Penjaga Perpustakaan

(ilustrasi/google)

 Burung, serangga, angin, air, dan kenangan tak henti berirama. Burung-burung kecil bersiulan mengitari hamparan hijau di tepian sungai. Gemercik air menyuguhkan melodi klasik yang memesona. Suaranya menyejarah, melintasi banyak zaman umat manusia. Bening airnya menyegarkan pandangan, deras lajunya menciptakan berjuta imaji di dalamnya.

Di pelataran kota, taman-taman segar tersusun rapi mengitari pemukiman warga. Jika dilihat dari atas, tampak seni holtikultura begitu semarak menghiasi sudut-sudut perkotaan. Semerbak aroma bunga dan gemercik irama air menjadi kolaborasi maha indah karya seni monumental zaman ini. Baghdad menjadi tuan rumah keindahan eksklusif karya Abbasiyah. Dunia menjadi saksinya.

Di bawah lembayung senja, remaja itu duduk termenung menghadap sungai. Pandangannya lekat pada satu objek. Aliran sungai Tigris membuat kedipan matanya bergerak lamban. Entah berapa ribu kubik air melintas di  hadapannya, ia tidak juga beranjak. Tertegun lama untuk sesuatu di balik derasnya Tigris, ia bak seorang filsuf sekaligus saintis yang mengamati alam dengan pemikiran mendalam.

Remaja itu bernama Faqih bin Khazin. Anak dari salah seorang penjaga perpustakaan Bayt Al-hikmah itu telah menghabiskan masa remajanya di dalam perpustakaan. Ia banyak menjamahi buku, mengakrabi huruf-huruf, dan bermesraan dengan karya-karya fenomenal semacam Republik karya Plato maupun karya sastra Arab seperti Aghani dan Siraj al-Muluk karya al-Thurthusyi.

Bayt Al-hikmah yang dibangun pada awal abad ke-9 masehi telah banyak memengaruhi minatnya terhadap sebuah bacaan. Terlebih, ia memang tumbuh di lingkungan pecinta ilmu.

Ayahnya sebagai seorang penjaga perpustakaan banyak memberikan motivasi kepadanya untuk membaca apa pun, baik karya yang lahir dari rahim intelektual muslim, maupun karya-karya terjemahan yang berasal Yunani dan bangsa lainnya.

Bayt Al-hikmah telah menjadi pusat aktivitas kaum intelektual. Selain berfungsi sebagai perpustakaan, di zaman Al-Ma’mun, Bayt Al-hikmah pun berfungsi sebagai akademi dan biro penerjemahan. Era penerjemahan oleh Dinasti Abbasiyah berlangsung sejak 750 masehi. Begitulah cerita yang didengar Faqih dari ayahnya.

***

Sembari membersihkan beberapa buku yang mulai tebal dengan debu, Faqih berbincang santai dengan ayahnya. Ia selalu penasaran dengan paparan sang Ayah tentang kekhalifahan, terutama soal perkembangan literasi.

“Dulu, buyutmu juga menjaga perpustakaan ini. Ia banyak cerita soal penerjemahan besar-besaran yang dilakukan Khalifah Harun Ar-rasyid dan Al-Ma’mun. Katanya, orang-orang selalu kelihatan sibuk dengan buku,” jelas Khazin.

“Katanya, para penerjemah dijamin hidupnya?” tanya Faqih penasaran.

“Penghargaan terhadap para penerjemah sebanding dengan apa yang mereka kerjakan. Khalifah Al-Ma’mun misalnya, ia membayar para penerjemah dengan emas seberat buku yang diterjemahkan. Contohnya Hunayn yang mendapat bayaran 500 dinar per bulan, begitu kata buyutmu,” paparnya.

“Soal para penerjemah, Al-Ma’mun dikenal sebagai khalifah yang mengirim utusan hingga ke Konstantinopel—langsung kepada Raja Leo dari Armenia, untuk mencari karya-karya dari Yunani1. Ia berani meminta karya-karya dari bangsa musuh sekali pun. Inilah yang harus kita ambil pelarajannya, Nak,” lanjutnya sembari membantu anaknya merapikan tumpukan buku tebal.

“Baiklah, Ayah, aku pun pernah membaca bahwa pada masa Al-Ma’mun pengaruh Yunani itu cukup kuat. Kecenderungan rasionalistik khalifah dan para pendukungnya dari kelompok Mu’tazilah menyatakan bahwa teks-teks keagamaan harus bersesuaian dengan nalar manusia. Hal itulah yang mendorongnya untuk mencari pembenaran bagi pendapatnya itu dalam karya-karya filsafat Yunani,” papar Faqih lugas.

Selain Yunani, peradaban lain yang banyak berpengaruh pada pembentukkan budaya universal Islam Persia adalah budaya India. Seorang pengembara India memperkenalkan naskah astronomi ke Baghdad dengan judul Siddhanta, itulah buku yang kemudian diterjemahkan oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari dengan judul Sindhind.

Percakapan terasa semakin hangat saat mereka menemukan buku terjemahan berjudul Sindhind dalam susunan buku-buku tebal di dalam rak.

“Al-Fazari, yang kemudian menjadi astronom Islam pertama, memberikan inspirasi yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan umat di masa yang akan datang. Semoga kau mewarisinya, Nak.”

“Ayah ingin aku menjadi seorang astronom?”

“Jadilah dirimu sendiri. Di masa yang akan datang, tantangan dakwah akan semakin berat. Berbuatlah yang banyak untuk masa depan. Bukan untuk masa depan diri dan keluargamu saja, melainkan untuk masa depan umat ini.”

Tetiba sang Ayah menitikkan air mata.

“Ayah, kenapa?”

“Ayah sedih dengan nasib kekhalifahan kita saat ini. Perpecahan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Keturunan Jengis Khan berusaha menginvasi negeri Islam. Namun sebenarnya bukan itu sebab utama kehancuran peradaban ini. Kau ingat bagaimana pasukan muslim kalah oleh kafir Quraisy pada perang Uhud?”

“Iya ingat, Padahal mereka cukup menahan syahwatnya beberapa  menit saja untuk mendapatkan kemenangan yang sudah di depan mata,” jawab Faqih menerawang buku bacaan tarikh yang ia tamatkan beberapa tahun lalu.

“Belajar dari perang Uhud, Ayah bisa simpulkan, kalau Bangsa Mongol dan musuh Islam yang akan menghancurkan kita, hanyalah serangan pamungkas setelah sebelumnya kehancuran itu kita mulai sendiri,” ungkap Ayahnya.

Faqih bergeming, ia tengah merenungkan sesuatu.

Zaman terus berubah dan tantangan terus memodifikasi jalannya. Namun, ilmu pengetahuan selalu mampu membacanya. Hanya itu prinsip yang dipegang Faqih saat menyadari amat bobroknya bangunan kekhalifahan.

“Masa keemasan selalu ditandai dengan pertentangan dan kemenangan. Selalu, kebenaran berhadapan dengan kejahatan. Ayah menyebut semua berasal dari dalam.

“Dan aku ingin tahu, pada saat kehancuran itu dimulai, siapa sebenarnya yang memperjuangkan kebenaran, dan siapa yang menginginkan kehancuran. Siapakah dari dalam itu yang tampil sebagai pengkhianat? Karena menurutku, setiap kehancuran selalu melahirkan para pengkhianat di dalamnya,” ujar Faqih dengan fasih.

“Faqih! Kita harus pergi dari tempat ini sekarang juga!” seru Ayahnya.

Faqih terperanjat dari lamunannya. Suara Ayahnya terdengar sangat keras dan menegangkan.

“Cepat pergi!!” Khazin mendorong anaknya untuk segera meninggalkan perpustakaan.

“Tapi Ayah …,” Faqih enggan beranjak.

“Cepat!” sergah Khazin.

Api telah menjalar ke seluruh ruangan perpustakaan. Merahnya menjilat-jilat. Lembaran kertas tampak beterbangan luluh lantak dilahap panasnya.  Faqih bersama Ayahnya terjebak di dalam. Tidak ada lagi jalan keluar bagi keduanya dari bagunan megah itu.

Semua terjadi dengan sangat cepat. Serangan tentara Mongol telah menghancurkan segalanya. Tidak ada yang tersisa selain darah dan abu yang menyatu kemudian mengalir di sungai Tigris.

Ayah, aku selalu berharap, agar umat ini di masa yang akan datang tetap memegang teguh imannya, mencintai ilmu pengetahuan, dan berjuang demi kejayaan yang pernah bangsa kita alami selama ratusan tahun.

Terima kasih, Ayah, karena dirimu telah membuat darahku menyatu dengan tinta hitam para ulama. Biarkan jasadku mengalir bersama lembaran-lembaran itu di sungai Tigris ini. Semoga kelak, umat Nabi Muhammad mengambil pelajaran berharga dari jalan cinta ini.

***

“BRRUUUK!”

Pukulan benda tumpul mendarat tepat di belakang kepalanya yang sejak tadi ia topang dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk membalikkan setiap lembaran buku Sejarah Kebudayaan Islam.

“Buset! Napa, sih, Run?!” Faqih langsung membalikkan badannya sambil mengusap kepala bagian belakang. Ia tahu, Harun sedang mengusilinya.

“Ente ngelamun apa kesurupan, sih?!” Harun terbahak menikmati ekspresi protes dari wajah Faqih.

“Wah, ente parah, Run!” sahut Faqih. “Kagak pengertian banget sama sahabat, ckck.”

“Ente baca apa lagi, sih?” tanya Harun sambil merapikan beberapa buku yang baru saja kembali ke perpustakaan. Harun cukup tahu kebiasaan rekan kerjanya itu saat membaca buku.

“Gile, Run! Ane baru aja balik dari Baghdad! Sayangnya, ane harus merasakan detik-detik kehancuran Bayt Al-hikmah—perpustakaan yang paling megah di zaman itu, saat diserang pasukan Mongol,” tutur Faqih dengan penuh semangat.  Sementara Harun hanya mengangguk-angguk.

“Tapi yang paling berkesan, Run, semangat orang-orang di zaman itu untuk mencecap berbagai ilmu pengetahuan. Hmm, ane jadi ngebayangin … kalau  aja semangat intelektual di zaman Khalifah Harun Ar-rasyid masih ada di zaman sekarang … pasti akan luar biasa jadinya!” ujar Faqih.

Harun terkekeh mendengar cerita Faqih. Ia sudah terbiasa dengan berbagai celotehan Faqih saat terlalu asik menikmati sebuah buku.

Harun menengok sekilas ke arah meja. Ia memicingkan matanya dan mengeja sebaris tulisan dalam hati, Kekuasaan Daulah Abbasiyah.  Harun tersenyum kemudian menggeleng.

“Qih, beli makan atau ngopi dulu, gih. Perpus biar ane yang jaga dulu,” ujar Harun.

“Iyee … iyee …,” sahut Faqih. “Lagian siapa yang mau dateng ke perpus yang isinya cuma buku-buku sejarah kayak gitu,” Faqih menunjuk buku Sejarah Kebudayaan Islam yang baru saja dinikmatinya.

Harun hanya terkekeh menanggapi tingkah laku Faqih yang tidak pernah berubah. Harun hanya perlu memastikan bahwa Faqih masih berpijak di masa kini. Itu saja.

 

Tuliskan Komentarmu !