Pasar Malam di Rumah Mbah Turiman

cerpen
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Sebidang tanah yang tidak terlalu luas, di atasnya berdiri satu bangunan rumah tua yang setengah batu setengah kayu. Ditempati sepasang suami istri yang sudah sepuh. Sekeliling rumah dipagari dengan tanaman. Ada pohon jambu air, pohon tebu, pohon nanas, talas, pohon pisang, pohon kelapa dan pohon ubi kayu. Pemilik rumah itu adalah Mbah Turiman

Setiap hari Mbah Turiman menyelereti pelepah kelapa untuk dibuat sapu lidi dan biting. Mereka selalu sibuk. Rumah mereka tidak pernah terbuka, bahkan jendela rumah tidak pernah terlihat terbuka. Seakan cahaya matahari tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk mengintip rumahnya.

“Lagi apa, Mbah?,” Toyo yang baru pulang dari jalan santai menegur Mbah Turiman yang sedang duduk di bawah pohon jambu dengan tumpukan daun kelapa.

“Ini lagi nyelereti pelepah kelapa untuk dijual di pasar,” Mbah Turiman menjawab dengan senyumnya yang khas.

Orang-orang di desa itu sudah tau. Kedua orang tua suami istri itu tidak lagi bekerja. Jalannya sudah payah. Tapi setiap hari selalu membuat lidi dan biting yang katanya akan dijual di pasar.

***

Setiap menjelang tengah malam, rumah Mbah Turiman terdengar ramai sekali. Seakan ada pasar malam di sana. Bahkan suara-suara aneh juga sering muncul seperti suara orang yang lagi menimba air di sumur tua. Tidak hanya satu dua tetangga yang sering mendengar bunyi-bunyian aneh itu.

Warga kampung penasaran, sebenarnya ada apa di rumah orang tua sepuh yang usianya sekitar 80 tahun itu. Rumah yang jarang sekali terbuka lebar pintunya, bahkan jendela rumah mereka suatu hal yang tabu untuk terbuka lebar. Tidak ada cahaya matahari yang masuk, siklus udara terbatas. Namun, orang tua sepuh itu tetap menikmatinya dengan udara pengap.

Tidak ada anak-anak yang berani  bermain-main di halaman rumah Mbah Turiman. Bahkan ketika pohon jambu Mbah Turiman berbuah lebat hingga dahannya patah, tidak seorang pun yang berani meminta. Akhirnya banyak buah jambu yang jatuh dan busuk di halaman.

Semenjak sering terdengar suara-suara aneh di rumah Mbah Turiman, pos ronda di kampung yang sudah lama tidak ada kegiatan ronda diaktifkan kembali. Warga sekita bergantian jaga malam.

Menjelang tengah malam yang belum sempurna, beberapa warga yang mendapat tugas jaga berkeliling desa. Hingga tengah malam tiba, penjaga pos ronda menuju rumah Mbah Turiman. Ingin menyaksikan sebenarnya apa yang terjadi di rumah orang tua itu ketika tengah malam hingga menjelang subuh. Di sebuah rumah kecil tidak jauh dari rumah Mbah Turiman, mereka mengintai.

Rumah Mbah Turiman seperti biasa, gelap. Pintunya tetap tertutup rapat. Dari celah dinding kayu, hanya terlihat cahaya kecil. Cahaya dari lampu minyak. Pukul 12 lewat 5 menit. Suara-suara manusia mulai ramai. Suara kendaraan baru tiba parkir di pekarangan rumah Mbah Turiman. Saling sapa satu sama lain.

Suara gending sayup-sayup mulai terdengar. Lama kelamaan semakin jelas. Suara orang-orang berdatangan semakin ramai. Malam itu rasanya bukan sekedar kegiatan jual beli, tapi ada hajatan yang lebih besar.

Tiga orang penjaga pos ronda yang mengintai perlahan semakin mendekati rumah Mbah Turiman. Suara riuh orang-orang seperti di pasar semakin jelas. Terdengar ada yang menjajakan daun, kembang, menyan, rokok, sayuran dan berbagai keperluan.

Dua orang penjaga ronda malam mulai meremang, namun masih penasaran dengan suara keramaian di rumah Mbah Turiman. Semakin dekat. Semuanya semakin merinding. Rasa takut semakin di ujung kepala. Hendak lari menjauh, tapi selangkah lagi akan sampai di jalan depan rumah Mbah Turiman.

Mereka melihat jelas rumah Mbah Turiman tetap gelap, tapi suara-suara orang ramai dan bunyi gending terasa jelas di telinga mereka. Seakan tidak percaya mereka saling pandang, mengucek mata yang tidak rabun. Di sana jelas tidak ada apa-apa.

“Aku semakin merinding. Pulang saja lah. Ini tidak wajar,” Rinto membuka bicara.

“Nanggung. Kita sudah di sini. Aku masih penasaran,” Yatno orang yang paling semangat untuk menelisik ada apa sebenarnya di rumah Mbah Turiman.

“Ini malam satu suro,” bisik Gono

Mereka saling pandang. Wajah ke tiganya pucat menaham takut. Kaki mulai gemetar.

***

Hari menjelang adzan subuh berkumandang. Suara ramai orang seperti di pasar dan suara gendingan semakin memudar. Sesaat sebelum subuh suara itu lenyap. Terlihat Mbah Turiman keluar rumah. Seperti mengantarkan tamu yang baru saja bertandang ke rumahnya.

Kabar rumah Mbah Turiman yang angker juga mulai meluas dari kampung ke kampung, dari desa satu ke desa lainnya. Hingga sampai ujung desa wilayah selatan. Hal itu didengar Mbah Turiman. Tapi seakan tidak beban bagi dirinya. Masyarakat lama kelamaan pasti akan tau. Pikirnya.

Istri Mbah Turiman sejak malam itu mulai sakit-sakitan. Siang pun jarang terlihat menemani Mbah Turiman membuat sapu lidi dan biting.

“Istri Mbah Turiman beberapa hari ini jarang kelihatan, ya?” Bisik para ibu-ibu di tukang sayur langganan mereka.

“Dengar kabar istrinya sakit,” Leha menjawab.

Beberapa hari berikutnya, sakit istri Mbah Turiman semakin parah. Desas desusnya karena pesugihan. Ada pula yang bilang sakit tua. Kabar simpang siur itu menjadi tanda tanya orang kampung.

“Assalamualaikum,” Pak RT mendatangi rumah Mbah Turiman. Beberapa kali pintu diketuk tidak ada jawaban dari tuan rumah.

“Assalamualaikum,” kali ini Toyo yang mengetuk pintu. Namun tak kunjung mendapat jawaban.

Pak RT mengintip dari celah dinding yang agak renggang. Tiba-tiba terdengar pintu bergeser. Mbah Turiman keluar dengan jalan membungkuk, jalannya sudah payah. Badannya terlihat sedikit lebih kurus dari biasanya. Wajahnya kusam seperti beberapa hari tidak mandi. Bau aneh menyeruak dari dalam rumahnya.

“Ada perlu apa Pak RT kemari?”

“Gini Mbah, katanya istri Mbah sakit. Jadi kami mau melihat kondisinya,” takut tersinggung Pak RT dengan hati-hati menjawab pertanyaan Mbah Turiman.

“Oh dia tidak apa-apa, cuma demam biasa,” jawab Mbah Turiman santai.

Pak RT dan Toyo tidak dipersilakan masuk. Mereka bertiga hanya ngobrol di depan pintu. Namun pintu tetap tertutup rapat. Sesekali Toyo ingin mengetahui apa yang ada di dalam rumah Mbah Turiman.

“Kamu kenapa, Toyo. Kok sepertinya ingin tau sekali dalam rumah saya,” tanya Mbah Turiman penuh selidik. Melihat gelagat Toyo yang begitu ketara.

“Ng…nggak kok, Mbah,” sekujur tubuh Toyo sekita dingin ketika ditegur Mbah Turiman.

“Kalau Mbah perlu bantuan saya, jangan sungkan-sungkan datang ke rumah ya, Mbah” Pak RT menawarkan jasa baiknya.

“Iya,”

“Saya pamit dulu ya, Mbah,”

***

Adzan magrib baru saja berkumandang. Mbah Turiman dengan langkah yang begitu pelan menuju rumah Pak RT.

“Assalamualaikum,” suara sepuh Mbah Turiman mengagetkan Pak RT dan istrinya. Segera saja Pak RT yang baru menunaikan sholat magrib bergegas membuka pintu.

“Wa’alaikumsalam,” jawaban salam terdengar dari dalam. Mbah Turiman sudah kelelahan berjalan dari rumahnya ke rumah Pak RT yang jaraknya lumayan jauh untuk seorang kakek yang sudah sepuh.

“Sini masuk, Mbah ” Pak RT mempersilakan Mbah Turiman masuk ke rumahnya.

“Saya ndak bisa lama-lama. Istri saya tidak bisa ditunggu lama. Dia sudah tidak ada. Nyawanya sudah dicabut gusti Allah,” dengan nafas tersengal Mbah Turiman menjelaskan.

Pak RT, istrinya dan beberapa tetangga segera ke rumah Mbah Turiman. Ditemukan jenazah istri Mbah Turiman terbujur kaku di tempat tidurnya yang usang, tua tidak beda jauh dengan pemiliknya. Kamar yang pengap dan gelap. Kelambu yang sudah berubah warna kelabu menghiasi sudut kamar. Sungguh yang datang ke rumah Mbah Turiman merasakan bau yang tidak wajar. Di kegelapan rumah Mbah Turiman pun menghilang setelah berpamitan ingin ke kamar belakang.

Semua orang mencari Mbah Turiman tidak ketemu. Akhirnya Pak RT dan beberapa warga memberanikan diri membuka kamar yang terkunci rapi. Seakan kamar itu tidak perna dibuka oleh siapa pun. Seakan ada luka. Kunci  melekat begitu kuat hingga beberapa orang membukanya tidak berhasil.

Akhirnya dengan bacaan doa-doa kunci pun terbuka. Dengan hati-hati Pak RT membuka pintu yang menghalanginya. Di dalam kamar berjejer rapi batu nisan. Tertulis nama Mbah Turiman di salah satu batu nisan yang berdiri tegak. Nama Turiman, lahir 30 April 1930, wafat 12 januari 2000. Semua saling pandag. Mbah Turiman telah wafat hampir 18 tahun lalu.

Tuliskan Komentarmu !