiap waktu saat sembahyang. Berdoa di setiap waktu saat jendela rumah dibuka dan sinar matahari yang menyejukkan menerpa perabotan yang mulai usang.  

Saat ini, musim hujan sudah mulai datang. Kemarin saja, hujan tak reda seharian. Tetapi, air dari PDAM masih saja sulit dan tidak ngocor. Air dari pompa listrik masih belum mengalir, katanya air tanahnya sudah disedot oleh mesin-mesin pompa lebih besar yang digunakan oleh tetangga. Apalagi setiap tahun air tanah di wilayah kami turun sampai delapan puluh persen. Tetapi, untung saja, tanaman di halaman rumah tak pernah layu. Kami selalu menyisakan air untuk menyiraminya setiap pagi atau sore. Tapi bukan olehku, Bapa lebih rajin untuk urusan menyiram.

“Supaya rumah kita tetap sejuk, walau halamannya tidak luas,” kata Bapa dalam suatu waktu.

Oh iya, sampaikan pada adikku, ternyata hujan begitu disambut gembira oleh kedua sepupu perempuanku. Sepupu perempuan itu yang begitu dekat dengan adikku. Mereka selalu bertanya: ke mana adikku pergi, sejak kau ajak, Kematian!

Saat hujan turun, apalagi hujan deras tanpa petir dan kilat, kedua sepupu perempuan berlarian menyambutnya. Mereka senang, menari dalam hujan, berjingkak bahkan tertidur dengan wajah melihat ke atas langit, merelakan wajahnya dijatuhi air hujan.

“Apakah teteh di sana, di atas sana?,” kata keduanya menanyakan adikku.

Kematian yang selalu baik, sampaikan juga kepada adikku, jika kedua sepupu perempuanku bukan hanya jago dalam soal bermain air saja, tetapi juga mulai lihai menjawab persoalaan matematika dan bahasa Indonesia di sekolahnya. Ya, tidak terasa, ternyata mereka sudah hendak ke kelas dua. Mahir membaca dan lancar berbicara. Sering bertanya mengenai apa saja yang asing bagi mereka. Kadang sulit juga menjawabnya.

“Kalau Teteh, kapan pulang, ya?”

“Yee, Teteh mah nggak akan pulang. Lagi pergi jauh, jalan-jalan,”

“Yaah, jalan-jalan ke mana?”

“Nanti lah, kita nyusul Teteh ya. Saat waktunya tiba,”

“Asyiik euy, diajak jalan-jalan!”

Kematian yang selalu tersenyum manis, sampaikan pada adikku, masih saja selalu tersisa satu piring nasi yang sengaja disisakan untuknya oleh Ibu. Sepotong ayam goreng dan satu mangkok sayur asem pun disediakan di meja makan. Saat  tengah malam, aku lapar dan menghabiskannya.

“Bu, nasi dan ayam aku habiskan, ya!”

“Iya,”

Begitulah Kematian, sampaikan ya pada adikku. Lalu, jika saatnya tiba kau mengajakku. Datanglah dengan baik-baik dan merdu. Datanglah dengan senyumanmu yang paling manis, atau serupa lantunan piano yang diiringi suara syahdu penyanyi yang sedang tenar. Atau serupa lantunan ayat suci yang selalu menenangkan ketika waktu subuh tiba. Supaya kelak, Kematian, bukanlah perpisahan tetapi perjumpaan kembali.

Tuliskan Komentarmu !