Perempuan Terbuang itu Bernama Tarzani

SAVANA- Di hutan yang sangat lebat, Tarzani menggigil kedinginan. Seorang diri. Beberapa pakaian yang masih tersisa, ia gunakan sebagai selimut, walau sebenarnya tak bisa mengahangatkan tubuhnya karena lembap. Tarzani masih menggigil. Ia teringat kepada pesan ayahnya: kalau badanmu mulai terasa kaku, maka gerakkan lah. Tarzani pun bersiap untuk mengambil langkah, walau perutnya terasa perih karena sudah dua hari ini tak makan apa-apa, hanya minum seadanya.

Sudah sebulan Tarzani berkeliaran di hutan. Ia tak menyangka mampu bertahan selama itu. Dalam pikirannya, paling ia hanya mampu bertahan sehari dua hari, setelah itu dimangsa hewan liar. Namun takdir berkata lain. Tak seekor hewan buas pun yang berani menyentuhnya. Menampakkan di depan wajahnya pun enggan.

“Ada hal yang aneh.” pikir Tarzani. Dulu, sewaktu ia masih tinggal desa, dan masih dianggap bagian darinya, Tarzani sering mendapat kabar kalau orang yang berburu ke hutan tak pernah kembali lagi ke desa. Mulut-mulut pun berbicara kalau para pemburu itu mati dimangsa macan, sebagian percaya kalau para pemburu itu dilalap Kolongwewe, penjaga hutan itu.

Semakin lama hewan buas itu tak memangsanya, maka semakin menderitalah ia. Tarzani tak mau mati bunuh diri. Ia ingat kepada pepatah ustad sawaktu pengajian: tempat orang yang bunuh diri itu adalah di dalam neraka. Cukup baginya untuk menderita di dunia saja, sehebat apa pun itu. Ia tak mau dengan sengaja menyengsarakan dirinya di neraka.

Kaki Tarzani sudah bergetar karena tak kuat menahan lapar. Namun ia paksakan untuk terus melangah. Ia tak tau apa yanga bakal ada di depan sana, namun melangkah adalah satu-satunya cara untuk dapat mengetahuinya. Setitik harapan atau sebuah kematian.

Terzani menghentikan langkahnya. Ia sudah tak mampu lagi memperhitungkan ia sedang berdiri di kaki gunung sebelah mana, yang pasti, di depannya terang benderang. Sedikit demi sedikit kaki Tarzani kembali dilangkahkan, sambil mengawasi di depannya. Semakin dekat, Tarzani semakin yakin kalau yang di hadapannya adalah sebuah ladang.

Tarzani terus melangkah, hingga diperbatasan hutan dan ladang. Terzani berhenti. Ia ingat pesan ayahnya: jangan sekali-kali kau turun ke ladang atau perkampungan. Tarzani berbalik, namun sedikit ragu. Wajahnya pun dipalingkan kembali ke ladang itu.

“Tidak ayah, aku tidak turun. Ladang ini yang melampaui batasnya. Ladang ini yang merampas hutan.” bisik Tarzani dalam hati. Tarzani pun melanjutkan langkahnya ke dalam ladang itu. Ia lihat ada pohon tomat, dan buahnya sudah sedikit menguning. Ia ambil beberapa, lalu melahapnya.

“Ada Tarzani! Ada Tarzani!” teriak seseorang sambil berlari dari sebuah saung yang sebelumnya tak Tarzani lihat.

Tarzani terkaget, namun orang itu sudah menghilang di balik pepohonan yang ada di ladang itu. Tarzani belum kenyang, maka ia ambil beberapa buah lagi.

Sebelum kembali ke hutan, Tarzani melihat sebuah saung tempat orang tadi berlari. Ia pandangi terus saung itu, lalu menatap matahari. Matahari sebentar lagi tergelincir. Tarzani manatap kembali saung itu, lalu menatap hutan, lalu menatap saung itu lagi, menatap hutan lagi.

Perlahan, Tarzani pun melangkah menuju saung itu.

“Sekali ini saja, aku ingin tidur nyenyak. Aku belum mengucap perpisahan pada hidup manusia.” Bisik Tarzani dalam hati.

*

Sore itu Tarzani dibuang ke dalam hutan oleh kedua orang tuanya. “Di sini, tempat segala macam pertempuran. Kau lebih baik tinggal di dalam hutan sana, tempat segala macam ketenangan.”

Tarzani tentu tak mengerti dengan maksud-maksud orang tuanya. Selama ini ia merasa baik-baik saja, tak ada pertempuran apa pun. Awalnya ia menolak. “Tempatmu bukan di sini, Sayang.” ucap Ibunya sambil menderaikan air mata. Dan di dalam hatinya ia terus menolak. Namun apalah daya jika ia menyadari kalau orang tuanya sudah tak mengharapkan keberadaannya lagi. Yang ia tau bahwa seorang anak yang baik adalah anak yang menuruti segala omongan orang tuanya, sepahit apa pun itu bagi dirinya sendiri.

Tarzani pergi meninggalkan kampung itu tanpa bisa pamit kepada teman-temannya, tanpa sebuah perpisahan.

Sebelum memutuskan itu, orang tua Tarzani sering didatangi orang pintar. Katanya, kalau dibiarkan, Tarzani akan membawa petaka bagi kehidupan manusia. Orang tua Tarzani tak percaya begitu saja, ia menuntut bukti yang dapat meyakinkannya.

“Tarzani mempunyai kecantikkan yang tak biasa.” ucap orang pintar itu. “Ia akan menjadi rebutan. Bukan hanya oleh penduduk biasa, tapi juga oleh para bangsawan. Kau tau kan bagaimana kelakuan bangsawan kita jika keinginannya tidak dapat terwujud?”

Orang tua Tarzani menatap nanar. “Terus, apa harus kami lakukan?” tanya ayah Tarzani.

“Satu-satunya cara adalah dengan membunuh Tarzani. Pergi ke kota mana pun, ia tetap akan direbutan, dan petaka.”

“Apakah kejadian seperti ini sebelumnya pernah terjadi?”

“Sangat sering. Kau pernah mendengar cerita tentang Cleopatra? Laila? Atau Dewi Ayu? Mereka adalah perempuan cantik yang bernasib nahas. Kecantikan mereka membawa petaka. Begitu pun dengan Tarzani, kalau dibiarkan.”

Ayah dan ibu Tarzani saling melirik, seolah saling mempertanyakan apakah sudah waktunya untuk percaya kepada orang ‘pintar’ itu. “Kami akan segera menikahkan Tarzani dengan pemuda desa biasa. Kami akan membimbingnya. Ia akan hidup layaknya orang tuanya hidup.” sela ibu Tarzani.

“Sekarang memang Tarzani belum dewasa. Ia masih ada di bawah pengawasan kalian. Tapi setelah ia dewasa, ia akan punya pikirannya sendiri, keputusannya sendiri. Saat itu, kita tak bisa menasehatinya apa-apa lagi.”

“Maksudnya?”

“Kecantikannya tetap akan membawa petaka. Itu yang sudah digariskan. Kalau pun hidup ia senang, tapi yang lain yang akan menanggung sengsara.”

Orang tua Tarzani tak bisa berkata apa-apa lagi. Terlalu banyak hal yang tak diketahuinya. Mereka akan selalu merasa bodoh di hadapan orang-orang yang merasa dirinya ‘pintar’.

Orang tua Tarzani melepaskan Tarzani ke dalam hutan. Mereka tak kuasa jika melihat mayat Tarzani di depan matanya. Mereka menyerahkan Tarzani kepada hewan buas. “Jangan sekali-kali kau turun ke ladang atau perkampungan.” nasihat Ayahnya.

*

Tarzani tiduran di dalam saung. Ada tikar dan sarung. Sebelum tidurnya lelap, ia ingat kepada teman-teman di sekolahnya, ingat kepada orang tuanya. “Bagaimana pertempuran kalian? Aku di sini tidur dalam ketenangan.”

*

Pak Lutfi, petani yang sore tadi melihat Tarzani, langsung mengabarkan kepada setiap orang bahwa dirinya melihat Tarzani. “Tarzani masih hidup! Tarzani masih hidup!” teriak Pak Lutfi memberitahukan setiap orang yang lewat.

Keberadaan Tarzani menjadi ramai diperbincangkan di mana pun. Di warung kopi, di pos ronda, di pasar tempat ibu-ibu membeli sayuran, hingga di pegajian ke pengajian.

“Bagaimana mungkin? Kau paling melihat hantunya.”

“Itu Tarzani beneran. Buka hantu. Sumpah! Ia memakan tomat saya. Mana mungkin ada hantu di siang bolong?”

Desas-desus itu sampai ke telinga orang tua Tarzani. Mereka tak tau harus merasa bahagia atau sebaliknya. Sebelumnya mereka sudah menganggap Tarzani sudah meninggal dimakan hewan buas, tapi walau begitu, saat itu ada kerinduan untuk bertemu dengan anaknya kembali.

“Buat apa kita mencarinya, Pak?” tanya Ibu Tarzani.

“Hanya untuk meyakinkan, apakah benar Tarzani masih hidup. Itu saja.”

“Kalau ia beneran masih hidup?”

Sebentar ayah Tarzani terdiam. Lalu ia duduk. Air matanya keluar. Ia mengusapnya dengan pergelangan tangan. Sesegukan.

“Sudahlah Pak… Kita sudah mengikhlaskannya. Buat apa dicari-cari lagi? Kalau pun ia beneran masih hidup, berarti ia sudah dapat menguasai dirinya sendiri, sudah bersahabat dengan alam. Ia bisa hidup selamanya, di hutan ini.”

*

Pagi-pagi sekali Tarzani bangun. Tubuhnya kembali segar. Ia keluar saung, lalu mengambil beberapa sayuran untuk di jadikan bekal. Ia berjalan kembali ke arah selatan.

Perlahan, matahari menampakkan diri dari arah timur, menyembul dari balik bukit. Pak Lutfi dan beberapa petani lainnya mendatangi tempat saat Pak Lutfi melihat Tarzani. Ia terangkan kepada teman-temannya bagaimana Tarzani makan, lalu mencari-cari jejak untuk dijadikan bukti. Paling tidak dengan adanya jejak, semakin meyakinkan Pak Lutfi kalau yang dilihatnya benar Tarzani, bukan hantu.

Jejak yang mereka temukan agak samar, dan mengarah ke saung. Mereka mulai mengikuti jejak itu. Jejak itu dapat terlihat jelas jika berada di atas tanah yang gembur. Pak Lutfi menilik-nilik jejak itu, lalu di sampingnya ia pun menginjakkan kakinya. “Lihat perbedaan jejakku dan jejak itu. Jejak itu lebih kecil dan halus. Jejak seorang gadis. Mana mungkin seorang pemburu jejaknya seperti itu?” Petani yang lain mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan menuju saung.

Setibanya di saung, hanya Pak Lutfi yang kaget, karena hanya ia yang tau bagaimana susunan saung itu semula. Mereka menunggu Pak Lutfi menerangkan dengan panjang lebar. Namun Pak Lutfi masih tetap diam. “Ada yang aneh?” tanya salah satu dari mereka.

“Intinya, Tarzani benar-benar ke sini.” jawab Pak Lutfi singkat.

*

Tarzani terus melangkahkan kakinya. Ia tak tau harus sampai kapan berjalan seperti itu, padahal tak ada yang dituju. Semenjak diusir oleh orang tuanya, Tarzani hanya menginginkan jauh dari rumah, jauh dari kampungnya. Semakin jauh, pikirnya, akan semakin lepas ikatannya dengan masa lalu.

Setelah beberapa saat, langkah Tarzani terhenti. Ia pernah membayangkan tempat yang kini dilaluinya. Ia lalu melihat sekeliling, memerhatikannya dengan seksama. Sebulan berada di hutan membuat ia tak bisa memastikan apakah tempat itu pernah dilaluinya atau belum; karena memang yang dilihatnya hanya pohon-pohon dan semak-semak. “Di hutan memang banyak tempat yang mirip.” pikir Tarzani. Ia pun meneruskan langkahnya.

Walau pikirannya ia membuang jauh-jauh, tapi ia dapat merasakan sesuatu yang berbeda. Tarzani diam kembali, mencoba mencermati lagi. Terzani mulai melihat sesuatu yang ganjil; semak-semak di depannya sudah ada yang condong, seolah menandakan pernah ada orang yang lewat. Ia pandangi lagi sekeliling. Tarzani merasa belum puas, maka ia pun mulai berjalan menuruni semak-semak.

Tarzani terkaget. Ketika Tarzani berdiri di atas semak yang agak terbuka, ia dapat melihat sebuah danau yang cukup besar, dan sekelilingnya tak asing lagi bagi Tarzani. “Berarti, kampungku, beberapa ratus meter di belakang sana.” bisik Tarzani, sambil melirik jalan yang sudah dilaluinya.

Dalam waktu sebulan, Tarzani mampu mengelilingi gunung itu. Ia baru sadar kalau ia berjalan secara melingkar. Awalnya, ia berpikir kalau semakin banyak langkah, maka semakin menjauhkan ia dari kampung halamannya. Tentu, ia keliru.

Kerinduan Tarzani kepada kampung halamannya langsung menggebu. Masa lalu tetap menjadi bagian dari hidup, bahkan ia bisa dilihat lebih romantis. Tarzani tak mau menafikannya. Ia tak mau melewatkan kesempatan itu. Tentu ia tak bermaksud untuk kembali ke kampungnya, kepada orang tuanya. Ia hanya akan memantaunya dari kejauhan, sembari merawat kenangan masa kecilnya.

Dari ketinggian, Tarzani mampu melihat kampunganya, walau di beberapa bagian ada yang terhalangi pepohonan. Ia dapat melihat tempat bermainnya dulu, saat ia masih bocah ingusan. Ia dapat melihat ladang tempat orang tuanya bekerja, dan sesekali ia pun suka ikut ke sana. Ia dapat melihat genting rumah kedua orang tuanya, dan itu membuat air matanya kembali bercucuran.

*

Menjelang malam, Tarzani berbenah. Ia persiapkan lahan untuk membaringkan tubuhnya. Rumput-rumput hijau sebagai alasnya dan ilalang sebagai selimutnya. Sampai sekarang Tarzani masih belum mengerti, kenapa dirinya tak dimangsa oleh hewan-hewan buas itu? Ia sudah melewati lembah yang konon katanya tempat hewan buas bersarang. Selain mengambil air untuk minum, di sana, ia juga menyempatkan dirinya untuk membersihkan tubuh dan pakaiannya.

Semenjak tiga tahun silam, kabar tentang hewan buas yang suka menyerang itu memang meredup. Penduduk mulai memberanikan diri membabat hutan untuk dijadikan lahan baru, karena ladang yang mereka miliki sebelumnya sudah dijual ke orang kota untuk membiayai anak sekolah dan biaya ke rumah sakit.

“Ke mana hewan-hewan itu? Kalau mereka tak ada, siapa yang akan menjaga hutan ini?” bisik Tarzani dalam hati.

Hingga datang ilham ke dalam pikirannya: kenapa sekarang tidak aku saja yang menjaga hutan ini? Bagi Tarzani, itu merupakan ide yang sangat bagus.

Tarzani menutup matanya. Menikmati jeritan jangkrik, kereket suara dahan yang tertimpa angin, hingga belaian kabut yang menyapanya. Tarzani menangis, dengan suara perlahan.

Lama-kelamaan tangisan Tarzani semakin kencang. Ia sengaja melakukan itu, agar seluruh alam mendengarnya. Tangisan Tarzani pun membangunkan hampir seluruh penduduk desa, termasuk kedua orang tuanya.

Di atas kasur yang tertutupi selimut, penduduk desa sedikit membuka matanya, mendengar tangisan itu dengan merinding, namun tak ada yang berani untuk angkat bicara.

Keesokan harinya, tidak ada yang bercerita tentang tangisan itu. Hampir semua penduduk mendengarnya, tapi semua orang pun takut untuk menceritakannya.

*)Digubah dari cerita rakyat kaki Gunung Wayang.

Bandung, 2017

Tuliskan Komentarmu !