Pemuda Pengikat Cinta (Bagian 1)

pemuda pengikat cinta
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Bandung, tahun ke delapan

Cinta adalah anugrah dari Allah, semacam rasa yang unik dan tak selalu bisa dijelaskan. Terkadang cinta menghantar pemiliknya untuk menemukan-Nya. –Akhir November 2016-

Sudah delapan tahun lamanya, semenjak Alya merasakan untuk pertama kalinya bahwa hidup tak sekadar mengalir. Sosok pemuda soleh yang ia kenal di sebuah majelis ilmu delapan tahun lalu berhasil membuat hatinya terpikat, gadis yang terlahir di lingkungan yang jauh dari nilai agama ini terkagum oleh ketakwaan dan kecerdasannya yang begitu mempesona. Sikap optimis dalam meraih cita-cita jihad dan dakwahnya kian menyihir dan memicu semangat Alya untuk terus memperbaiki diri.

Perlahan, gadis manja ini mulai meninggalkan kerudung pendek dan celana jeans yang biasa dipakainya sehari-hari, gamis manis dan kerudung panjang kinilah yang selalu melekat di tubuhnya yang mungil. Delapan tahun telah berlalu dan Alya menjadi wanita yang sungguh amat berbeda dari tahun sebelumnya, ia telah berhijrah.

Ilyas, pemuda soleh yang telah membukakan hati Alya itu kini tengah sibuk menjalani urusan umat. Sebagai seorang aktifis Islam, jadwalnya kian memadat dan ruang lingkupnya meluas, tak heran jika Ilyas memiliki banyak kenalan dari tiap lapis masyarakat. Sosoknya yang berwibawa, ramah serta wajahnya yang tampan telah menjadikannya buah pembicaraan di kalangan wanita.

Banyak sekali wanita yang mengejar Ilyas dan dengan berani menyatakan kagum padanya, bahkan beberapa ustadz ada yang menawarkan putrinya untuk diinikahi Ilyas. Setiap mendengar kabar tersebut, surutlah harapan Alya untuk bisa bersanding dengan Ilyas. Ah, Alya hanya bunga layu di antara bunga mekar yang berada di sekeliling Ilyas.

Delapan tahun Alya memendam rasa. Cinta dalam diam mungkin akan lebih terjaga dibanding menunjukkannya meski itu wajar. Baginya, berjuang dalam do’a akan lebih tulus dan syahdu, sebuah romantisme yang hanya diketahui dirinya dan Allah. Terlebih Alya merasa belum pantas untuk bersanding bersama pemuda soleh seperti Ilyas. Alya adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga biasa, ia bukan sosok gadis cantik seperti gadis-gadis lain yang mengagumi Ilyas, juga bukan sosok aktifis yang jago dakwah. Ah, Alya hanya wanita akhir zaman yang memantaskan diri di hadapan-Nya.

***

Terik matahari kian menyengat siang ini, Alya membereskan buku-bukunya bersiap untuk pulang, tiba-tiba salah satu teman di kelasnya teriak histeris, “Aaaa…! Coba liat ini DP BBM akhi Ilyas, DP nya cincin! Jangan-jangan dia mau mengkhitbah seseorang!” Seorang wanita berpakaian serba pink itu tengah menunjukkan handphone-nya ke arah teman-temannya, jari telunjuknya tertuju pada sebuah photo yang terpampang di layar.

“Wah masa? Coba baca PM-nya apa?” Dengan cekatan sang pemilik handphone itu men-scroll layar handphone-nya untuk mencari tahu. “Yaah.. PM-nya cuma emot senyum aja, jadi penasaran calonnya siapa.”

“Pasti akhwat solehah yang kerudungnya panjang, anak ustadz, cantik, pinter.”

“Iya lah, lelaki yang baik pasti dapat pasangannya yang baik juga, gak kayak aku.”

“Hmmm… cieee, ada yang cemburu nih! Hahaha.”

Alya langsung bergegas keluar meninggalkan gelak tawa di ruangan kelas tadi, hatinya benar-benar gundah. Ia berlari. Napasnya tak beraturan. Benarkah? Benarkah secepat ini Kak Ilyas mengambil keputusan untuk menikah? Bagaimana dengan hatiku yang selama ini memendam rasa dan harap padanya? Ya Rabb, aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatiku saat ini, aku hanya ingin bersimpuh pada-Mu. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu jalan menuju arah indekosnya. Irma, teman indekos yang ingin ditemuinya saat ini.

Setibanya di indekos, Alya menarik napas panjang, lalu membuka pintu perlahan. “Assalamu’alaikum..” Ruangan segiempat itu hanya bisa diisi untuk dua orang, tidak ada ruangan lain selain ruang utama dan kamar mandi.

Di atas kasur, duduklah seorang wanita berkacamata yang sedang asyik membaca buku, melihat kepulangan Alya. Ia pun tersenyum sambil menjawab salam. “Wa’alaikumussalam, kok layu gitu wajahnya? Lagi ada masalah, ya?”

Irma adalah teman indekos sekaligus adik semesternya. Meskipun Alya jauh lebih atas dua tingkat dari Irma, namun umur keduanya sama. Alya memang masuk sekolah dua tahun lebih cepat dari yang lainnya, kepintarannya mempermudah proses pembelajaran sekaligus meringankan biaya administrasi dengan beasiswa yang didapatnya.

Alya meraih segelas air dan meminumnya, cuaca Kota Bandung akhir-akhir ini sangat panas, jauh berbeda dengan cuaca beberapa tahun ke belakang, sejuk dan asri. Polusi kini mengambil alih hawa sejuk Bandung dengan panasnya yang menyengat. Terlebih hatinya yang sedang kacau saat ini membuatnya menghabiskan segelas air dengan satu tegukan.

“Hanya lelah aja kok, Ir. Aku gak apa-apa.” jawab Alya mencoba menghilangkan kekhawatiran sahabatnya. Rupanya Alya belum siap menceritakan kabar yang didengarnya.

“Hemmm, yakin? Bukan gara-gara akhi Ilyas itu toh? Hihihi” goda Irma. Sebagai tempat curhat setelah Allah, Irma menjadi satu-satunya teman yang dipercayai Alya mengadukan perasaan yang selama ini disembunyikannya. Tak heran jika setiap Alya bermuka masam, Irma menggodanya demikian.

“Huh, baru datang udah diusilin! Ngapain juga mikirin ikhwan yang belum jelas jodoh atau bukan? Mending fokusin diri ibadah, nyempurnain setengah agama yang lain.”

“Emmm ciee, belajar bijak nih..! Haha. Al, ngomong-ngomong kenapa kamu gak coba bilang aja ke Kak Ilyas tentang perasaanmu, dengan begitu kamu jadi bisa tahu perasaan Kak Ilyas. Kalau diam seperti ini sih gak ada kepastian.” tutur Irma sambil menutup buku yang sedang dibacanya, tanda ia mulai serius dengan pembicaraannya.

“Ini sih, saran aku aja sebagai sahabat kamu. Aku terkadang salut sekaligus khawatir. Salut ada orang kayak kamu yang mampu memendam rasa bertahun-tahun, aku juga khawatir, Ilyas membutakan mata kamu dari ikhwan lain yang benar-benar serius sama kamu.” lanjut Irma.

“Hmmm… Aku gak ada niat seperti itu. Tapi, nasihat kamu memang benar, sepertinya aku akan melupakan Kak Ilyas, dan mencoba membuka hati untuk ikhwan yang lain.” ucap Alya sambil tersenyum.

“Serius Alya, kamu yakin?” Irma memandangi lekat-lekat mata Alya, bertahun-tahun baru kali ini Alya menyerah dengan perasaannya, ada sedikit kelegaan dan ketidakpercayaan dari tatapan Irma.

“InsyaAllah aku akan berusaha. Terus memikirkannya pun tidak akan mengubah apapun, yang ada aku semakin terluka dengan ketidakpastian, apalagi banyak akhwat yang mendekatinya. Selama ini aku egois, meminta pada Allah agar kami dapat dipersatukan, namun kini aku sadar, do’aku itu salah. Seharusnya aku meminta pada Allah agar memberi yang terbaik untukku dan untuk kak Ilyas. Dengan begitu aku akan bahagia, dan Kak Ilyas pun akan bahagia.”

Kedua bola mata Irma berkaca-kaca. Ia memeluk Alya dengan erat. “Aku salut pada ketulusanmu, Alya. Semoga Allah meridhai, ya..!”

“Aamiin, Irma.” Dan di waktu yang sama, Alya pun ingin sekali meneteskan airmatanya. Allah, kuatkan aku.

***

Bandung, Tahun Kedelapan,

Cinta sebenarnya tak menuntut untuk menanti, ia mempersilahkan untuk memperjuangkan atau meninggalkan. ia adalah keberanian atau pengorbanan. Maka, mengikhlaskan cinta pun adalah perjuangan sekaligus pengorbanan. –Akhir Desember, 2016-

Tiga minggu berlalu setelah Alya memutuskan untuk mengikhlaskan perasaannya terhadap Ilyas, semua akun medsosnya ditutup sementara untuk menjaga perasaan hatinya. Begitupun seluruh puisi dan curahan hati tentang Ilyas, telah ia simpan rapat-rapat. Alya semakin memantapkan hati dan menyibukkan diri dengan beragam aktifitas positif, saat ini Alya telah sah menjadi santri tahfidz di sebuah daurah, impiannya untuk menjadi seorang hafidzah diasahnya kembali setelah beberapa tahun sempat teralihkan dengan kesibukan lain.

Terlalu banyak alasan bagi Alya untuk bersyukur pada Allah. Kesedihan beberapa minggu lalu tidak menjadi penghambat untuk terus berkarya dan mengejar impian, justru Alya sangat berterimakasih karena Allah telah mempertemukan ia dengan Ilyas, sosok pemuda idamannya yang berhasil mengubah kehidupan Alya. Ilyas adalah inspirasi serta motivasi dalam mengejar cinta-Nya.

Meskipun cinta tak selalu mengijinkan untuk membersamai orang yang dicintai, namun cinta lah yang telah membawanya untuk menemukan-Nya, menemukan Zat yang akan selalu mencintainya. Dengan begitu, tak perlu resah, sebab dengan membersamai-Nya, hal terburuk pun akan menjadi indah, sebab Allah selalu memberi kejutan spesial di setiap waktu bagi hamba-Nya yang bersabar. Sabar itu indah, seindah pertemuan Alya dengan Adam, pemuda soleh yang selalu memperhatikan Alya sejak lama.

Pertemuannya terjadi atas kehendak Allah. Adam rupanya masuk daurah yang sama dengan Alya, Adam diam-diam mencuri pandang di saat Alya selesai menyetor hapalan dan hendak pulang. Alya tak memperdulikannya, ia berpikir itu hanya tatapan iseng saja. Hingga suatu hari ustadz yang biasa membimbing hapalan Alya, meminta waktu sebentar untuk berbicara dengannya. “Nak Alya, sudahkah ada lelaki yang mengkhitbahmu?”

Alya terhenyak kaget, dengan gugup ia menjawab, “Emm… be.. belum, belum ada ustadz. Memangnya kenapa ustadz tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Ustadz itu tersenyum. Lelaki bernama Fahri ini memiliki dua anak yang masih kecil, ia bersama istrinya tinggal di dekat daurah dan menjadi pengurus yang bertanggungjawab mengawasi santri dan santriwati yang tinggal menetap di daurah ini.

“Ada ikhwan curhat ke ana, katanya ia naksir Nak Alya, tapi dia gak berani bicara langsung. Katanya segan, orangnya dingin sekali.” ujarnya tertawa. “Tau Adam, kan? Katanya jika belum ada yang menghkhitbah, ia bersedia mengkhitbah Nak Alya Januari nanti. Bagaimana?”

Alya tak mampu berucap sepatah kata pun, baru pertama kalinya ia ditanya hal seperti ini dalam hidupnya. Melihat Alya yang tertunduk lama, ustadz Fahri faham, kemudian berkata, “Tak usah terburu-buru menjawab, shalat istikharah lah dulu, minta pada Allah pilihan yang terbaik. Jika sudah yakin, kasih tau ana. Insya Allah, Adam laki-laki yang soleh dan baik akhlaknya. Kamu gak akan rugi kalau sama dia. Ana pamit dulu, ada urusan lain menunggu, assalamu’alaikum” Ustadz Fahri meninggalkan Alya yang masih tertunduk.

“Wa’alaikumussalam waruhmatullah.” jawab Alya.

Bersambung.

Baca Juga: Pemuda Pengikat Cinta (Bagian 2)

Tuliskan Komentarmu !