Parodi Lebaran: Harusnya Bersedih kah, atau Bersenang?

sumber gambar: google

SAVANA- Sebentar lagi lebaran akan datang. Ketupat sudah mulai dibuat. THR sudah mulai dibagikan. Sebagain orang sudah mulai sibuk mempersiapkan untuk mudik. Yang lainnya sibuk mempersiapkan calon istri untuk dikenalkan kepada orang tuanya, kecuali mungkin yang “Mblo”. Lalu, wajah bagaimana yang mesti kita pasang? Senang kah karena kita khatam shaum satu bulan, atau sedih kah karena kita akan meninggalkan ramadan?

Sudah semestinya kita senang. Masa “kemenangan” disambut dengan tangis kesedihan? Sudah sewajarnya kita merayakan. Masa “puncak” dari perjalanan terjal adalah sebuah kekusaman? Kata pepatah usang  “berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian.” Jadi, senangkan lah hatimu walau masih menyandang titel “Mblo”.

Tapi kita pun dituntut untuk sedih. Kita akan meninggalkan bulan yang agung, yang belum tentu di tahun depan dapat mengecapnya kembali. Tak ada lagi pahala yang berlipat. Melakukan ibadah menjadi layu kembali, karena iming-iming pahalanya kurang. Tidur tak dicatat lagi jadi kebaikan.

Andai kita bisa berharap, setiap bulannya seperti bulan ramadan (pahalanya bukan shaumnya). Setiap bulannya seheroik ramadan (setiap hampir orang berhijab dan bertobat). Maka menangis sedihlah saat lebaran datang, karena keberkahan dan ampunan yang berlipat akan segera hilang.

Memang ini seperti parodi; di satu sisi kita mesti senang, tapi di sisi lain dituntut untuk sedih. Tapi benarkah, alasan-alasan teologi semacam itu yang mengatur senang sedihnya, tawa tangisnya kita?

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling ganjil. Banyak hal yang tak dapat dimengerti oleh manusia tentang dirinya sendiri. Ilmu sosiologi, psikologi, fenomenologi; atau sejarah, hukum, filsafat, sastra; ternyata belum mampu mengguar kedirian seorang manusia secara total. Selalu ada bagian yang dilupakan. Selalu ada sisi yang membingungkan. Kadang kita menyerah pada kalimat “manusia tak dapat digambarkan oleh angka, maka dalam dirinya tak ada kepastian”.

Walau rasa yang ia kecap sama, ilmu yang ia dapat sama, dan pengalaman yang ia serap sama, tapi selalu ada sisi lain yang membedakannya; cara ia mengolah semuanya. Syahdan, manusia pun menjadi makhluk yang ambigu. Rasa, pikiran, selalu tak bisa disamakan satu dengan yang lainnya, walau apa-apa yang ia dapat dari dunia ini sama. Selalu ada perseteruan, walau dalam pikiran biasa, bukan untuk diperseterukan.

Senang sedihnya karena teologi, kadang berbenturan dengan senang sedihnya karena imajinasi. Manusia jadi tak bisa mengukur dirinya sendiri. Seharusnya senang kah atau sedih kah?, tak lagi menjadi soal. Kita selalu lari dengan mengamini pepatah yang konon katanya terbijak, “bahagia itu sederhana.”

Manusia memang butuh pelarian. Paling tidak, akal dan pikirannya jadi ada kerjaan. Karena bahagia itu sederhana, maka siapa pun boleh berbahagia; termasuk disaat yang seharusnya ia bersedih.

Memang, bahagia selalu jadi cita-cita. Bahagia adalah surga. Sedih adalah neraka. Orang harus tetap dapat berbahagia, bagaimana pun keadaannya. Orang harus dapat tertawa, bagaimana pun caranya. Paling tidak, karena itulah lahir motivator-motivator ulung, yang setiap katanya adalah berkat dan setiap pepatahnya adalah wahyu. Lumayan kan, bertambah satu profesi baru.

Jadi, bagaimana kah seharusnya kita menyikapi lebaran? Hanya Tuhan yang tau, sedang kau diberi kebebasan untuk bersenang-senang atau bersedih-sedih.

Kesimpulan yang liberal memang. Tapi mau bagaimana lagi, setiap argumen diseret untuk menyimpulkan itu. Bukankah hidup kita yang tentukan, sedang Tuhan hanya mengafirmasi terhadap segala usaha umatnya? Kau boleh bersenang-senang, jika itu yang kau butuhkan. Kalian juga boleh tersendu menangis, jika kalian yakin air mata dapat melepur segala dosa.

Saat saya masih Sekolah Dasar (SD), saya selalu senang saat lebaran hendak datang, karena setelah lebaran saya berpikiran akan bebas makan dan minum lagi di siang bolong. Namun setelah lebaran menjelang, betapa saya merasakan sedih, karena saat mendengar suara azan magrib, saya tak merasakan nikmatnya berbuka shaum lagi. Begitulah perasaan saya sewaktu SD. Ingat ya, itu sewaktu saya SD!

Tuliskan Komentarmu !