Perbedaan Agama: Jangan Melulu Dijadikan Alasan untuk Saling Membenci

Sumber gambar: Hipwee.com

SAVANA- Mendengar berita akhir-akhir ini mengenai pemotongan salib di salah satu makam Yogyakarta, kontroversi baliho I Love Jesus Because Jesus is Moslem di Cilacap,  pelarangan rumah ibadah di Desa Cikahuripan Bogor karena tidak memiliki izin, penolakan simbol salibisasi di Balai Kota Solo, sungguh membuat saya prihatin. Pasalnya, saya tak henti-hentinya mempertanyakan keimanan saudara-saudara saya semuslim.

Bagaimana mereka bisa membela Tuhan kami -umat muslim biasa menyebut Allah s.w.t- sebegitu kuatnya? Apa yang mereka yakini? Bagaimana mereka merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Selain itu, kapan saya bisa seperti mereka -jikalau memang tingkat keimanan diukur dengan cara ngotot seperti itu- sedangkan saya sendiri masih dalam tahap mencari kasih Tuhan?

Perkenalkan, saya seorang perempuan sudah mengenakan hijab sekitar 9 tahun ini. Beberapa tahun terakhir saya  merasa jauh dari Tuhan, tersesat bahkan. Saya membiarkan Al-Qur’an mematung di rak hingga menjamur, beberapa kali membatalkan puasa Ramadan hanya karena lapar dan haus, tak terhitung berapa kali meninggalkan solat wajib, bahkan sempat menganggap Tuhan itu fiktif. Tak memungkiri, meninggalkan ritual ibadah agama membuat hidup saya jadi berantakan. Tetapi, pada saat itu saya juga malas berdoa. Toh saya sudah meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada. Mau berdoa kepada siapa?

Suatu ketika, ada keajaiban yang membuat saya sadar. Sekian lama perjalanan saya menjauhi Tuhan, dengan kasih-Nya Tuhan memeluk saya kembali. Saya merasa bersyukur sekaligus malu. Bagaimana bisa Tuhan memberikan kesempatan kepada hamba-Nya yang jelas-jelas sudah menyepelekan-Nya?

Di tengah konflik batin, suatu hari saya bertemu dengan seorang ibu pemeluk agama Katolik. Meskipun perkenalan kami terbilang singkat, entah kenapa saya berani cerita ke beliau mengenai kegundahan saya.

“Selesai shalat, saya sering bengong, Bu. Kadang saya ucapkan alhamdulillah sebagai wujud syukur. Namun, saya menahan untuk tidak berdoa. Takut lancang.” Saya luapkan betapa saya masih merasa belum pantas untuk berdoa, bahkan sesepele meminta keselamatan, rejeki, dan lain sebagainya. Saya merasa harus menerima hukuman atas kelalaian saya beberapa tahun terakhir. Saya  telah berdosa. Saya bahkan tidak pantas mendapatkan hidayah-Nya. Hemat pikir saya, ditunjukkan hidayah oleh Tuhan saja sudah lebih dari cukup, kok beraninya saya minta lebih?

Si ibu seakan memahami kegelisahan saya, kemudian menjawab, “kenapa harus malu? Tuhan itu Maha Pengampun dan Penyayang kok, Mbak. Kamu nggak berdoa aja Tuhan paham apa yang bergejolak di hati kamu. Nggak papa, apa yang terjadi padamu kemarin juga kehendak Tuhan.”

Beliau kemudian bercerita pernah mogok ke gereja selama 40 hari lamanya, marah karena Tuhan mengambil suaminya. Akhirnya, beliau terpaksa datang ke gereja karena paksaan ‘halus’ saudara: datang saja, duduk, tak perlu ibadah jika memang masih marah pada Tuhan. Benar saja, sesampainya di gereja beliau sengaja duduk paling belakang, tidak ikut beribadah, hanya menggerutu.

“Entah kenapa, hari itu kok ceramah Romo terkesan menyindirku. Aku tersinggung Romo mengucapkan selamat kepada orang-orang yang bisa marah kepada Tuhan. Selesai ibadah aku menghampiri romo secara personal.” Si ibu melanjutkan ceritanya, “Melihat aku marah-marah, Romo justru tersenyum dan menjabat tanganku sembari mengucapkan selamat. Kata Romo, orang yang bisa marah pada Tuhan justru kepekaannya terhadap Tuhan meningkat. Romo mengatakan bahwa ketika aku marah karena Tuhan mengambil suamiku, aku menyadari bahwa apa yang terjadi di kehidupanku ini digerakkan oleh Tuhan. Aku lebih bisa merasakan kehadiran-Nya. Aku marah itu pun atas kehendak-Nya. Jadi, perasaan marahpun perlu disyukuri.”

Saya masih mendengarkan beliau dengan seksama. Beliau melanjutkan, “Sejak itu, aku belajar menjaga komunikasi dengan Tuhan, apapun kondisiku. Belajar bersyukur kuncinya. Karena aku Katolik, caraku beribadah adalah dengan menjalankan ritual agamaku: beribadah ke gereja, merayakan hari besar Katolik. Kamu pun juga begitu. Kamu bisa ungkapkan syukurmu dengan shalat, puasa, mengaji, dan menolong orang lain.

“Meski pun kamu masih sulit khusyuk dalam shalatmu, tetap berdoa saja, Mbak. Nggak perlu malu. Apapun kondisimu, Tuhan mengetahui isi hatimu. Aku juga begitu, lho. Bahkan, semisal aku sedang marah, ya aku bilang pada Tuhan aku marah, aku berusaha jujur dengan kondisiku sendiri. Kok lama-lama perasaan marah itu luntur sendiri tuh, Mbak. Semisal aku sedang capek, ya aku pamit ke Tuhan. Tuhan, aku nggak ke gereja dulu ya, hamba sedang capek. Yang penting aku tetap komunikasi toh? Kan sudah pamit?”

Kami tertawa. Menertawakan kepolosan kami sebagai hamba Tuhan. Dan juga menertawakan sifat manusiawi dalam diri kami. Tak terbesit perasaan benci sedikit pun dalam benakku kepada ibu ini. Tak ada niatan untuk mengkafirkan beliau atau menyebutnya seseorang yang buruk hanya karena beliau bukan seorang muslim sepertiku.  Meskipun kami berbeda agama, nyatanya, kami bisa saling mengingatkan tentang Tuhan.

Saya tertegun. Ternyata, bukan saya saja yang merasakan gejolak hubungan dengan Tuhan. Bukan saya saja yang mengalami pasang surut iman. Selama ini yang sering saya dengar dan lihat, orang-orang sering terjebak pada perbedaan istilah Tuhan yang  disembah. Yang ujung-ujungnya menimbulkan perdebatan, perpecahan, bahkan penindasan terhadap pemeluk agama minoritas.

Jarang sekali saya mendengar kisah-kisah perjalanan spiritual seseorang terkait agamanya masing-masing. Apakah saudara-saudara muslim saya yang ngotot tersebut tidak mengalami pasang surut iman sepertiku dan ibu pemeluk agama Katolik ini, ya? Atau malah wujud beriman mereka dibuktikan dengan cara ngotot seperti itu?

Bukankah pengalaman spiritual seseorang sifatnya individual, apapun agamanya? Lalu, untuk apa merasa diri paling benar dan paling beriman membela Tuhan? Bukankah Tuhan hadir pada diri kita dengan kelembutan-Nya, mengapa kita sebagai hamba justru bersikap kasar terhadap sesama makhluk-Nya? Mengapa perbedaan menjadi alasan untuk saling membenci, padahal sesama manusia kita bisa saling menyayangi?

Tuliskan Komentarmu !