Perempuan di Mata Hamka

Judul buku      : Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit           : Gema Insani

Tahun terbit     : 2014

Tebal buku      : 136 halaman: 18,3 cm

Karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau dikenal akrab dengan sebutan Buya Hamka ini merupakan karya yang ciamik. Dalam buku ini, Hamka menguraikan bamaimana Islam sangat memuliakan perempuan, menyajikan kritikan lembut terhadap gerakan feminisme, dan membantah tuduhan para feminis dan orientalis yang menyatakan bahwa Islam memperlakukan perempuan tidak adil, yaitu perempuan yang selalu ditindas dan senantiasa menjadi sub-ordinat kaum adam.

Dalam memperkuat argumennya, Hamka menyertakan dalil dari Al-Quran dan As-sunnah. Selain dari itu, beliau juga berkaca pada sejarah Rasulullah, para sahabat beserta generasi yang shaleh.

Berlandaskan pada Q.S An-Nisa ayat 1, bahwa diri manusia pada hakikatnya adalah satu (Adam), kemudian diciptakanlah pasangannya (Hawa), lalu dari keduanya melahirkan manusia-manusia baru yang ada hingga saat, dan kita adalah salah satu di antaranya. Sadar atau tidak, dalam ayat ini dipadukan antara jantan dan betina, laki-laki dan perempuan. Meski terpisah, hakikatnya adalah satu, laki-laki dan perempuan mempunyai kewajiban bertakwa pada Allah dan senantiasa banyak membaca Al-Quran serta memaknainya.

Selain itu, bukti Islam memuliakan perempuan ialah banyaknya perempuan terhormat dan mulia termaktub dalam Al-Quran, seperti Siti Khadijah, Maryam bunda Isa, Ibunda Nabi Musa, Siti Sarah istrinya Nabi Ibrahim, Asiyah istri Fir’aun, dan masih banyak lagi. Mereka dipandang mempunyai bagian yang sama dengan laki-laki, yakni memikul tanggungjawab beragama, mengokohkan aqidah dan ibadah sehingga timbullah ilham perjuangan pada tiap-tiap dirinya.

“Jika perempuannya baik, baiklah negara. Dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk.” (Halaman 15)

Bila melihat pada pernyataan di atas, begitu beratnya tugas seorang perempuan. Perempuan taat adalah yang menjaga aib keluarga. Jika suami diibaratkan pemimpin, maka isterilah sekretarisnya. Tugas suami memimpin jalannya organisasi rumah tangga, sedang istri pemegang rahasia rumah tangga. Istri juga bagai bendahara yang mengatur pendapatan suami untuk kehidupan sehari-hari.

Agar mewujudkan harmonisasi dalam keluarga, laki-laki dan perempuan haruslah saling mengerti. Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, yakni sama-sama dalam membangun amar ma’ruf nahyi munkar. Bukan pertanda perempuan bekerja keras banting tulang layaknya laki-laki. Sungguh, perempuan mendapatkan harga diri.

Hamka juga menyajikan kisah Rasulullah dengan puterinya. Rasul begitu memuliakan anak perempuan. Rasul tidak segan mencium anak perempuannya disaat orang-orang Jahiliyyah memandang jijik perilaku tersebut. Bagi Rasul, anak perempuan adalah kembangnya kehidupan seorang ayah.

Selain melakukan kritikan pada kaum feminisme, Hamka pun membantah tuduhan kaum Orientalis yang mendiskreditkan Islam dalam kajiannya. Hamka mewanti-wanti, jika ingin mempelajari Islam, haruslah dari sumber aslinya, bukan orientalis. Salah satu perkara yang sering kali digunakan kaum orientalis dalam menyerang Islam adalah masalah waris.

Menurut kaum orientalis, perempuan tidak ada hak dalam waris kecuali faktor kasihan. Padahal jelas-jelas, dalam Al-Quran surat An-Nisa, perempuan berhak menerima waris. Al-Quran telah menegaskan bagian-bagian yang berhak diterima oleh alhi waris, baik laki-laki maupun perempuan (Furudh Muqaddarah). Bagian-bagian yang telah diatur bukan atas faktor kasihan. Di antara furudh muqaddarah atau bagian yang bisa didapatkan oleh perempuan ialah bagian 1/2, 1/4, 1/3 1/8, 2/3, 1/6 menurut syarat ketentuan yang berlaku.

Buku ini layak dibaca bagi semua khalayak, terutama oleh kaum perempuan agar menyadari bahwa begitu dimuliakan seorang perempuan, begitu istimewanya seorang perempuan, begitu banyak tugas yang perlu diemban oleh seorang perempuan. Perempuan pendorong kesuksesan seseorang, dan yang terpenting, agar manusia menyadari bahwa tidak perlulah ada kesangsian lagi akan keadilan Islam terhadap perempuan, sehingga tidak ada seorang manusia yang merasa menyesal menjadi perempuan.

Tuliskan Komentarmu !