Pelangi Mula Datang Setelah Badai Menghampiri

pelangi datang setelah badai
Ilustrasi: Rizki Agustian

SAVANA- Waktu itu senja telah menampakkan dirinya di sebelah barat. Senja itu membawaku untuk segera melakukan perjalanan pulang menuju kampung halaman; sebuah kampung kecil di pingiran dekat dengan Kota Pahlawan yang dikenal dengan Kota Santri, sebuah kota kecil yang digunakan oleh kedua orang tuaku untuk merawat dan membesarkanku hingga aku beranjak dewasa.

20 tahun yang lalu aku dilahirkan di tanah kelahiran ayahku dulu dilahirkan, sebuah kota besar yang sangat dikenal dengan sejarah dan kesenianya hingga penjuru dunia; sebuah kesenian yang sangat dikagumi oleh masyarakat Indonesia, yakni kesenian Reog Ponorogo. Ya, aku dilahirkan di sana, dan dirawat selama 2 tahun sebelum aku dipindakan ke Kota Santri.

Aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang, dan kedua orang tuaku selalu mendukung hampir setiap aktivitasku, baik itu kegiatan adrenalin seperti mendaki gunung, memanjat tebing, susur goa, mendayung, atau kegiatan lainnya.

Setelah aku lulus SMA, aku memutuskan untuk kuliah dan mengambil sebuah jurusan yang dirasa sangat aneh dan jarang sekali ada wanita yang masuk. Jurusan itu aku yakini dapat menjadikanku jadi wanita yang lebih kuat dan aktif. Jurusan yang kumaksud adalah Teknik Bangunan Kapal. Aku dinyatakan diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri 3 tahun silam dengan jalur prestrasi.

Waktu terus berjalan, hingga aku dinilai menjadi mahasiswi yang aktif di kampus itu, dan dipercaya untuk memegang sebuah UKM. Aku pun dipercaya untuk mengikuti lomba-lomba nasional, dan Alhamdulillah sudah sedikit mengarumkan nama kampus.

Aku mencapai pada titik akhir dalam perjuangan di bangku kuliah ini. Sebuah titik di mana waktu itu adalah waktu yang ditunggu-tunggu, dengan segala perjuangannya. Sebuah sidang akhir telah kulalui, dan tepat pada tanggal 8 Agustus 2018 kemarin, seluruh tugas akhirku diterima.

Senja itu datang, menghampiriku, dan aku beranjak untuk pulang ke kampung halaman untuk mengabari kedua orang tuaku tentang wisudaku, sambil menyelesaikan beberapa tanggungjawab yang harus segera aku selesaikan.

Nahasnya, senja itu menjadi saksi bisu dalam tragedi yang membuatku harus merangkak lagi mengumpulkan semangat. Sebuah mobil yang menabrakku waktu itu, meninggalkanku begitu saja tergeletak dipinggir jalan. Aku masih bersyukur ada beberapa orang yang menolongku, yang lalu membawaku ke sebuah rumah sakit. Tapi di rumah sakit itu aku malah dibiarkan begitu saja, dengan alasan menunggu orang tuaku datang.

Orang tuaku datang tepat pukul 22.00 WIB. Seketika dokter menyatakan tidak dapat menanganiku, sehingga aku harus dirujuk ke RS dr. Soetomo Surabaya. Aku dibawa ke RS dr. Soetomo pukul 02.00 dini hari, dan sampai di RS dr. Soetomo pukul 03.00 WIB.

Aku baru diperiksa setelah adzan subuh berkumandang. Dokter menyatakan aspal diluka kakiku telah menjalar, dan menyatakan telah infeksi. Aku dibawa ke ruang operasi pada jam 07.00 WIB. Operasi itu katanya percobaan pemasangan pen dan penyatuan pembuluh darahku, hingga waktu operasi akan memakan waktu hingga 12 jam. Kemudian aku dibawa ke ruang ICU untuk dirawat.

3 hari kemudian, aku dipindakan ke ruang rawat inap biasa. Namun bukannya membaik, keadaanku malah makin memburuk. Suhu tubuhku sangat panas, hingga mencapai 39 derajat celsius. Tubuhku terus melemah seiring bergantinya hari. Hingga di hari ke tujuh, dokter menyatakan bahwa infeksi di kakiku mulai menyebar,  dan kakiku mau tidak mau harus diamputasi.

Jujur waktu itu aku sangat terpukul, dan enggan percaya dengan ujian ini. Keluarga dan sahabatku terus menguatkan. Sebisaku, aku mencoba ikhlas, walau air mata ini terus menitik. Tepat tanggal 14 Agustus 2018 kemarin, kaki kananku diamputasi hingga di atas lutut. Setelah operasi amputasi berjalan, keadaanku hari demi harinya terasa membaik.

Tuhan tak membiarkanku. Setelah kejadian itu, semakin banyak teman-temanku yang menjenguk sekaligus mensuportku. Bahkan teman yang hanya kukenal di dunia maya pun, banyak yang ikut mendukungku. Pada tanggal 20 Agustus aku keluar dari rumah sakit.

Hari demi hari keadaanku semakin membaik. Tuhan memberiku pelangi setelah badai menghampiriku. Pelangi itu adalah kawan-kawan, keluarga, bahkan guruku yang tak lelahnya memberiku dukungan. Tuhan pun memberiku kekuatan untuk mengadiri acara yang aku tunggu-tunggu waktu itu, saat aku berangkat di senja hari menuju rumah. Acara yang bagiku begitu sakral dan bersejarah, yaitu acara wisudaku pada tanggal 22 September 2018 kemarin.

Terimakasih semua. Kalian adalah pelangiku.

Baca Juga: Soes; Pak Tua yang Masih Rajin Bekerja

Tuliskan Komentarmu !