Pahlawan dalam Ingatan: Melawan!

pahlawan dalam ingatan

SAVANA- “Bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat pada sejarahnya”, ujar Soekarno.  Ingat sejarah bertendensi mengenal watak sendiri, begitu juga dengan yang diungkap oleh Pramoedya Ananta Toer, “Watak suatu bangsa, sangat erat kaitannya dengan pandangannya pada sejarah”. Sejarah tak cukup bila hanya dipandang sebagai pengingat karena manusia sering lupa, atau sebuah romantika elok yang hanya cukup dijadikan bingkai pigura.

Jendral Sudirman, dengan tubuh tegap dan bersuara lantang, tak gentar saat menghadap penjajah. Cita-cita yang terbesit di benaknya hanya untuk memberikan hak setiap manusia untuk merdeka. Ia “menggadaikan” dirinya sendiri untuk kebaikan masa depan bangsa dan negaranya. Kisah kepahlawanan itu pun tak hanya dicatat oleh sejarah, tapi terperingati dengan dinobatkannya sebagai hari pahlawan.

Di atas keringat dan darah para pahlawan, kini kita bisa hidup dalam kemerdekaan. Nama-nama mentereng seperti Kartini, Tirto Adhi Soeryo, H. Agus Salim, Tjipto Mangunkusumo, Tjokroaminoto, Soekarno, M. Hatta, Syahrir, dll. adalah bukti sejarah bagaimana Bumi Pertiwi ini menuntut dan melawan. Hari ini, nama mereka semua akan dikenang, kembali diperingati.

Namun mengingat berbeda dengan mengetahui, seperti yang diungkapkan oleh Goenawan Mohamad dalam catatan pinggir yang berjudul Luka (Tempo edisi 21/09/2015), “Mengetahui adalah menguasai realitas; mengingat bahkan tak selamanya menguasai masa lalu.” Memperingati hari pahlawan, tak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mengetahui sejarah, tapi bisa juga oleh anak ingusan yang belum mengerti soal darah dan keringat. Lalu, apa istimewanya dengan memperingati?

Memperingati berarti mengenang. Mengenang berarti kembali ke masa lalu. Kita yang hidup di zaman yang berbeda, dipaksa untuk membenarkan tingkah laku para pendahulu, bahkan dijadikan referensi untuk ditiru. Dalam posisi seperti ini, pahlawan bertendensi sebagai pemberani yang siap berperang melawan penjajah, atau yang dianggap sebagai penjajah. Pahlawan adalah yang berani mengangkat “senjata” untuk melawan. Kartini, bersenjata tulisan dan berperang di alam pikiran.

Semangat melawan juga ditunjukkan oleh Tirto Adhi Soeryo, seperti tokoh Minke dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tirto menyadarkan masyarakat lewat tulisan-tulisanya di bawah naungan Serikat Dagang Islam (SDI), dengan membuat koran Medan Priyayi, lalu berubah menjadi Harian Medan. Dan dengan tulisannya, mampu membangkitkan semangat melawan masyarakat pada penjajah.

Tirto, kini dikenal sebagai pelopor pres Pribumi pada awal abad ke 20, dan mampu melahirkan generasi yang benar-benar siap untuk melawan dengan lahirnya organisasi-organisasi baru. Kemerdekaanlah yang mejadi tujuannya.

Setelah kemerdekaan pun, semangat melawan tak pernah surut. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang dibabat habis, semisal Panggil Aku Kartini Saja dan Gadis Pantai, adalah perlawanan Pram setelah kemerdekaan dicapai dan dianggapnya hanya simbolis saja. Selain itu, Soe Hok Gie, mahasiswa UI yang ikut berperan mengulingkan rezim Soekarno, terus menyeruakan perlawanan.

Gie seakan tak pernah kehabisan kata untuk melawan siapa pun yang melanggar hak azasi manusia. “Kalau kita hanya menunggu dan menerima nasib, kita tidak akan pernah tahu kesempatan apa yang ada dalam hidup ini.” ungkap Gie dalam cacatan hariannya. Kemerdekaan hadir karena sebuah perlawanan.

Perlawanan hari ini, akan sangat berbeda dengan perlawanan masa lalu. Jika dahulu pidato Bung Tomo, “Merdeka atau mati!” dimaknai dengan mengangkat bambu runcing, maka kini perbuatan itu akan dijegal dengan undang-undang hak asasi manusia (HAM). HAM, membuat manusia tidak boleh bertindak kasar, pada siapa pun. Dan memang, siapa yang menyetujui tindak kekerasan, kecuali dalam keterpaksaan? Namun Bung Tomo tetap tepat dalam waktunya, dan kita sekarang bukan dalam waktu itu lagi.

Melawan berbeda dengan arogan. Melawan lahir dari hati nurani yang merasa ditindas, dikibuli atau dicaci. Sedangkan arogan berontak semena-mena, atau tak mau tahu pada aturan. Buruh atau petani yang melawan dengan menuntut haknya, bukanlah kearoganan yang mesti ditindas. Mereka menjiwai semangat para pahlawan untuk mengambil haknya, berteriak sana-sini untuk menentukan nasibnya sendiri.

Adanya sebuah perlawanan, menunjukkan masih adanya penjajahan. Dalam rentang sejarah, memang keduanya selalu hadir, dan tak bisa ditawar. Dalam catatan Goenawan Mohamad yang berjudul “Al-Ghazali dan Kepastian”, diungkap bahwa memang tak ada kehidupan yang lebih baik dari ini. Manusia tak perlu bertapa mengasingkan diri gara-gara tak kuat menghadap realitas yang serampangan.

Yang mesti diperhatikan, di mana tempat yang kita harap dan perjuangkan, sebagai pahlawan kah? Sebagai penjajah kah? Atau sebagai penjajah yang bertopeng sebagai pahlawan?

Memperingati hari pahlawan, tak mesti melulu pergi ke masa lalu, bila yang kita temui hanya kisah lawas yang tak membekas. Sejarah bukan sekedar kisah heroik masa lalu, yang punya sekat dengan hari ini. Sejarah adalah cermin untuk melihat sisi semangat, bukan romantis, dan hari ini adalah pijakkannya.

Tuliskan Komentarmu !