Pemuda Pengikat Cinta (Bagian 2)

pemuda pengikat cinta
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Bandung, tahun ke sembilan,

Takdir Allah selalu menyelipkan keajaiban di tiap lembar goresan-Nya, bahkan dalam keajaiban sang cintapun, tak mampu hamba-Nya menerka. –Pertengahan Januari, 2017-

Tiga hari menuju prosesi khitbah, Januari ini menjadi bulan yang begitu mendebarkan bagi Alya, hari istimewa yang dinantikan para perindu armada rumahtangga. Dalam lamunannya, ia memandang jemarinya yang lentik kemudian tersenyum sendiri. Alya sudah tak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya mengenakan cincin di jarinya, sebuah tanda cinta yang terbingkai indah. Satu tahap menuju jalan dakwah yang lebih terjal, sebuah gerbang menuju kedewasaan. Dan terutama, menjadi seorang wanita seutuhnya. Ya Rabb, mampukan aku untuk menyempurnakan agama ini?

Suara telepon membuyarkan lamunan Alya, nama Ummi terpampang di layar telepon genggamnya. Akhir-akhir ini ummi sering menelpon Alya menanyakan kabar dan rencana khitbah. Dengan senyum yang terbingkai Alya mengangkat telepon dari umminya, “Assalamu’alaikum Ummi..”

“Wa’alaikumussalam, Alya kamu ada di mana?”

“Di jalan menuju indekos, Ummi. Ada apa?”

“Adam sudah memberi kabar belum?”

“Untuk hari ini belum, Adam belum menghubungi Alya. Memang ada apa, Ummi?”

“Pihak keluarganya membatalkan acara khitbah.”

Serupa petir, kabar dari Ummi memecah detak waktu. Alya terdiam lama tak menghiraukan sahutan suara Ummi di seberang sana. Linangan airmata bercampur rasa sakit membuat mulutnya tak sanggup berkata-kata. Alya menjauhkan telepon genggam agar isaknya tak terdengar Ummi.

“Ummi, nanti Alya telpon kembali ya! Assalamu’alaikum.” Alya bersender pada tembok di sisinya, menelungkupkan wajah pada jemarinya yang kaku. Jemari yang selalu dipandanginya kini basah oleh airmata. Membuyarkan semua lamunan indah Alya. Ia menangis di tepi jalan. Beberapa ekor mata melihat penasaran ke arahnya, namun tak dihiraukan Alya. Rabb, apa rencana-Mu di balik semua ini?

Ah, rupanya cinta masih enggan menyapa gadis lugu ini. Jika jodoh termasuk bagian dari rezeki, maka apa yang tidak Allah rezekikan, ia tidak akan didapat meski mengerahkan segala kemampuan.

“Allah..fashabrun jamiil, sabar itu indah, mungkin aku terlalu menyimpan harapan lebih pada manusia dengan keterbatasannya. Aku lupa bahwa sebaik-baik pengharapan itu adalah pada Allah, tempat bergantung hajat hamba-Nya. Maka, maafkan aku ya Rabb, jika diriku terlalu sering mengingat pada selain-Mu.” lirihnya dalam hati.

Tak butuh waktu lama untuk bangkit, Alya selalu percaya bahwa rencana Allah itu indah. Baginya, pernikahan impian terjalin karena bertemunya dua insan yang sejiwa, sebab keabadian cinta akan terlahir dari kecocokan jiwa dan keyakinan hati. Jika aku tak temukan separuh jiwaku pada Adam, maka aku akan mencarinya pada pemuda soleh lain.

Beberapa bulan berlalu, hari-hari Alya selalu dihiasi dengan lantunan ayat-ayat Allah, sebentar lagi ia akan menjadi seorang hafidzah, dan di bulan yang sama, kebahagiaan lain menyapa sahabatnya. Irma akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi. Ia memang sudah lama menjalin hubungan dengan seorang ikhwan yang usianya jauh lebih tua lima tahun, tak heran jika sahabatnya itu akan menikah terlebih dahulu.

Terakhir kali Irma memeluk erat Alya dan berkata “Aku tak ingin melepaskan pelukanku ini, Al. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini? Aku pasti akan merindukan kebersamaan denganmu.”

Alya pun membalas pelukan Irma dengan lembut. Ia merasa getaran tubuh Irma berbeda, ia sedang mencoba menahan diri untuk tidak menangis. “Aku juga, Ir. Semoga bisa terus jalin komunikasi, ya! Aku sayang kamu.” ucap Alya.

Tulus itu bukan hanya berpeluk dalam duka, namun ikut berbahagia atas kebahagiaan sahabat. Namun, di balik kebahagiaan Alya, ada sedikit rasa yang mengganggunya, rasa yang mengingatkannya pada lembaran lalu. Jujur saja, Alya merasa iri. Ia belum sepenuhnya melupakan Adam yang mengingkari janjinya untuk menikahi Alya. Luka itu masih membekas, meskipun Alya telah memaafkan lelaki tersebut. Namun, Alya tak ingin keegoisan hatinya menodai hari indah sahabatnya.

***

Bandung, tahun kesembilan

Guratan takdir-Nya nyata indah, tidak ada yang tak mungkin bagi kehendak-Nya. Langit lailatulqadar saksi pertemuan antara dua munajat kerinduan.

Langit sore bulan Ramadhan, menjadi waktu yang dinantikan anak-anak muda. Jika waktu sore telah tiba biasanya mereka pergi ngabuburit sambil menunggu adzan magrib dan pulang dengan membawa tentengan keresek hitam berisikan kolak atau jajanan lain. Pedagang kolak yang berjejer di pinggir jalan menjadi icon tersendiri di bulan Ramadhan. Tak berbeda jauh di malam harinya, dimana para pedagang pakaian mulai ramai membuka lapak di pinggir-pinggir jalanan desa untuk melakukan aksinya menyihir ibu-ibu agar membeli baju baru untuk lebaran nanti.

Berbeda dengan Alya, seperti Ramadhan sebelumnya, ia memilih untuk menghabiskan waktunya di Masjid Salman, sebuah Mesjid besar yang asri dan dikelilingi taman nan luas. Letaknya tepat di seberang kampus ITB, menjadikan masjid ini selalu ramai oleh mahasiswa-mahasiswi yang menyibukkan diri bertaqarrub kepada Allah. Imam-imam masjidnya pun memiliki suara yang sangat indah, jama’ahnya selalu berhasil dibuat terlena oleh kemerduan bacaan Imam. Beberapa agenda kajian pun sering diadakan oleh panitia masjid, membuat Alya ingin berlama-lama berada di masjid ini.

Alya membuka mushaf biru mudanya, ia membaca al-Qur’an bersama beberapa orang yang hadir sambil menunggu kajian dhuha. Riuh suara tilawah kala itu terasa sangat syahdu, menggema di seantero masjid yang sebagian besar arsitekturnya terbuat dari kayu jati. Pencahayaan remang dari masjid ini pun membawa nuansa sejuk bagi setiap orang yang melakukan ibadah di dalamnya, sehingga menambah kedekatan batin dengan sang Pencipta. Desain interior masjid dirancang untuk meredam intensitas matahari yang masuk sehingga tanpa kipas atau pendingin ruangan, hawa sejuk tetap terasa.

Bacaan al-Qur’an pun berhenti, rupanya pemateri telah hadir. Mata Alya terpaku pada sosok pemuda yang duduk di tengah-tengah mereka. Sosoknya begitu tak asing di ingatan Alya, pemuda yang beberapa bulan lalu berhasil ia lupakan kini hadir kembali di hadapannya. Degup jantung Alya kian tak menentu, ia tak bisa menstabilkan sikapnya. Alya pun tertunduk memegang erat mushaf di pangkuannya, tangannya kian gemetar menahan rasa gugupnya. Ilyas telah diamanahi panitia masjid sebagai pemateri untuk mengisi beberapa kajian di masjid Salman. Alya tak tahu itu.

Kajian tengah berlangsung, Alya mencoba untuk menyingkirkan perasaan tak nyamannya, namun pikirannya melayang menerka-nerka apa yang telah dilalui beberapa bulan ini oleh Ilyas. Apakah dia telah menikah? Siapa istrinya? Mungkinkah kini istrinya tengah mengandung? Ah, lupakan! Aku sudah mengikhlaskannya.

Alya mencoba mengembalikan pikirannya, mendengarkan dengan seksama tuturan nasihat indah dari Kak Ilyas. Tak ada yang berubah dari gaya bicaranya, ia selalu bisa membuat pendengarnya terpikat. Sesekali waktu, mata mereka saling bertemu. Membuat Alya gugup dan langsung memalingkan tatapannya. Mukanya memerah.

Kajian berakhir dengan pembacaan do’a kifaratul masjid. Alya beranjak dari tempat duduknya bergegas untuk keluar, lalu terdengar suara lembut memanggilnya dari belakang. “Alya..” Jantungnya berdegup, itu suara Kak Ilyas. Alya menoleh perlahan, dilihatnya Ilyas beranjak menyusulnya, hatinya kini tak karuan, Alya terpaku di tempatnya.

Ilyas memungut mushaf biru muda yang tergeletak di lantai lalu menyodorkannya pada Alya, “Afwan, mushafmu ketinggalan.” Dengan gugup Alya mengambilnya.

“A..af..afwan, terimakasih”. Ilyas pun berlalu. Alya menarik nafas panjang, gugupnya kini telah hilang. Seolah baru tersadar, bagaimana Kak Ilyas bisa tahu namaku? Selama ini kami tak pernah melakukan komunikasi. Ah, lupakan.

Hari demi hari telah berlalu, dan Alya sudah mulai bisa menguasai perasaannya setiap mengikuti kajian bersama Ilyas. Acara masjid yang kian memadat di akhir Ramadhan membuat Alya pulang terlalu larut. Ia berjalan sepanjang jalan menunggu angkutan umum, namun tidak ada satu pun angkutan yang lewat, Alya mulai gelisah. Tak lama terdengar deru sepeda motor menghampirinya, Alya melangkah mundur dan bersiaga, rupanya pengendara itu adalah Ilyas.

“Sudah larut begini, bahaya buat akhwat berjalan sendirian. Angkutan umum pun tak aman jam segini. Rumahmu di mana? Biar saya antar.” ucapnya. Seolah tahu apa yang dipikirkan Alya, Ilyas pun kembali berkata, “Jangan takut, kita tak akan bersentuhan, ana pakai ransel, kamu pegang ke ransel saja.”

Alya menoleh pada jam tangannya, jam menunjukkan pukul 22:02. Akhirnya Alya pun mengangguk. Hening. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar selama 30 menit perjalanan selain menunjukkan arah jalan menuju indekosnya.

Sesampainya di depan indekos, Alya segera turun dari motor seraya mengucap banyak terimakasih. Mata Ilyas terpaku pada jemari Alya, Alya yang menyadari tatapan Ilyas langsung bertanya, “Ada apa?”

Ilyas yang ketahuan tengah memandang jemari Alya akhirnya angkat bicara, “Ah maaf, ana tidak melihat ada cincin melingkar di jarimu, apakah belum ada yang mengkhitbahmu?”

Alya terhenyak, ia spontan marah, “Bukankah kakak sudah menikah, kenapa bertanya hal demikian?”

Ilyas terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum kecil di wajahnya, manis. “Siapa yang bilang ana sudah menikah?”

Merasa malu dengan penuturannya, Alya pun berkata, “Afwan, kalau begitu aku telah salah. Tahun kemarin aku dengar ada yang bilang DP Kak Ilyas cincin, aku sangka Kak Ilyas akan segera menikah.” tuturnya mengakui kesalahan.

Ilyas tersenyum kecil, “Cincin itu untukmu, Alya.”

Ucapan terakhirnya memaku hati Alya. Cincin itu untukku? Benarkah? Ada banyak rasa yang berkecamuk di hati Alya, kata-kata Kak Ilyas mengiang di gendang telinganya. Apakah ini mimpi, Rabb? Apakah aku dapat mempercayai ucapannya? Sejak kapan kak Ilyas menyukaiku?

Alya melihat wajah Ilyas begitu tulus, dia adalah wajah yang selalu diimpikan Alya selama sembilan tahun. Kini wajah itu hadir di depan mata Alya, menawarkan rasa yang sama, melamarnya di bawah langit lailatulqadar.

Hembusan angin malam menyergap mereka, dinginnya menyadarkan keduanya, “Afwan atas kelancanganku. Sudah larut, segeralah masuk, bicaranya dilanjut besok saja. Assalamu’alaikum” ucap Ilyas sambil menyalakan mesin motor, ia membelokkan motornya kemudian melaju meninggalkan Alya yang masih terpaku di tempatnya. Alya masih belum percaya dengan apa yang dialaminya tadi.

Alya bergegas menuju indekosnya, lalu menghempaskan diri ke kasur. Ia merasakan hatinya berdegup kencang. Benarkah Kak Ilyas ingin melamarku, Allah?

***

Cerita cinta Fatimah dan Ali selalu membuat iri. Pernikahannya adalah buah dari penjagaan hati agar tak ternodai oleh cinta yang semu. Pertemuannya dalam satu bingkai rumahtangga adalah izin dari Sang Maha Cinta berupa ijabah atas do’a dua insan yang saling merindu.

Kini sejarah telah terulang kembali, cerita indah keduanya telah dirasakan oleh Ilyas dan Alya. Tak patut seorang hamba berburuk sangka atas kehendak-Nya. Allah mempertemukan dengan orang yang salah adalah untuk mengajarkan manusia agar selalu bersabar dan berharap hanya pada-Nya. Manusia bukan tempat untuk mencurahkan seluruh pengharapan, karena sejatinya harap hanya tertuju atas-Nya, Sang Pemilik Takdir Indah.

Gaun putih yang dikenakan Alya sungguh manis, menambah kecantikan parasnya yang ayu. Hatinya berdebar, seluruh pandangan tertuju padanya. Alya melirik ke arah ibunya, ia tersenyum mengangguk mencoba menenangkan Alya.

Alya menarik napas, ia melihat ke arah sampingnya, kini di sampingnya tengah duduk sosok pemuda berkemeja putih yang dibalut jas hitam. Posisi duduknya yang tegap menunjukkan kesiapan, siap menanggung amanah yang besar, siap menjadi nahkoda bagi pelayarannya. wajahnya begitu bercahaya, Alya terpesona untuk yang kesekian kali, ia tersenyum geli memperhatikan sosok di sisinya. Ilyas sungguh tampan hari ini.

Ilyas menggenggam tangan penghulu yang berada di depannya, dengan lantang ia mengucap ijab qabul, dan saksipun menyatakan sah. Semua yang hadir turut bersorak haru saling berpelukan. Tak terasa airmata Alya menetes, kini ia telah sah menaiki bahtera bersama kekasih impiannya. Semua ini terasa amat singkat baginya. Mungkin Allah ingin menjaga kita berdua agar tak berlama-lama dalam kemaksiatan. Terimakasih Rabb, Kau telah memberi hadiah terindah di tahun ini: Ilyas.

Ilyas menatap lembut Alya yang telah sah menjadi istrinya, ia tersenyum lalu mencium kening Alya. “Assalamualaikum, istriku.” ucapnya sambil menggenggam jemari Alya, Alya membalas genggamannya dengan erat, “Waalaikumussalam, suamiku.”

Langit bulan syawal telah melukis indah guratan takdirnya, kini keduanya telah sah untuk memadu kasih. Menjalin setengah agama bersama dalam balutan rindu yang menderu, syahdu.

Suamiku, engkaulah pemuda pengikat cinta dengan nama ‘kita’

Alya, Istrimu.

Selesai.

Baca Juga: Pemuda Pengikat Cinta (Bagian 1)

Tuliskan Komentarmu !