‘Muslim Tanpa Mesjid’: Generasi Muslim Dua Sisi

muslim tanpa mesjid

 SAVANA- Membaca realitas umat Islam hari ini, dapat dilakukan dari beragam sudut pandang, selama pembacaan tersebut didasarkan pada landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Islam dan umat Islam adalah dua entitas yang melekat dalam konteks kehidupan apa pun.

Manakala Islam dan umat Islam dilekatkan dengan spiritualitas, maka akan diketemukan istilah Islam ibadah. Manakala Islam dan umat Islam berbicara ihwal ekonomi, maka akan dibincangkan bagaimana konsep ekonomi Syariah secara prospektif. Manakala Islam dan umat Islam terintegrasi dengan realitas budaya, maka akan muncul upaya mengakulturasikan atau setidaknya mencari nilai-nilai substansial yang dipandang sesuai antara Islam dan budaya-adat tertentu.

Pun halnya, ketika Islam dan umat Islam bersinggungan dengan aspek nation-state, atau secara sederhana dengan realitas politik kebangsaan, maka akan muncul upaya menarasikan kesesuaian nilai Islam dengan negara. Pada titik inilah kita lebih senang menyebutnya dengan identitas politik umat Islam atau dalam istilah Deepa Kumar (2016), disebut “Islam Politik”.

Menjelang gelombang globalisasi 3.0 yang terjadi sejak Tahun 2000 (Thomas Friedman, 2007), gempita teknologi informasi dan komunikasi sebagai wujud artifisial modernitas tidak terbendung lagi. Manusia, dengan akal dan pikirannya berupaya menciptakan kreasi-kreasi yang dipandang mampu memudahkan rutinitas dan aktifitasnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari (everyday life).

Kreasi ini diciptakan tidak hanya dalam skala makro (misalnya berkaitan dengan peningkatan ekonomi, pemanfaatan alam secara besar, penciptaan teknologi antariksa) yang berusaha menyongsong abad baru kehidupan manusia. Tetapi juga, penciptaan teknologi dalam skala mikro (misalnya penciptaan mesin jahit, teknologi mainan-games, pembuatan mesin cuci, setrika, dan lain-lain) yang berkaitan dengan rutinitas manusia dalam kesehariannya.

Pada faktanya, gelombang globalisasi tersebut bersinggungan dengan beragam aspek dan kontek kehidupan manusia. Tidak hanya saja pada wilayah-wilayah ekonomi, politik, pendidikan dan budaya, tetapi juga merambah dan berkecambah dalam aspek agama yang dipandang punya nilai sakralitas dan transendental. Tentunya, globalisasi dapat dimaknai secara multiinterpretatif. Sebab bagaimana pun, globalisasi memiliki dimensi ideologis dan teknologis.

Hal ini, dapat ditinjau dari beragam kerangka acuan, sudut pandang dan pola pikir. Yang diperbincangkan tidak sekedar kemunculannya dari rahim mana dan pada periode kapan, tetapi juga berkaitan dengan faktor kemunculan, proses berlangsung dan resiko yang ada pada saat terjadi. Pada kutub ini, globalisasi akan merambah melalui teknologi yang tercipta. Namun yang tidak boleh dilupakan dimensi ideologi yang melekat dan berkembang dalam gelombang globalisasi tersebut akan memunculkan fenomena dan realitas kehidupan yang baru, dan mungkin akan berkembang.

Secara teknis, gelombang globalisasi tidak terlepas dari kehidupan keberagamaan, termasuk bagi Islam dan umat Islam. Pada kutub ini, Islam dan umat Islam dihadapkan pada kehidupan global yang termadahkan melalui jalinan interaksi yang semakin tanpa sekat. Jalinan interaksional ini mewujud melalui perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Islam dan umat Islam harus mendapat tempat dan memainkan peran di era globalisasi ini.

Pada kutub lain, Islam dan umat Islam memiliki konsep dalam memandang realitas kehidupan. Dalam Islam kita mengenal konsep Aqidah,  Akhlaq, Ukhuwah, Ibadah dan Dakwah. Konsep-konsep tersebut memiliki dimensi sakralitas yang jelas, landasan normatifitas yang diyakini dan kesesuaian dalam lintasan peradaban manusia sejak dulu, sekarang dan di masa yang akan datang.

Secara konseptual, Islam dan Umat Islam dituntut membuktikan bagaimana nilai-nilai sakralitas itu mampu berkesesuaian dengan realitas kehidupan manusia di era globalisasi ini. Secara normative, kita meyakini bahwa ajaran Islam akan terus dijaga dan sesuai dengan perkembangan zaman (Qs.15: 9). Upaya pembuktian tersebut telah dilakukan dan akan terus dilakukan oleh seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia.

Perwujudan ini dilakukan baik secara personal maupun komunal, serta dilakukan melalui gerakan maupun gagasan. Di Indonesia sendiri, munculnya cendikiawan-cendikiawan muslim semacam Nurcholish Madjid, Abdurahman Wahid, Amien Rais, Emha Ainun Nadjib, M. Natsir, Harun Nasution, Kuntowijoyo, dan yang lainnya adalah upaya mencari formulasi keilmuan untuk bisa membuktikan kesesuaian doktrin Islam dalam menjawab tantangan dan problematika umat manusia.

Islam, Umat Islam dan Gelombang Globalisasi menjadi tema sentral yang diulas oleh seorang Kuntowijoyo dalam buku “Muslim Tanpa Masjid” (2018). Prof. Dr. Kuntowijoyo, adalah seorang cendikiawan multidimensi. Dalam buku ini, Kuntowijoyo mencoba meneropong masa depan umat Islam Indonesia dari berbagai sudut pandang.

Kuntowijoyo, seorang cendikiawan muslim yang visioner. Gagasannya mencoba menangkap beragam fenomena kebudayaan, kebangsaan dan keislaman yang dekat di sekitaran kita, bahkan terkadang kita pun turut mengalaminya. Kuntowijoyo memamahbiakan gagasannya melalui tiga narasi besar (budaya, agama dan politik) yang ia ikat dengan kajian ilmu profetik dalam konteks keindonesiaan.

Baginya, umat Islam mesti memahami dengan mendalam ihwal the chosen people, umat yang terbaik. Yakni mereka yang mesti berkelindan-terlibat secara aktif dengan kehidupan umat, aktivisme sejarah. Sehingga, the chosen people akan menemukan pentingnya kesadaran sejarah (personal maupun komunal) dalam menarasikan setiap gagasan dan gerakan. Tanpa melupakan etika profetik (Maruf, Nahi dan Iman) sebagai manifestasi transendental seorang muslim.

Kuntowijoyo membuka gagasannya dengan narasi bahwa “Generasi baru muslim telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui saudara-saudaranya. Kelahirannya bahkan tidak terdengar oleh muslim yang lain”.

Lewat buku ini, Kuntowijoyo mewariskan dua pesan utama. Pertama, bahwa “Muslim Tanpa Masjid” adalah realitas sekaligus kesadaran yang mesti di bangun umat Islam Indonesia bahwa seorang muslim hendaknya tidak sekedar kuat dalam aspek spiritual-ritualistik ibadah yang disimbolkan dengan masjid. Melainkan juga mesti mulai mengejawantahkan etika profetik Islam dalam konteks ekonomi, budaya bahkan politik.

Kedua, “Muslim Tanpa Masjid” adalah fenomena yang tak bisa dihindari bahwa hari ini umat Islam memahami keislamannya tidak sekedar lewat medium masjid sebagai simbol. Tetapi mulai berkecambah dengan tantangan dan perkembangan zaman yang mewujud dalam teknologi informasi semacam internet.

Umat Islam menjadi seorang Muslim yang belajar memahami Islam tidak lagi melalui Lembaga-lembaga konvensional  seperti Masjid, pesantren atau madrasah, serta dengan cara-cara konvensional seperti sorogan, ngaji kitab, hafalan dan nadham. Melainkan lewat sumber anonim semacam Media sosial, google, smartphone, kursus, seminar, majalah, radio, televisi, dan internet beserta fitur-fitur teknologi lainnya. Serta dengan cara-cara yang kian berkembang misalnya visualisasi, videografis, infografis, music, dan lain sebagainya.

Itulah generasi baru “Muslim Tanpa Masjid!”. Generasi muslim dua sisi di era globalisasi. Generasi muslim yang terlahir lewat rahim kemajuan teknologi. Generasi muslim yang menghadapi kompleksitas kehidupan dalam relasi interaksional, teknologis dan ideologis.

Tuliskan Komentarmu !