Orang-orangan Tengah Malam

17 agustus
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Menjelang hari kemerdekaan di pertengahan tahun, sepanjang jalanan di kotaku dihiasi dengan berbagia pernak-pernik. Kemerdekaan harus dirayakan, kemerdekaan adalah kemenangan yang tidak ternilai harganya. Kemerdekaan adalah perjuangan. Di sepanjang jalanan itu pun, kemerdekaan disambut dengan berbagai macam warna, merah dan putih menjadi warna paling dominan, kedua warna adalah warna kebanggaan yang menjadi lambang negara. Merah putih adalah bendera yang selalu berkibar meskipun angin tak bertiup kencang, merah putih dikibarkan oleh semangat , doa dan harapan.

Bukan hanya merah-putih, warna-warna lainnya menghiasi sepanjang jalan itu. Orange, ungu, kuning, dan beragam warna lainnya. Barangkali, bulan kemerdekaan adalah bulan penuh warna. Sebagaimana, kemerdekaan itu dicapai lewat penyatuan berbagai macam golongan, berbagai macam suku, penyatuan keinginan untuk merdeka. Menjadi manusia bebas, bukan menjadi suruhan.

Itu pula, yang menghiasi jalanan itu, di depan toko kolontong, atau gerbang pabrik-pabrik tekstil di area industri di kotaku. Semua menyambut kemerdekaan dengan berbagai hiasan warna di sepanjang jalan.

“Wey, kurang ke kiri,”

“Masih agak miring! Iya, kanan sedikit,”

“Nah itu pas, lebih ajip kelihatannya,”

Di depan gang-gang, dibangun gapura dari kayu. Rumpun bambu menjadi penghias yang diambil dari kebun di belakang kampung. Kalau sudah tak ada kebun, orang-orang patungan hanya buat membeli bambu atau berbagai hiasannya. Di setiap mulut gang, gapura didirikan. Di tembok-tembok warga sepanjang gang ditulis berbagai mural, seni lukisan jalanan dengan tema kemerdekaan. Merah-putih menjadi warna dominan. Sehingga ketika senja perlahan memudar, cahaya akhirannya menerpa seni lukisan jalanan itu.

“Dirgahayu Negeriku”

“RW011, RT 018,”

Berbagai kreasi kesenian warga bermunculan di bulan kemerdekaan di pertengahan tahun. Kemerdekaan benar-benar harus dirayakan walaupun tiap hari dipusingkan dengan masalah perut yang keroncongan, kuota internet yang hampir habis, bayaran bulanan kos-kosan. Siapapun harus merasakan kesenangan dari kemerdekaan, orang-orang miskin, penjaga warnet, tukang ojeg atau supir angkot yang belum juga mendapat penumpang hingga pukul 11.00 malam.

Kemerdekaan, barangkali harus melupakan sejenak masalah sebagai akibat dari kemiskinan. Hiasan seni sepanjang jalanan itu menjadi bukti jika orang-orang siap menyambut kemerdekaan. Di mulut gang, bukan hanya gapura yang dibangun orang-orang, atau mural-mural warna-warni yang menjadi tempat buat swafoto lalu upload ke media sosial.

Kreasi warga berseliweran, kemerdekaan memantik kreativitas. Termasuk membuat orang-orangan. Di depan gapura menjelang masuk gang, berbagai orang-orangan diciptakan. Dari kardus bekas, dibuntel dengan kertas-kertas lalu dipercantik dengan baju-baju bekas.

Orang-orangan di setiap gang memakai baju berbagai macam. Di gang desa anu, orang-orangan di make up sedimikian rupa mirip Pak Haji. Wajahnya dilukis yang terbuat dari kardus, lalu badannya menggunakan baju taqwa, melingkar sarung dan lengkap dengan peci di kepalanya. Banyak pula orang-orangan yang berseragam tentara. Bahkan dibuatkan tank lengkap dengan pistol yang terbuat dari kayu.

Serupa warna-warni yang menghiasi sepanjang jalanan, orang-orangan itu pun bermunculan di mana saja. Bukan hanya di depan gapura menjelang masuk gang. Orang-orangan dengan berbagai baju dan karakter berada di mana-mana. Di desa anu, orang-orangan disimpan di atas tiang lampu jalanan, wajahnya dilukis dengan emoticon tersenyum.

Di desa anu, orang-orangan disimpan pada pegangan jembatan. Di pegangan sebelah kanan terdapat orang-orangan dengan karakter lelaki menggunakan jaket merk levi’s, sedangkan pada pegangan jembatan sebelah kiri mirip orang-orangan perempuan. Rambut yang terbuat dari sapu injuk dikucir, lalu di bagian dadanya menonjol payudara yang terbuat dari koran bekas yang ditumpuk. Bajunya kebaya dengan rok panjang model tahun 90-an.

Orang-orangan bermunculan di mana saja, seolah menjadi barang wajib setiap kemerdekaan. Di desa anu, warga membuat orang-orangan mirip pendekar silat yang dibalut baju pangsi hitam dengan bengker merah putih. Wajahnya dibuat garang dan berotot. Banyak karakter orang-orangan diciptakan sepanjang jalanan itu, berjubel dengan hiasan dan gapura menjelang masuk gang.

Orang-orang barangkali berpikiran jika orang-orangan itu adalah pahlawan di masa lampau yang memperjuangkan kemerdekaan. Tak ada salahnya mengingat jasa mereka yang besar bagi negara dengan menciptakan orang-orangan. Orang-orang yang lewat di sepanjang jalan itu, di kotaku, bisa mengingat pahlawan lewat orang-orangan yang diciptakan warga. Kesibukan keseharian membuat orang-orang lupa terhadap jasa orang-orang masa lalu. Kesibukan membuat orang-orang lupa bukan saja terhadap orang lain, tetapi untuk sekedar mengingat dirinya sendiri. Bukankah masa lalu adalah guru?

Di tengah malam tanpa purnama, angin mengembus cukup kencang. Anjing di ujung kampung melonglong. Mungkin anjing jantan yang mencari betinanya. Malam sunyi tanpa purnama adalah waktu tepat untuk menikmati keindahan pancaran cahaya dari gugusan bintang yang bertebaran pada langit yang gelap.

Lalu, angin menggerakan baju taqwa orang-orangan yang diciptakan sebagai karakter Pak Haji. Segerak kemudian, tangan yang terbuat dari jerami bergerak. Pada malam tanpa purnama, orang-orangan itu menjadi hidup seolah bernyawa. Orang-orangan itu berjalan perlahan, matanya berkedip, hidungnya menghirup lalu batuk karena bau limbah pabrik tekstil yang dibuang ke sungai pada tengah malam.

Orang-orangan itu bergerak, berjalan ke arah selatan tapi entah apa tujuannya. Di jembatan yang menjadi penghubung desa anu ke desa anu, orang-orangan lelaki dan perempuan tiba-tiba hidup padahal tak bernyawa. Keduanya saling menoleh, lalu wajah yang sebenarnya lukisan dari arang saling melempar senyum. Orang-orangan itu menatap, mereka seolah menemukan cinta setelah ribuan tahun perjalanan. Pada malam tanpa purnama, orang-orangan tentara yang disimpan dipinggir jalan menjelang masuk gang berdiri tegap. Dia menoleh ke atas, melihat sejenak langit malam yang penuh dengan tebaran cahaya bintang.

“Langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku (1). Tapi apakah aku bemoral?”

Orang-orangan tentara itu, entah bagaimana seolah mengingat masa lalunya. Orang-orangan tentara yang diciptakan warga tanpa hati, seolah merasakan kegetiran hatinya. Pada masalalunya, bagaimana mungkin dia telah berjuang tetapi malah meninggalkan istrinya yang mengandung anak pertamanya sendirian. Semua demi kemerdekaan.

Pada malam tanpa purnama, entah  berapa ribu kejadian telah terjadi. Orang-orang beranggapan malam adalah misteri. Semua disembunyikan pada gelap malam yang mempesona itu dengan bintang yang gemerlapan. Orang-orangan yang tiba-tiba hidup mengingat identitasnya, entah siapa yang memberinya ingatan sedemikian rupa. Karakter Pak Haji berjalan ke selatan mencari surau kecil yang dulu terpaksa dirubuhkan.

Semua bisa terjadi pada malam hari. Di tengah bulan ketika purnama belum nongol. Angin menghembus dingin, membawa ingatan tentang apa saja, siapa saja, dimana saja. Di sepanjang jalan itu, orang-orangan dari kreativitas warga menyambut kemerdekaan bergerak, berjalan, mengingat, tanpa tujuan.

***

Di sudut kamar pada penampungan anak, seorang anak sedang membuat orang-orangan. Perkembangan zaman memudahkannya mencari bahan apa saja untuk membuat orang-orangan. Berbekal gadget dan wifi, anak itu melihat dari youtube. Lalu, sore hari ketika cahaya senja yang keemasan, anak itu tak keluar kamarnya. Dia membuat orang-orangan.

Dibuatnya dua orang-orangan. Lelaki dan perempuan. Keduanya tampan dan cantik. Lelaki orang-orangan itu dadanya bidang, rambutnya gomplok walaupun dari tali rapia hitam yang digunting tipis lengkap dengan pakaian modis tahun 2000-an. Sedangkan si Perempuan dibuat cantik. Bibirnya tipis, pipinya agak kerucut lalu dibuat lesung ketika tersenyum. Badannya sintal, dadanya padat dan menggumpal. Lelaki dan perempuan orang-orangan itu berpegangan tangan lalu disimpan di pinggir lemari di antara meja belajar.

Pada malam tanpa purnama, orang-orangan itu bergerak. Keduanya mendekati anak yang tertidur pulas. Saling menoleh kemudian menatap wajah anak itu. Air mata perempuan beruai, mengalir disela pipi membuat aliran sungai air mata yang berakhir pada kesedihan. Diusap kening anak itu, disibahkan rambutnya.

“Kelak kau akan menjadi pahlawan bagi mimpimu, Nak!”

  1. Immanuel Kant
Tuliskan Komentarmu !