Orasi dan Kepalan Tangan Kiri

Ilustrator for www.kepalan.com

SAVANA- Tangan kiri dikepalkan ke atas. Tangan kanannya memegang toa dengan erat. Ia berdiri di atas batu, di sudut kota yang tak begitu ramai, namun membisingkan.

“Kita adalah manusia-manusia yang baru, yang dapat hidup dengan cara yang berbeda.” Ia mulai berteriak-teriak, entah kepada siapa. “Jika nenek moyang kita berburu dengan tombak di tangan, dengan napas yang terpenggal-penggal, kita sudah bisa berburu dengan satu telunjuk saja, tanpa mengeluarkan keringat setetes pun. Jika nenek moyang kita harus bertani untuk bisa makan, kita cukup menjual tanah itu untuk dijadikan apartemen atau mall, dan dari uang itu kita bisa makan.”

Satu dua ada orang yang melirik, yang lalu berjalan kembali dengan acuh.

“Wahai manusia-manusia banal, dengarlah! Gedung-gedung tinggi itu tidak akan cukup untuk menampung kalian semua. Jalan-jalan mulus itu tidak ternikmani oleh kalian karena kalian hanya mampu berjalan kaki. Taman-taman itu tak ada gunanya jika di rumah kalian tak ada sepincuk pun nasi. Tapi percayalah, akan datang kepada kalian satu masa yang membahagiakan. Akan datang kepada kalian seorang manusia yang mempunyai misi perjuangan. Maka, ikutilah dia. Niscaya kalian akan berbahagia.”

Seorang kakek tua yang terusulut oleh ucapan ‘manusia banal’ mulai memerhatikan, lalu menggerutu: “Dasar anak jalang! Kau pikir dirimu Yesus.”

Seorang pemuda yang berambut gimbal dan memakai kaca mata tebal ikut memerhatikan, lalu ikut berkomentar sambil manggut-manggut: “Sosialis sejati. Tapi barangkali, kita harus mencermati kembali langkah gerak kita. Kau tau kan, di sini bukan tempat yang aman untuk segala macam wacana? Bahkan untuk wacana teraman sekali pun.”

“Sodara-sodaraku sekalian.” Ia memulai berteriak-teriak kembali. “Kita jangan pernah takut dengan segala macam ancaman. Manusia-manusia yang takut mati adalah manusia yang tidak pernah tau kebenaran, dan bagaimana harus menanggungnya. Hidup ini KEJAAMMM SODARA! Maka hidup tidak diperuntukkan manusia-manusia lemah. Hidup hanya untuk manusia-manusia kuat. Kuat akan prinsipnya.”

“Cungur ingusan, tau apa!” gerutu si Kakek tua itu.

“Radikal, walau masih agak serampangan. Tapi, salut!” ucap si pemuda berkaca mata tebal yang rambutnya gimbal itu.

Seorang pemuda lain ikut memerhatikan. Rambutnya klimis dengan belah sisi. Kaca matanya tipis, setipis sisirnya. Jasnya harum, seharum taman bunga. Ia mengeluarkan handphone keluaran terbaru, lalu membuka salah satu akun media sosialnya, lalu mengusap layar yang bertuliskan “live”.

“Kita hidup di zaman yang serba dimudahkan.” Orator ulung itu memulai kembali. “Mau belanja tinggal ‘klik’, mau cuci mata tinggal ‘klik’, mau baca-baca berita tinggal ‘klik’, termasuk mau memenjarakan seseorang atau membubarkan sekelompok orang. Begitu mudah hidup ini sekarang, katanya, kata orang yang berkantong tebal. Tapi lihat diri kalian, Sodara! Pagi-pagi sudah kena semprot bos yang sebenarnya tidak lebih giat ketimbang kalian. Pagi-pagi sudah dihukum guru yang sebenarnya tidak lebih rajin ketimbang kalian. Ayolah Bung, kita harus mulai belajar berani! Banci itu bukan manusia abu-abu, tapi kalian yang tidak punya jiwa pemberani.”

“Ni bocah cari mati kayanya.” Gerutu si Kakek tua itu lagi.

“Revolusioer, tapi tidak ngilmiah.” Komentar pemuda berkaca mata tebal yang berambut gimbal itu lagi.

“Ayo, ayo. Yang lebih menyulut amarah lagi!” bisik dalam hati pemuda berambut klimis yang kaca matanya tipis itu.

“Sodara-sodaraku sekalian. Batu besar ini kelak akan menjadi saksi. Saksi perjuangan kita. Saksi perlawanan kita. Kelak kita akan mati, namun batu besar ini akan tetap berada di sini, merindukan orang-orang semacam kita. Esok atau lusa, mungkin darah kita tidak akan mengalir lagi, tapi semangat ini akan terus mengalir bersama anak cucu kita. Perjuangan akan selalu ada. Perlawanan akan selalu muncul. Ingat sodara, hidup kita akan dipertanggung-jawabkan.”

“Ni bocah bukannya kerja, malah ceramah.” Gerutu si Kakek tua sambil berlalu.

“Lho kok jadi melow gini. Belum berbuat apa-apa selain berkoar sudah merasa paling segalanya. Sungguh tidak progresif!” komentar pemuda berkaca mata tebal itu sambil berlalu.

“Ah, sudah tidak asyik lagi.” ucap pemuda yang berambut klimis, sambil mengusap layar yang bertuliskan ‘selesai’.

Orator itu turun dari batu besar. Lalu mengambil kaleng yang sedari tadi ia pajang sebelum memulai orasi. Ia memerhatikannya, ada kertas dan ada juga recehan.

Yang lalu menjadi ramai adalah di akun media sosial si pemuda yang berambut klimis dengan kaca mata bergagang tipis. Berbagai macam komentar dilayangkan, bahkan satu komentar disanggah oleh komentar lain, pun begitu seterusnya.

Tuliskan Komentarmu !