Nikah Muda; Bukan Sekedar Kasur, Sumur dan Dapur

pemuda pengikat cinta
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Di zaman sekarang ini, perbedaan adalah hal yang lumrah alias biasa-biasa saja. Apalagi perbedaan pemikiran atau pandangan. Lumrah sekali hal ini. Bahkan, dari jaman nenek moyang dulu juga udah ada yang namanya perbedaan. Namun yang perlu digaris-bawahi, bagaimana kah maksud melakukannya? Apakah tujuannya? Apakah menimbulkan mudharat atau tidak?

Oh ya, sebelum bahas kasur, sumur dan dapur nih, saya mau kasih tau dulu ya, kalau saya sendiri orangnya gak kaku-kaku amat dalam berIslam. Tapi ya aku tetap belajar mana yang baik, mana yang Allah ridho, mana yang juga suami  ridho (suatu saat), orang tua ridho. Ya tetap saja aku ini orangnya gak enakan dengan orang terdekat, dan tentunya kalau ada pemahaman yang berbeda, ya saya mencoba memahamkan mereka dengan cara sesantun mugkin.

Jujur nih guys, pernah gak sih kalian merasa takut kalau nikah muda? Sekarang kan lagi ngetrend-ngetrendnya tuh nikah muda. Tapi bukan berarti kita ikut-ikutan dan baper-baperan kalau lihat Nata Reza atau Muzammil atau  selebgram  yang lagi booming, kan? Kalau menurutku nih, nikah muda tuh kadang ada ketakutan, misalnya gimana ya kalau nanti gak boleh kuliah lagi? Gimana ya kalau nanti hanya jadi IRT aja? Gimana ya kalau nanti tidak boleh bekerja?

Pertanyaan-pertnayaan dalam hati ini selalu saja menghampiri, ya utamanya pada diriku ini. Mungkin kalian pernah merasakan  juga, kan? Ya emang sih, aku di sini masih singelillah gitu ya, tapi bisa lah sharing-sharing dari yang kudapat dari baca buku dan juga seminar-seminar.

Kalau nikah muda, apa bakalan ya, kita hanya tahu kasur, sumur dan dapur? Sebab nih ya,  kan sekarang yang kebanyakan nikah muda para ikhwan akhwat yang kekeh banget sama agamanya gitu. Ya gak semua sih sebenarnya suami atau laki-laki menyarankan agar wanitanya atau istrinya tetap tinggal di rumah. Namun ya, banyak juga yang kekeh akan hal ini.

Aku bukan bicara emansipasi sih, namun apa iya setiap wanita bisa hanya berkutik ke kasur, sumur, dan dapur? Bisa-bisa stres nanti. Tapi ya ada juga kok yang betah dengan hal begitu.

Sekilas kita lihat kisah hidup Istri Ario Muhammad, penulis buku PHD Parents Story, lalu kita melihat wanita hebat dan kuat, yaitu Mba Dewi Nur Aisyah. Melihat sisi positif yang mereka lakukan, kebaikan mereka mengebagikan kebaikan, motivasi, apakah hati kecil kita tidak tergerak melakukan kebermanfaatan bagi orang lain dengan cara kita sendiri? Dan perlu kita sadari, pahala itu tidak semata-mata menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, pahala itu luas macamnya, termasuk memberikan kebermaanfaatan bagi orang lain.

Kalau kita sudah berkeluarga, ya sebaiknya jika ada keinginan untuk bekerja, atau tholabull ilmi lagi, baiknya dan harus mendapatkan ridhonya suami. Bagaimana jika tidak dapat ridho? Yah ini nih, pertanyaan besar dan sekelumit pandangan-pandangan muncul yang mengakibatkan kita jatuh dan takut untuk berkembang.

Makanya Guys, hal ini harusnya gak jadi masalah kalau sejak awal mau menikah atau sejak awal taaruf, itu diomongkan bersama. Keinginan setelah menikah bagaimana, intinya visi masing-masing dan bagaimana menyatukan visi itu. Sehingga nih, kamu dapat memenage waktu sebaik mungkin.

Kata sebagian para akhi, wanita itu perhiasan. Jadi, berdiamlah di rumah-rumahmu yang mana itu surgamu. Kalau keluar, itu akan menimbulkan fitnah. Iya memang, wanita itu fitnah bagi laki-laki. Meski mengenakan hijab, wanita itu ya emang tetap fitnah bagi laki-laki. Namun sepanjang wanita itu bisa menjaga dirinya dekat dengan Rabbnya, melakukan segala sesuatu untuk Allah, pasti kok Allah akan melindungi.

Cobalah berkaca pada shahabiyah jaman Rasulullah, ketika Asma binti Abu Bakar hamil, tetap saja mengangkat para korban perang, dan Rasulullah s.a.w tidak melarangnya. Inilah bukti bahwa wanita itu kuat dan mampu. Lihat Dewi Nur Aisyah dan juga istri Ario Muhammad, bukan kah bisa menjadi inspirasi bagi kita, bahwa menikah dan mempunyai anak tidak menghalangi untuk berkarya dan menuntut ilmu? Tentunya peran suami juga sangatlah mendukung, adanya kerja sama antara suami , istri dan anak.

Aku juga pernah baca buku nih, yang mana tak selamanya ibu yang stay di rumah bisa mendidik anaknya dengan baik. Karena yang utama itu bukan kehadiran mams di sisinya setiap saat, tapi ilmu parenting lah yang menentukan.

Lihat tuh di desa-desa, khususnya tempat saya tinggal nih. Kebanyakan wanita jadi IRT, tapi itu si anak juga gak banyak yang bisa melanglang buana. Ya sebagian kecil memang ada, namun hanya beberapa.

Itulah polemik-polemik yang ada di dunia keparentingan. Yang penting atau yang perlu kita tahu, bahwa kehadiran ibu di rumah saja belum cukup. Keberhasilan anak suatu saat ditentukan oleh ilmu parenting yang diterapkan oleh kedua orang tuanya. Jadi, apakah para suami, akhi-akhi, masih kah kalian tidak membolehkan wanita berkarya di luar rumah?

Dan ketahuilah, menurut Mba Dewi Nur Aisyah, kunci kesuksesan sebuah pernikahan itu ya sama-sama bisa melejit keduanya. Bukan untuk menunjukkan keunggulan masing-masing, atau yang menang siapa antar pasangan, namun ini untuk menumbuhkan semangat belajar keduanya.

Tidak kah kasihan jika para istri setelah menikah kurang upgrade ilmu-ilmu pengetahuannya, dan kalian para suami lebih tau segala hal? Bukannya para istri itu iri, namun esensi pernikahan itu bisa membuat keduanya sama-sama memudahkan untuk mencapai cita-cita. Dan selama cita-cita itu tak mengandung mudharat, kenapa tidak untuk diperjuangkan?

Jadi ayolah, berpikir lebih terbuka lagi, lihatlah dunia luar. Wanita itu kuat, wanita itu tidak lemah. Selama tugas dapur, kasur, dan sumurmu tidak ada masalah, kenapa mesthi ragu untuk berkarya sesuai passionmu? Menikah bukan untuk membatasi keduanya atau salah satu, namun lebih kepada bagaimana keduanya bisa melejit bersama, dan tentunya melakukan itu semua agar mendapatkan ridho Allah s.w.t. Allahua’lam.

Tuliskan Komentarmu !