Organisasi Humanis: Antara Kebahagiaan dan Suara Hati

ridwan rustandi

SAVANA- Organisasi merupakan ruang hidup, sekolah kepribadian dan jembatan cita-cita. Tampaknya, ungkapan tersebut tidak salah kita nisbatkan pada sebuah organisasi dalam konteks institusional, maupun organisasi sebagai ruang interaksional.

Organisasi sebagai institusi terhimpun di dalamnya beragam instrumen yang dapat menyokong dan mengakomodir aspirasi, partisipasi dan ide dari manusia yang menggerakkannya. Pada titik inilah, organisasi memiliki pola, identitas, budaya dan tujuan institusional yang harus dipelajari, dipahami dan diperjuangkan sebagaimana yang diharapkan.

Sementara itu, organisasi sebagai ruang interaksi, menghimpun beragam manusia dari latar belakang berbeda, dihimpun menjadi satu yang berpotensi menjadi sebuah kekuatan atau bahkan tantangan dan ancaman. Produk interaksional inilah yang menghasilkan beragam kebijakan, hubungan dan bahkan pengembangan ide untuk menyokong potensi orang per orang dan tujuan institusi. Dengan begitu, di dalam sebuah organisasi terhimpun kekuatan institusi dan kekuatan insani.

Secara definitif, organisasi seringkali diartikan sebagai sesuatu, sebuah, atau lembaga yang terdiri dari himpunan manusia-manusia dengan tujuan yang sama. Biasanya, tujuan organisasi ini berisi beragam gagasan dan cita-cita yang sama, sehingga mereka (orang-orang yang terhimpun dalam sebuah organisasi) memiliki kekuatan dan kepentingan bersama untuk menjadikan organisasi sebagai jembatan atau alat memperjuangkan nilai-nilai idea yang dimilikinya.

Biasanya, cita-cita dan tujuan bersama ini dimanifestasikan melalui serangkaian aktifitas dan tindakan setiap manusia yang terhimpun dalam organisasi tersebut, sehingga serangkaian aktifitas dan tindakan organisasional melahirkan beragam produk dalam bentuk sistem, kebijakan, dan hubungan antar SDM. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Daniel katz & Robert L. Kahn (1966) dalam The Social Psychology of Organization (Second Edition), bahwa organisasi adalah sebuah aktifitas kolektif yang bertujuan untuk mencapai hubungan dalam sebuah sistem, transformasi energi menjadi sistem dan produk yang dihasilkan melalui sistem.

Dengan demikian, kalau merujuk pada definisi di atas, maka ada tiga kunci utama dalam sebuah organisasi, yakni : adanya aktifitas kolektif, adanya hubungan (relationship atau partnership) dan adanya transformasi energi. Ketiga hal ini pada akhirnya akan melahirkan produk organisasi baik secara institusi maupun dalam konteks humanisasi (insani atau mamanusiakan manusia).

Organisasi dan Ruang Hidup Dinamis

Setidaknya, terdapat enam kriteria pokok dalam sebuah organisasi yang dapat dihimpun menjadi kekuatan untuk mewujudkan tujuan organisasi. Enam kriteria ini disampaikan oleh Katz & Kahn.

Pertama, setiap organisasi memiliki tujuan. Tujuan organisasi berisi seperangkat ideologi dan identitas organisasi. Ideologi secara garis besar adalah gagasan yang yang mewujud menjadi sebuah sistem nilai secara universal. Jelas, setiap organisasi memiliki basis ideologinya sendiri. Ideologi inilah yang mesti didoktrinasikan, dinternalisasikan sebagai sebuah nilai perjuangan yang mewujud menjadi identitas dan tindakan. Maka, identitas organisasi pada akhirnya tergantung pada basis ideologinya.

Kedua, organisasi memiliki kekuatan. Karena organisasi ini terhimpun dari beragam kekuatan personal, maka organisasi mensyaratkan adanya sebuah hubungan antar personal untuk saling peduli dan membangun kebersamaan. Maka, kekuatan organisasi ini terletak pada relationship atau hubungan yang saling mentransferkan energi.

Ketiga, organisasi memiliki posisi. Posisi ini ditentukan oleh adanya peran dan fungsi organisasi itu sendiri, baik secara intitusi (diferensiasi dengan organisasi lainnya) maupun secara insani (potensi insani dari manusia di dalamnya). Dalam konteks ini, organisasi dapat diposisikan sebagai sebuah sekolah kehidupan yang mampu melengkapi pengetahuan manusia dan memberikan pengalaman secara empirik dalam pengembangan kehidupan manusia secara nyata.

Keempat, sebuah organisasi memiliki sifat. Menurut Katz & Kahn sifat organisasi adalah integratif dan koordinatif. Integratif, berarti organisasi menyatukan beragam latar belakang, kemampuan dan bahkan kekurangan yang dimiliki oleh setiap anggotanya. Koordinatif, berarti pola komunikasi dan proses membangun hubungan tersebut dilakukan melalui beragam koordinasi (komunikasi) antar berbagai elemen agar tercipta suasana organisasi yang sesuai dengan harapan.

Kelima, organisasi memiliki struktur. Struktur ini berkaitan dengan pembagian kekuasaan atau jabatan  (positioning) dan pembagian kerja (job description). Aspek struktural inilah yang memainkan segenap peran, tugas dan tanggung jawab organisasi dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama. Aspek struktural menjadi karakter formal dalam sebuah organisasi.

Keenam, organisasi harus menghasilkan produk. Serangkaian kelima karakter organisasi pada ujungnya dibuktikan melalui produk organisasi. Kalau menilik pandangan Katz di atas, maka produk sebuah organisasi adalah kebijakan atau keputusan (decission), hubungan (relationship), sistem (system)¸ dan sikap atau tindakan (Behavioral).

Keenam, karakter organisasi di atas, adalah modal bagi setiap manusia yang berhimpun didalamnya untuk menjadikan organisasi sebagai ruang hidup yang dinamis.

Secara sosiologis, keberagaman latar setiap anggota organisasi akan sangat mempengaruhi pola gerak organisasi tersebut. Namun hal ini bukanlah hal yang mesti dihindari, sebab bagaimanapun sebuah keniscayaan manakala organisasi diisi oleh beragam manusia yang memiliki pikiran, sikap, karakter dan kepentingan yang berbeda.

Maka disanalah seni dalam sebuah organisasi, yakni mengintegrasikan dan mengkoordinasikan beragam perbedaan menjadi sebuah kekuatan dalam mencapai tujuan bersama. Pada titik inilah, sebuah organisasi menjadi ruang dinamis yang mesti dapat menghidupkan beragam pandangan, keyakinan dan perjuangan setiap anggotanya. Hal ini harus dilakukan agar mobilisasi person to person dan masifikasi gerakan organisasi dapat dilakukan secara optimal.

Pada tataran praktiknya, karakter-karakter organisasi ini termadahkan dalam berbagai aktifitas kolektif organisasi. Ruang dinamis organisasi yang diciptakan akan termanifestasikan baik ke dalam diri, sistem, lingkungan, pola kepemimpinan, manajemen konflik, maupun pola komunikasi organisasi.

Dengan demikian, dinamika gerakan dalam sebuah organisasi adalah sebuah keniscayaan. Sebab, dengan dinamika gerakan ini akan melahirkan persepsi organisasi yang dinamis, sebagai sebuah rumah pergerakan, sebagai sebuah wadah perjuangan, dan sebagai jendela-jendela gagasan. Manusianyalah yang sangat menentukan untuk menjadikan organisasi tidak hanya sebagai sebuah ruang dalam konteks institusi, melainkan juga sebagai ruang hidup yang dapat memunculkan potensi kemanusiaan orang-orang yang ada di dalamnya.

Organisasi Humanis, Bukan Organisasi Robot

Ada ungkapan yang menarik dari seorang psikolog Amerika, Erich Fromm, tentang manusia dan kemanusiaan. Kira-kira Fromm pernah berujar seperti ini “The danger of the past was that men became slaves. The danger of the future is that men may become robots”. Kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya: Ancaman masa lalu adalah ketika manusia menjadi budak. Ancaman masa depan adalah ketika manusia menjadi robot.

Ungkapan ini Fromm kutip dari seorang Adlai Stevenson pada saat menyampaikan pidato Ilmiah di Columbia University. Erich Fromm pada tahun 1955 menulis sebuah buku berjudul The Sane Society yang kemudian diterjemahkan menjadi Masyarakat yang Sehat oleh Yayasan Obor Indonesia.

Secara garis besar, masyarakat sehat bisa terbentuk karena adanya kepribadian sehat. Kepribadian sehat bisa terbentuk karena adanya orientasi produktif. Orientasi produktif didasari oleh cinta yang produktif, pikiran produktif, yang pada akhirnya melahirkan melahirkan kebahagiaan dan kendali suara hati. Ada dua tipe suara hati, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Maka pada konteks inilah, masyarakat sehat akan terbentuk.

Cinta yang produktif didasarkan pada prinsip hubungan yang bebas dan sederajat. Cinta produktif memiliki empat sifat utama, yakni perhatian, tanggung jawab, respek dan pengetahuan. Cinta produktif adalah upaya antar partner untuk saling mempertahankan individualitas satu sama lain.

Cinta produktif adalah cinta persaudaraan bukan cinta nafsu yang dapat menghasilkan kehancuran dan menegasikan individualitas. Pikiran produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan dan objektifitas. Pikiran produktif didasarkan pada prinsip perimbangan untuk mengukur bagamana kesesuaian antara ide dan realita. Pikiran produktif akan melahirkan gagasan jernih, gagasan jernih akan melahirkan tindakan bijak, maka kebijaksanaan akan mewujudkan pikiran dan perbuatan yang adil.

Buah dari cinta dan pikiran produktif adalah kebahagiaan. Kebahagiaan dapat dilihat dari ukuran kesehatan. Bukan hanya sehat jasmani, tetapi juga sehat rohani. Bukan hanya sehat fisik, tetapi juga sehat mental dan jiwa.

Kebahagiaan merupakan sebuah bagian integral dari orientasi produktif. Kebahagiaan bukan hanya berbicara perasaan (senang atau sedih, tertawa atau murka, dsb), melainkan juga berkaitan dengan peningkatan organisme dalam menghasilkan gaya hidup, kesehatan fisik atau jiwa dan pemenuhan potensi diri. Dan kendali untuk menjaga orientasi produktif ini adalah suara hati.

Suara hati adalah instrumen yang dapat mengarahkan manusia dan menjadi alat pertimbangan dalam menentukan suatu keputusan. Pertarungan dilematis dalam batin manusia dapat diselesaikan melalui suara hati. Adalah suara hati humanistis lah yang berpotensi untuk membangun kesadaran diri setiap manusia. Suara hati adalah penggerak, lokomotif dan pelita yang mampu mengarahkan manusia menuju orientasi produktif.

Dalam konteks keorganisasian, kaderisasi menjadi kunci dalam membangun organisasi yang solid dan humanis. Dalam konteks kekaderan, prototipe kader dibentuk melalui serangkaian pola, doktrin dan mekanisme kaderisasi yang mengarah pada upaya perwujudan kesadaran humanis.

Perwujudan ini dibentuk melalui ideologisasi dan internalisasi nilai agar person to person di organisasi tersebut memahami betul bagaimana menjadikan organisasi sebagai jembatan memunculkan potensi kesadaran sekaligus sebagai ruang aktualisasi kesadaran dengan orientasi produktif.

Organisasi mengajarkan setiap diri untuk menjadi bagian integral dari organisasi. Organisasi adalah sekolah kehidupan yang harus memberikan kepercayan kepada setiap diri agar bisa menumbuhkan dan mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya. Organisasi menjadi ruang hidup, tempat dimana manusia sebagai SDM organisasi saling mentransferkan energi, menyambunglidahkan gagasan, mewujudkan tindakan dan melaksanakan keputusan atas dasar cinta dan keyakinan.

Kekuatan humanis agar organisasi menjadi humanis sangat tergantung pada diri yang menjalankan roda organisasi dan memposisikan organisasi bukan pada madah institusi saja, melainkan juga sebagai ruang-ruang insani. Tempat setiap organisme membentuk ekosistem insani yang bersandar pada kemanusiaan.

Dalam konteks gerakan Islam, kendali suara hati dalam mewujudkan organisasi yang humanis ini mesti didasarkan pada kekuatan teologis. Suara hati humanistis dan orientasi kebahagiaan yang dicita-citakan dalam sebuah organisasi humanis mesti bersandar pada keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat transenden. Relas sosial yang terbangun dan diciptakan dalam sebuah organisasi haruslah dipagari dengan nilai-nilai moral dengan kesungguhan teologis.

Islam sedari awal mengajarkan pentingnya menanamkan nilai ketauhidan sebagai fondasi dalam bergerak. Kesatuan ummah (organisasi) yang dibangun dalam rangkaian peristiwa historis Islam dan umat Islam, adalah kesatuan yang didasarkan pada cinta persaudaraan. Maka, cinta persaudaraan yang berorientasi pada nilai-nilai tauhid akan melahirkan kebahagiaan yang hakiki. Yakni, kebahagiaan yang berorientasi tidak sebatas pada ruang-ruang fana di dunia, melainkan juga kebahagiaan abadi pada kehidupan yang lebih kelal.

Organisasi humanis, menghimpun kekuatan teologis sebagai modal dalam mewujudkan kesadaran humanis. Setiap partner organisasi saling menanamkanb cinta dan pikiran produktif untuk mencapai tujuan organisasi. Kebersamaan adalah wujud dari cinta dan pikiran ini. Maka, kekuatan teologis adalah kunci dalam membangun organisasi humanis. Sebab, kekuatan inilah yang mengarahkan manusia agar tidak seperti budak (slaves) di masa lalu dan menjadi robot (robots) di masa depan. Sebab organisasi mengajarkan bagaimana menjadi manusia dan memanusiakan manusia bukan menjadi robot-robot pelaksana program kerja.

 

 

*) Tulisan ini disampaikan dalam Bincang Santai Penyerta Muskom PK Hima Persis STAIPI Bandung, 12 April 2018.

Tuliskan Komentarmu !