Nestapa dalam Jenaka

nestapa dalam jenaka
Sumber gambar: kompas.com

SAVANA- Hadirin yang berbahagia, pernahkah anda mendengar kata palsu, kepalsuan atau mungkin lebih ekstrimnya, kemunafikan? Tapi, tolong jangan konotasikan kata kemunafikan ke dalam ranah agama, karena ini hanya tulisan sederhana. Selayaknya rumah makan sederhana yang harga makanannya sangat terjangkau bagi para kesatria muda pencari cinta.

Kepalsuan atau kemunafikan, akan saya terjemahkan sebagai sifat pura-pura. Ya, pura-pura akan segala sesuatu. Pura-pura belum makan padahal sudah, pura-pura sudah mandi padahal belum sama sekali, pura-pura bahagia padahal terluka, dan masih banyak lagi.

Karena kewajiban kita selaku manusia untuk saling mendoakan sesama saudara, maka, semoga anda yang merasa berada dalam kepalsuan cepat diberi petunjuk oleh yang Mahakuasa.

Setiap anak cucu Adam a.s memiliki karakter yang berbeda-beda. Ya, saya akui, tapi saya tidak akan berlarut-larut dalam khazanah itu, karena berlarut-larut itu sangat menyakitkan. Walau ada juga berlarut-larut yang enak, seperti minum larutan penyegar cap kaki gajah. Jangan ketawa, ini sangat tidak lucu!

Ada apa gerangan dengan pura-pura? Banyak hal di dunia ini yang sangat erat kaitannya dengan kepalsuan. Sangat erat bahkan. Seperti sudah jadi kulit yang melapisi setiap bagian tubuh, lalu membuai mesra setiap gerak langkah manusia.

Disadari atau tidak, dalam menjalani kehidupan ini kita selalu dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang kadang menyesakan dada. Nafas yang sejatinya lancar, serasa tersendat oleh sesuatu yang tidak kita tahu wujudnya. Tersedak pada saat makan adalah seurai contoh yang cukup sama.

Namun, tersedak ketika makan dapat kita obati dengan segelas air es jeruk. Tapi, jika kita tersedak dalam hati, obat apa yang hendak kita cari? Hingga pada akhirnya senyuman kepalsuan, tawa kepalsuan, hingga jenaka menjadi topeng paling palipurna.

Setiap insan di bumi memiliki cara tersendiri dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya. Baik ataupun buruk jalan yang ditempuhnya, adalah benar menurut pribadinya. Saya pernah mendengar istilah: “Biarkan saya menderita, asalkan dia bahagia”.  Tragis memang, ketika istilah tersebut sudah masuk dalam pola pikir para pemuda-pemudi bangsa Indonesia.

Istilah tersebut sebenarnya multitafsir. Biar para pembaca saja yang menafsirkan istilah tersebut, karena saya belum berani untuk menafsirkan istilah itu. Kenapa? Bukan apa-apa, cukup saya dan Tuhan saja yang tahu.

Cinta, benci, dendam, sayang dan sebagaiannya menjadi alasan manusia berpura-pura. Apa yang sebenarnya diinginkan dari kepura-puraan? Ingin terlihat tegar? Teguh pendirian? Kuat? Dewasa? Bahagia? Ceria?

Apapun itu, manusia memiliki ruang khusus yang hanya dirinya saja yang mengalami dan mengetahui. Kesendirian adalah waktu-waktu terbaik baginya dalam merenungkan segala sesuatu yang akan mendewasakan diri.

Tuhan tidak pernah sungkan untuk dipinta dalam setiap ungkapan doa. Tuhan tidak pernah menolak untuk diajak bercerita tentang cinta, suka mau pun duka. Nestapa ataupun jenaka kita, tak pernah menjadi penghalang untuk menjadi hamba-Nya yang mulia. Karena kita tidak akan pernah bisa berpura-pura di hadapan sang Mahakuasa. Jadi, bersabarlah.

Untuk kalian yang sedang patah hati tapi tidak sanggup mengungkapkannya

Baca Juga: Kisah Cinta yang Tak Tuntas

Tuliskan Komentarmu !