OOTL: Kumpulan Esai yang Nganu!

iqbal aji daryono
Foto: Dok Pribadi (Nurdin A)

SAVANA- Awalnya tak ada niat sedikit pun untuk mempromosikan mengulas buku ini. Selain sulit, tapi juga karena penulis yang satu ini banyak akalnya, banyak pikniknya, banyak juga pemujanya. Tapi karena dia yang menantang sendiri, jadi… oke baeklah.

“Mari kembali ke media sosial, dan silakan lempar pukulan terkeras Anda dengan menandai akun Facebook Iqbal Aji Daryono atau akun Instragram @iqbalkita.” tulis IAD (Ilmu Alamiah Dasar, eh) ini dalam sub judul Sampai Jumpa, sebelum halaman Biografi Penulis yang ada foto tamvannya itu -sekedar menunjukkan bahwa saya Sunda dan saya bisa menulis huruf v.

Kalau pun toh tak ada ‘pukulan keras’ yang dapat saya layangkan (selain pisuhan-pisuhan tak berarti), itu semata karena saya kasian. Kasian kalau nanti buku ini malah dibredel atau malah dilarang terbit lagi. Misalnya jika menyoal sampul. Di sana ada logo Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, sedang logo Persis, HTI, Serikat Islam dan ormas-ormas lainnya tidak ada!

Jelas ini pendiskreditkan pada ormas-ormas tertentu. Kalau pun toh itu karena semata tak ada pembahasannya, kan pembahasan tentang HTI ada! Ternyata Mas Iq lebih rida mencantumkan logo halal ketimbang lafaz tauhid. Astagfirullah… ini konspirasi. Ia mencerca tisu halal, panci halal, dan sebangsa barang-barang halal lainnya, tapi bukunya sendiri dilabeli halal, sedangkan isinya liberal….? Duh, duhhh,  segera tobat akhi, kita sudah memasuk akhir zaman.

Sudah, sudah. Jangan terbawa emosi. Dan kalau saya lanjutkan pisuhan ‘pukulan keras’ macam itu, bisa-bisa buku Mas Iq yang satu ini akan cepat habis, tentunya untuk dibakar. Huaha.

Dalam perpolitikan, Mas Iq memang dikenal sebagai cebong yang nakal, yang suka juga mengusik singgasana Jokowi. Dalam beragama, Mas Iq sering dikatakan sebagai Muslim liberal, walau dirinya sudah mengaku sebagai Muhammadiyah kultural –terus apa maksudnya dengan judul esai: Oh, Betapa Indahnya Jadi Muslim Liberal yang terbit di Mojok itu? Silakan simak dan resapi sendiri isi esainya. Dalam kesosialan, Mas Iq, emmm apa yah, emmm jadi orang bijak (ciee) yang berdiri di tengah-tengah antara bangsa kiri dan bangsa kanan. “Bukan orang bijak, tapi orang yang mencoba berpikir adil.” Oke baeklah~

Kumpulan esai dalam buku Out of the Lunch Box (keluar dari kotak makan siang) ini merupakan kumpulan esai yang sebelumnya sudah dimuat di media online, semisal detikcom, mojok.co, kumparan.com, dan berbagai media online mentereng lainnya kecuali savanapost.com dan media abal-abal lainnya. “Sudah tau!” Oke baeklah~

Dalam kumpulan esainya ini, Mas Iq menyisipkan humor-humor yang segar, alur yang sulit ditebak, dan selalu menghentak akal sehat. Lewat kumpulan esainya ini, Mas Iq menggedor kesadaran kita tentang betapa naifnya kita berpolitik, betapa terbatasnya kita berpikir soal toleransi beragama, dan betapa mudahnya kita mengklaim dan menghakimi orang lain. “Basi! Malah muja-muji. Dasar penjilat!” Oh siiip~

Esai-esai yang ditulis Mas Iq ini terbilang gaya baru, gaya era kebangkitan media sosial, terutama facebook yang memberi ruang untuk menulis status sepanjang mungkin. Esai-esai ala kolom Umar Kayam dan Gus Dur di majalah tempo, diracik sedemikian rupa untuk menyesuikan dengan pemirsa media sosial, hingga menjadi dipenuhi dengan imaji dan satire. “Sok tau! Ini esai, bukan resep makanan.” Siyap bosqu~

Tapi tak sedikit pula yang akhirnya gagal paham karena sentilan Mas Iq yang begitu vulgar. Atau mungkin lebih tepatnya bukan gagal paham, tapi emang baperan orangnya. Ketika Mas Iq menyampaikan sesuatu yang berseberangan dengan kebiasaan berpikirnya, sedang ia tak punya argumen logis untuk menyangkalnya, maka cukup beri stempel liberal atau buzzer cebong, kelar, tanpa harus berpikir ulang. “Woi, mikir itu harus pakai otak dan hati juga kelesss.” Yo wes ben~

Baiklah, cukup puja-pujinya. Sekarang tinggal minta honornya. Ekhem. “Emang bakal dibaca oleh Mas Iq? Tulisan tak berarti gini! Dimuatnya juga oleh Savana, bukan Mojok, Kumparan, apalagi Detik. Lagian tulisannya juga cuma se ehe. Ngaca!” Oke baeklah~

Mas Iq, dengan kerendahan tubuh saya, saya cuma mau bilang, bahwa saya sudah menyumbangkan beberapa suap nasi -yang keluar dari kotak makan siang-untuk Mas Iq. Harga buku Mas Iq ini setara dengan 4 hari kebutuhan ngebul saya lho. Permintaan saya cuma satu, yakni Mas Iq selfi dengan tidak memakai kaca mata, lalu upload dan tag akun savana. Itu saja.

“Uh, dasar aneh! Minta kok yang gituan. Gak berkualitas!” Situ yang bilang kalau tulisan ini gak mungkin dibaca Mas Iq, nying! Jadi ngapain saya harus minta yang… ah, sudah lah.

Judul          : Out of the Lunch Box
Penulis        : Iqbal Aji Daryono
Penerbit      : Shira Media
Tahun terbit: 2018 (Cetakan pertama)
Halaman      : xvi + 244
Label          : Halal, tapi belum tentu toyib.

Baca Juga: Nestapa dalam Jenaka

Tuliskan Komentarmu !