Moralitas Intelektual: Menuju Masyarakat Beradab

ridwan rustandi

SAVANA- Budi adalah tahu, budi adalah bijak, dan budi adalah mengerti. Demikianlah ungkapan yang keluar dari Socrates, si Dukun gagasan. Sejarah juga telah menunjukkan bagaimana Islam telah membangun tradisi intelektualitasnya, dan mencapai peradaban yang mulia.

Tradisi intelektualitas dimulai dari adanya keinginan dan satu pandangan yang sama tentang pentingnya membangun peradaban di atas intelktualitas dan berbasis akhlak. Sehingga, kesesuaian potensi akal dengan landasan normatif keislaman dapat dipertanggungjawabkan.

Islam sebagai agama bijak, mengajarkan umatnya untuk senantiasa menggunakan potensi akliahnya dalam menjalani kehidupan ini. Islam merupakan agama pemikiran yang mengharuskan para penganutnya untuk senantiasa berfikir menggunakan akalnya dalam mencapai sebuah proses kebenaran.

Sejarah mencatat para ilmuan dan cendikiawan muslim yang senantiasa memberikan kontribusi dalam perkembangan intelektual bangsa. Kontribusi tersebut bukan hanya sumbangan yang berlaku di tengah umat Islam sendiri, lebih jauh ternyata memberikan sumbangsih yang tidak sedikit terhadap perkembangan dunia Barat.

Kegemilangan yang sempat terasa di kalangan umat Islam merupakan seberkas bukti bagaimana kiranya Islam begitu menaruh perhatian terhadap pendidikan dan aspek-aspek penting di dalamnya. Tradisi pendidikan Islam dahulu kala dan sampai sekarang tidak terlepas dari mesjid sebagai pusat kegiatan pengajaran dan pendidikan Islam.

Mesjid bukan sekedar tempat pelaksanaan ritualitas peribadatan, melainkan juga menjadi pusat kegiatan, baik dalam pendidikan, strategi perang, dan lain-lain. Ini menunjukkan bagaimana karakter pendidikan Islam yang cenderung mengedepankan aspek moralitas dalam mengisi spiritualitas dirinya.

Munculnya lingkar studi pendidikan (Halaqah, Liqaa) yang di dalamnya menampilkan tradisi dialektis intelektual merupakan nilai yang patut dipertahankan dalam kehidupan intelektual umat. Artinya, tradisi keilmuan ini senantiasa menjadi poin penting untuk mewujudkan peradaban bangsa.

Sayangnya, dengan kegemilangan intelektual yang dimiliki umat Islam dahulu, karakteristik yang muncul mengakibatkan umat Islam sekarang cenderung diam, merasa sempurna dengan kemajuan intelektualitas yang telah dibangun. Alhasil, kejumudan dan kebekuanlah yang kini menghinggapi kehidupan dan intelektualitas umat islam.

Amin Abdullah megasumsikan adanya intelectual stagnation dalam tubuh umat Islam, karena kegemilangan yang pernah diraih, dan terjebak pada romantisme sejarah. Maka pada akhirnya umat Islam hanya mempertahankan peradaban yang sekarat.

Atau dalam bahasa Fazlur Rahman dikenal dengan sebutan kemiskinan intelektual, yakni perkembangan keilmuan agama dan bukan keagamaan. Sikap seperti ini muncul karena pola keyakinan umat Islam yang cenderung menggunakan konsep jarak jauh menempatkan semuanya sebagai dimensi yang sakral, sehingga hanya keterpaksaan dan keterpaksaan belaka.

Bagi bangsa Indonesia, pekembangan pendidikan di Indonesia diawali dengan munculnya generasi bangsa yang memiliki kemauan dalam melestarikam tradisi intelektual. Intelektualitas menjadi sesuatu yang penting sebagai upaya regenerasi bangsa demi terciptanya kemajuan bangsa. Intelektual seperti apa? Jelas, intelektual yang berdimensi moral.

Mengapa mesti moralitas intelektual yang dikedepankan? Apa kaitannya dengan perubahan peradaban bangsa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita awali dengan sebuah deskripsi penelitian yang dilakukan oleh para profesor di Amerika.

Mereka (para profesor) meneliti tentang kekososngan spiritualitas generasi muda yang mumpuni di bidang keilmuan. Pada akhirnya semua sepakat untuk mengatakan bahwa moralitas intelektual merupakan dimensi kehidupan yang penting dalam mewujudkan semangat kepribadian bangsa; karena banyak orang yang cerdas dalam pemikiran ternyata tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual dan emosional.

Alhasil, apa yang ia yakini hanya menjadi tumpukan sampah yang bersemayam dalam dirinya, dan tidak memberikan perubahan berarti, baik bagi dirinya maupun bagi kehidupan sosialnya.

Moralitas intelektual merupakan poin penting dalam mewujudkan tanggung jawab sosial para pelaku pendidikan dalam menerapkan konsepsi pendidikan yang kemudian dapat memberikan deskripsi positif dalam perwujudan moral bangsa. Karena, alih-alih pendidikan yang berorientasi pada kecerdasan intelektual saja dimaksudkan untuk mencetak generasi cerdas, ternyata realitasnya tidak terejawantahkan, malahan menjadikan implikasi negatif dalam kehidupan bangsa.

Maka :”Ia memberi hikmah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan barang siapa yang diberi hikmah kepadanya, diberikan kebaikan yang berlimpah…” (Al-Baqarah: 269)

Baca Juga: Smartphone dan Ilusi Kepintarannya

Tuliskan Komentarmu !