Perempuan dalam Bingkai Sejarah

perempuan dalam bingkai sejarah
Sumber gambar: jadberita.com

SAVANA- Penilaian terhadap seorang wanita tentu saja akan berbeda, tergantung dari latar belakang, agama maupun budaya. Mengetahui posisi serta kedudukan wanita pada tiap-tiap norma serta nilai suatu bangsa, budaya maupun ajaran merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diketahui, sebab darinya kita akan mengetahui betapa mulianya kedudukan seorang wanita dalam pandangan Islam.

Jika menelisik jauh beberapa masa ke belakang, tercatat adanya pandangan dan perlakuan buruk terhadap sosok perempuan di beberapa komunitas kesukuan dan fanatisme suatu ajaran.

Misalnya saja perempuan di kehidupan Bangsa Yunani Klasik, perempuan tidak diberikan hak untuk mendapatkan pendidikan, terlebih untuk ikut andil dalam berbagai bidang kehidupan publik. Atau dalam anggapan Romawi Kuno, bahwa wanita merupakan makhluk yang tidak memiliki kekuasaan dan kapasitas dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Bahkan lebih mirisnya lagi, perempuan boleh diperjual-belikan oleh kepala keluarga atau orang yang memiliki kuasa dalam keluarga.

Kemudian Bangsa Yahudi menganggap wanita sebagai penyebab utama diturunkannya Adam dari surga ke bumi. Perempuan dianggap sebagai laknat dan kutukan, dan pada kondisi tertentu, sang ayah memiliki kekuasaan mutlak untuk menikahkannya dengan laki-laki yang dikehendakinya, siapa pun itu.

Kondisi wanita India Kuno jauh lebih memprihatinkan dibandingkan dengan wanita bangsa lain. Di India ada undang-undang yang bernama Mano, yang menetapkan bahwa wanita sepanjang hidupnya harus berada di bawah pengawasan dan kekuasaan kaum pria, mulai dari ayah, suami dan anak. Menurut Bangsa India, wanita adalah sumber petaka, kehinaan dan merosotnya eksistensi bangsa.

Bagi para pengkaji sejarah dan aliran-aliran kepercayaan terdahulu, mungkin sudah tidak asing lagi mendengar informasi terkait sembahan-sembahan yang melibatkan wanita sebagai objek ritual pengurbanan dalam sebuah persembahan kepada Tuhan. Dalam hal ini, wanita tak ubahnya binatang yang tidak memiliki nilai.

Adapun kedatangan Islam menjadi penyelamat bagi perempuan. Islam membela perempuan ketika masyarakat Jahiliyah menganggap perlu mengubur bayi wanita hidup-hidup. Menurut mereka, anak perempuan adalah pertanda kefakiran, perempuan hanyalah beban nafkah bagi laki-laki, sehingga mereka khawatir jatuh miskin jika membesarkan anak perempuan. Maka dari itu, mengubur anak perempuan hidup-hidup dianggap sebagai solusi terbaik untuk melepaskan diri dari kesengsaraan.

Stigma-stigma negatif dan pandangan rendah terhadap perempuan masih terasa dari waktu ke waktu dan menjelma dalam beberapa bentuk hingga hari ini. Meskipun Islam telah berhasil menghapuskan perlakuan buruk terhadap kaum perempuan, tak dapat dipungkiri, pandangan-pandangan yang menilai rendah kaum wanita masih bersisa. Sehingga tak aneh, pada masa ini muncul gerakan-gerakan perempuan untuk disejajarkan dengan lelaki yang pada realitanya, malah membawa perempuan pada kondisi memprihatinkan lainnya.

Islam menaruh wanita dengan segala kelembutannya di tempat yang seharusnya ia berada, serta menaruh laki-laki dengan segala keberaniannya di tempat seharusnya ia berada. Perempuan dan laki-laki dijadikan sama oleh Islam, hanya saja pada tataran praktis selanjutnya, Islam membedakan peran sesuai dengan kodratnya masing-masing.

Pembedaan peran laki-laki dan perempuan tidak menyangkut derajat hina atau mulia, rendah atau tinggi, melainkan bagaimana seorang perempuan atau laki-laki berada di posisinya sesuai dengan fithrah yang Allah s.w.t tetapkan pada diri mereka masing-masing. Perbedaan peran tersebut tidak bisa dianggap sebagai penindasan atas kaum perempuan. Justru perempuan dikatakan mulia setelah mengoptimalkan peran yang sesungguhnya.

Perempuan amat diperbolehkan untuk belajar dan mengemukakan pendapat, serta turut berkontribusi dalam ranah sosial. Sejak kemunculan Islam, kita banyak mengenal tokoh-tokoh perempuan yang memiliki karya serta kontribusi luar biasa. Seperti Aisyah r.a yang dijadikan rujukan fikih dalam hukum Islam, serta ulama perempuan lainnya, seperti Fatimah as-Samarqandi yang kedudukannya memiliki pengaruh besar bagi masyarakat pada saat itu.

Kita juga tak menafikan kontribusi perempuan tanah air seperti Dewi Sartika pendiri sekolah kautamaan Istri, Rohana Kudus sebagai jurnalis negeri wanita pertama, Malahayati sebagai wanita pertama yang menjabat panglima Angkatan Laut Aceh, Teungku Fakinah sebagai ulama-wanita, Cut Nyak Dien, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan dan jajaran pahlawan perempuan lainnya yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Sehingga klaim-klaim keterbelakangan wanita memang harus segera digugurkan. Allahu a’lam

Baca Juga: Emansipasi, Kartini dan Kekuatan Perempuan

Tuliskan Komentarmu !