My Salwa My Palestine; Adakah Kemanusiaan Sejati?

SAVANA- Setelah saya mendapat berita tentang dihapusnya negara Palestina dari google maph, saya pun langsung mengingat novel My Salwa My Palestine yang ditulis oleh Ibrahim Fawal. Saya kira, kisah novel itu sudah berakhir bersamaan dengan dengungnya Humanisme yang semakin pekak disuarakan oleh dunia Barat, sekaligus diakuinya negara Palestina oleh PBB.

Namun ke sini-sini kata berita yang dilansir CNN, Palestina hanya menjadi pengamat non-anggota; Palestina masih belum punya suara. Maka sedari awal, sejak 2010, google maph memang sudah tidak mencantumkan negara Palestina, kitanya saja yang baru sadar.

Saya tak akan mengungkit-ungkit fakta sejarah, karena memang saya tak punya kapasitas di bidang itu. Saya hanya merindukan bacaan saya 3 tahun silam, bacaan yang sudah bikin saya baper tak kepalang, yaitu novel My Salwa My Palestine.

Walau saya belum sempat ke sana, tapi seteleh membaca novel itu, saya seolah punya ikatan darah; suasana sebuah negri yang dirindukan. Salah satu yang saya rindukan dari novel My Salwa My Palestin adalah sebuah latar dan suasana bau tanah yang amis.

Palestina tak hanya saya artikan sebagai sebuah letak geografis atau negara yang bisa dimusnahkan –sebagaimana Ibn Khaldun menggambarkan bahwa awalnya negara memang tak ada, lalu dibangun oleh manusia, dan kapan pun bisa runtuh dengan sendirinya atau dihancurkan; tapi sebuah latar dimana manusia bisa hidup dalam damai; Islam-Yahudi-Kristen. Kedamaian dan kesejahteraan yang dirindukan, namun sekaligus juga mendatangkan kecemburuan dari negara tetangga.

Rasa cemburu itulah, yang oleh agama apapun sulit untuk dibendung. Hampir tiap konflik dalam sebuah lakon, selalu dilatari oleh rasa iri, dengki, atau cemburu. Begitu pun saat Ibn Khaldun menjelaskan tentang masyarakat yang sering berperang, tak lain karena adanya ketimpangan, lalu saling mencemburui.

Kata Tetsuko Kuroyanagi dalam Totto-Chan’s Children: apapun alasannya, perang selalu menyisakkan luka yang teramat dalam. Biaya untuk membangun dan untuk menghancurkan sama besarnya, manusia meregang nyawa dengan cara tak wajar, dan yang tersisa sama tersiksanya akibat trauma. Lalu, kenapa manusia bisa bertindak sebodoh itu?

Duta kemanusiaan UNICEF itu memang sudah amat mengerti tentang luka manusia, terutama anak-anak di Benua Afrika. Disaat jutaan manusia di belahan dunia lain membutuhkan biaya untuk sekedar hidup, di belahan dunia lain malah sedang asyik …. (saya tak mampu untuk mengungkapnya; agak lebay memang, tapi biarlah)

Saya masih membicarakan novel itu, dan memang agak melankolis kalau saat mengingat bab-bab berlangsungnya peperangan; ada yang sekuat tenaga bertahan, dan ada yang mencoba merebut; dan siapa sebenarnya yang diuntungkan? Tiap-tiap orang yang berangkat perang, mempersilakan dirinya untuk menjadi incaran kematian. Lalu siapa yang lebih terhormat: sang pembuat onar kah, atau yang mempertahankan diri?

Di bagian epolig, cukup mengharukan sekaligus menjengkelkan. Harunya karena sang lakon utama bertemu kekasihnya dan mendapat setitik kebahagiaan di pengungsian. Jengkelnya, sang antagonis masih menyimpan dendam; enggan berdamai walau kekejaman dan kebohongannya sudah terendus dunia. Dendam, memang selalu menuntut balasan.

Seperti sejarah-sejarah di Indonesia, termasuk juga mungkin di belahan dunia lain; ia bisa begitu lentur di hadapan sang penguasa, begitu juga pengusaha.

Ini fiktif, seperti saya ungkap sedari awal; saya hanya sedang merindukan bahan bacaan 3 tahun silam.

Disaat arus informasi datang begitu deras, saya sadar sebuah tulisan “remeh” semacam ini tak akan mampu mengubah apa-apa; kecuali hanya mengurangi rasa bersalah saya karena masih tak mampu berbuat apa-apa. Palestina, akan terus berjalan sesuai takdirnya; walau kelak ia lenyap sama sekali.

***

Seminggu yang lalu saya mendapatkan kabar terbaru tentang Palestina, yang seolah ingin mengabarkan bahwa cerita fiksi tak selamanya imajiasi semata. Tentang keterusiran, dendam, perang, ingin menghancurkan satu golongan dan menunjukkan keperkasaan golongan yang lain, benar-benar terjadi di negara seberang sana, hingga sampai saat ini. Kita seolah terus ditanya, adakah kemanusiaan? Atau seperti Hermes dalam mitologi Yunani, hanya sebuah mitos.

Tuliskan Komentarmu !