Perbekalan Menuju Halal

Judul buku      : BAHTERA – Bekal Para Pejuang Halal

Penulis             : Dr. Roni Nugraha

Penerbit           : FAZ Publishing

Tahun terbit     : 2017

Tebal halaman : 288 halaman

Pernikahan merupakan proses peleburan rasa dari ‘aku’, ‘kamu’, menjadi ‘kita’. Pernikahan merupakan hal yang begitu sakral, makanya butuh perencanaan yang benar-benar matang.

Pernikahan bukan hanya mengubah status single menjadi couple, melainkan make a plan and create the best future people, karena pernikahan bukan hanya untuk sehari atau dua hari, satu bulan atau dua bulan, tapi untuk berjuta bahkan miliaran periode.

Novel Bahtera (Bekal Para Pejuang Halal) karya Dr. Roni ini merupakan salah satu upaya agar penikahan yang begitu sakral tidak berakhir mengenaskan. Seperti biasa, Dr. Roni senantiasa menyajikan latar pendakian dalam novelnya, seolah membuat insan-manusia terbawa dalam nuansa alam untuk perenungan.

Sebagaimana yang telah diungkap dalam pengantar novelnya, ragam renungan kadang menyeruak ke permukaan, seolah lava pijar yang begitu kuat ingin menghantam kelaziman yang dianggap telah menjauhkan anak manusia dari tujuan hakiki pernikahan. Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Slamet menjadi latar percakapan antar anak manusia di seputar pernikahan.

Awal mula menyelami bagian ‘Medan Cinta’, banyak renungan yang Dr. Roni sampaikan sebagai pengingat. Bukan renungan abal-abal, melainkan berlandas pada kitab suci yang mutlak akan kebenarannya. Selain itu, dijelaskan pula makna-makna dari tiap kata dalam Al-Quran, lengkap dengan maktub-an suratnya. Seperti misalnya perbedaan kata mar’at dengan nisa; mar’at dikaitkan dengan kata mir’ah (cermin) dan seringkali merujuk pada perempuan dalam hal sensualitasnya, sedang nisa dalam hal kelembutannya.

Pada Medan Cinta, ditemukanlah tujuan yang hakiki daripada pernikahan. Pernikahan diadakan untuk siap mencetak generasi Qurani. Pada bagian ini pula dijelaskan bahwa tujuan dari pernikahan bukan hanya sekedar untuk penyaluran birahi atau memperbanyak keturunan semata.

Tujuan pernikahan harus menjadi barometer agar mampu menjalankan bahtera rumah tangga hingga akhir sampai pada alam keabadian dalam keadaam selamat. Tujuan daripada pernikahan ialah sebagaimana tujuan dari manusia hidup di muka bumi ini. ‘Keselamatan’, ya untuk keselamatan. Keselamatan apa? Untuk keselamatan di dunia dan di akhirat.

Dalam Medan Cinta juga, ditemukan pula kriteria-kriteria calon pasangan yang diambil dari hadits Rasulullah s.a.w yang diracik begitu halus oleh penulis sehingga pembaca dapat memahami. Perempuan dinikahi atas 4 perkara: karena harta, kecantikan, nasab, dan agama.

Diterangkan, alasan terakhir haruslah menjadi pilihan agar tidak rugi yang datang melanda. Bahkan ada penjelasannya pula mengenai pernikahan beda agama, soal warits-mewaritsi pun ada.

Sabana Cinta, mempertemukan kata-kata yang tidak asing bagi segelintir orang. Seperti ta’arufan dan khitbahan. Ada penjelasan mengenai keduanya. Ta’aruf seringkali disalah-artikan oleh segelintir orang alias pacaran dengan balutan yang diarabkan. Sedang khitbahan ialah mengikat pasangan agar tidak dimiliki orang lain.

Tapi kadang khitbah disalah-artikan pula oleh segelintir orang. Bila sudah khitbah, maka bebas jalan berdua, ngobrol berdua, segalanya berdua; padahal khitbah belumlah tersampai akad yang sah.

Pada bagian ini pula dijelaskan mengenai berkah dari pernikahan. Senantiasa orang mendo’akan ‘Semoga keberkahan senantiasa menyertai kalian’. Berkah di sini dikatakan semisal Birkah yang berarti sumur, yang setiap kali ditimba senantiasa airnya bertambah.

Suami yang mencari rezeki dengan cara yang halal, ia senantiasa memperoleh hasil walau tidak seberapa. Hasilnya dinafkahi. Usaha suami tersebut itulah kebaikan pertama, yakni bekerja halal dan tambahan kebaikanlah yang disebut dengan barokah. Jadi dengan menikah, keberkahan akan senantiasa hadir.

Sinyal Cinta menyematkan agar senantiasa tabayyun pada calon mempelai dan haruslah segera berani menemui kedua orangtuanya untuk meminang. Sekecil apapun sinyal, harus dimanfaatkan agar pesan senantiasa tersampaikan.

Sinyal Cinta mengisahkan pula kisah suami istri yang tak kunjung diberi momongan. Sebagai seorang perempuan, tentulah senantiasa hadir perasaan was-was bila keluarganya belum juga diberi momongan, melirik perempuan lain dan segera berpaling darinya.

Ada amanat yang terkandung dalam kasus ini, tentulah seorang hamba harus memasrahkan diri apa pun yang telah diusahakannya, karena bagaimana pun Allah yang akan menentukan; Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Dalam kisah ini, penulis mengambil kisah Nabi Zakaria yang belum punyai keturunan hingga tuanya, atas kasih Allah, Zakaria pun dikaruniai anak yang menjadi penerus para Nabi pula.

Dermaga Cinta mengajarkan bahwa saat ikrar akad dikumandangkan, saat itu pula seorang suami-istri akan belajar memahami. Pernikahan adalah sekolah untuk saling memahami.

Terkadang, budaya senantiasa menghambat seseorang melakukan pernikahan. Contohnya walimah yang kadang ingin mewah. Hal sederhana menjadi urgent ketika biaya walimah senantiasa dibahas. Jadinya batal nikah karena biaya walimah yang semakin tahun semakin melonjak harganya. Padahal, Nabi hanya menganjurkan walimah sebagai bentuk rasa syukur, bukan untuk menjadi kufur.

Dalam pernikahan, terkadang senantiasa hadir ombak badai penghancur karang. Bagaimana cara agar karang tetap kokoh walau sering badai hadir menerpa? Rasanya patut berkaca pada Bunda Khadijah, tersaji dalam novel ini dengan bagian Powerbank Cinta.

Keimanan, tabayyun, senantiasa berkomunikasi, agaknya menjadi ‘Powerbank Cinta’ yang akan terus menghadirkan cinta pada setiap detik hadirnya.

“Kehidupan dunia itu bagaikan laut lepas, sungguh telah banyak manusia yang karam ditelan amuk gelombang. Buatlah perahu Ketakwaan, berbahankan Iman, berlayarkan Tawakkal, agar kalian selamat”. –Lukmanul Hakim-

Kutipan Lukman di atas, bisa menjadikan dasar penguat bagi para pejuang halal yang akan membangun biduk rumah tangga.

Dr. Roni berhasil membawa pembaca ke alam Bahtera yang dibuatnya. Renungan-renungan yang dibuat berhasil menusuk qalbu. Menyajikan tafsiran-tafsiran Quran dan Hadits yang diracik begitu ciamiknya, sehingga pembaca mudah memahaminya.

Membaca novel Bahtera tidak hanya asal membaca saja, pembaca akan merasakan sensasi belajar Ilmu Quran Tafsir rasanya. Buku Bahtera ini cocok dibaca bagi kaum muda-mudi yang hendak menikah, pada waktu dekat atau pun sedikit dekat. Bisa menjadi bekal untuk melaksanakan mahlighai rumah tangga nanti pula.

Tuliskan Komentarmu !