Momentum Hari Toleransi Internasional; Belajar dari Natsir dan Aidit

hari toleransi

SAVANA- Perayaan Hari Toleransi Internasional pada 16 November, tidak hanya penting untuk diperingati dan direfleksikan secara bersama-sama, tetapi harus bisa dijadikan memontum hidup rukun, harmonis, damai, toleran, menjunjung tinggi setiap perbedaan, sehingga terciptanya masyarakat Indonesia hebat, mandiri, beradab dengan berpegang teguh pada falsafah Bhinneka Tunggal Ika.

Saking pentingnya hidup rukun, damai, harmonis, toleran dan saling menghargai orang lain ini diharapkan tak adalagi sikap yang mengajarkan seseorang, kelompok untuk berperilaku barbar, bengis, anarkis, hingga main hakim sendiri dalam setiap menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Mengingat masih tingginya angka kekerasan di Indonesia, hasil laporan SETARA Institute pada 2017 mencatat 155 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan dengan 201 bentuk tindakan, yang tersebar di 26 provinsi; 29 peristiwa terjadi di Jawa Barat, 26 peristiwa di DKI Jakarta, 14 peristiwa di Jawa Tengah, 12 peristiwa di Jawa Timur dan 10 peristiwa di Banten. Hingga 30 Juni 2018, SETARA Institute mencatat 109 peristiwa pelanggaran KBB dengan 136 tindakan yang tersebar di 20 provinsi.

Kendati laporan tahunan Social Progress Index menujukkan tingkat toleransi di Indonesia menunjukkan tren yang cenderung meningkat dari tahun 2014-2017: tahun 2014, skor toleransi dan inklusi Indonesia 27,90; naik pada tahun 2015 menjadi 32, 30; pada tahun 2016 skornya menurun menjadi 29,57; baru pada tahun 2017. Skornya kembali naik menjadi 35, 47 yang menempatkan Indonesia pada posisi 117 dari 128 negara.

Dalam buku 24 Minggu Menjadi Teladan Bangsa (2014: 114-115) menjelaskan, sikap intoleransi telah menghasilkan jutaan korban. Orang Yahudi dibantai Nazi, Zionis menjajah dan mengusir orang Palestina, kerusuhan suku Dayak dan Madura di Kalimantan, perang atas nama agama di Ambon dan Poso serta sederetan sejarah gelap intoleransi.Praktik intoleransi sering dilakukan ketika kita menjadi terbanyak (terkuat).

Jika berkumpul dengan teman yang sedaerah, kita akan berbicara dengan bahasa daerah. Sementara temen dari daerah lain diabaikan karena tidak memahami percakapan. Dalam beragama, intoleransi ditandai dengan fanatisme dan klaim kebenaran tunggal, sambil mengkafirkan orang yang di luar agamanya.

Musuh toleransi adalah egoisme dan pikiran yang sempit. Kadang kita menganggap pilihan kita yang terbaik, kelompok kita yang paling unggul, sehingga kita memaksa orang untuk menyetujui pilihan kita dan menafikan pilihan orang lain. Itulah intoleransi.

Teladan Bersama

Mari kita belajar arti penting menghargai dan toleran dari DN Aidit dan Mohammad Natsir yang bertajuk “tetap toleran, walau berseberangan.” DN Aidit adalah musuh ideologis nomor satu Mohammad Natsir. Aidit memperjuangkan tegaknya komunisme di Indonesia. Nasir menginginkan negara dijalankan di atas nilai-nilai Islami. Mereka saling berdebat keras di ruang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Konstituante.

“Rasanya saya ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi,” kata Natsir.

Namun, sampai rapat selesai, tak ada kursi yang melayang ke kepala Aidit. Malah, begitu meningggalkan ruangn sidang, Aidit membawakannya segelas kopi. Keduanya lalu ngerumpi tentang keluarga masing-masing. Itu terjadi berkali-kali. Kalau habis rapat tak ada tumpangan, Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit dari Pejambon.

Natsir pun berseberangan dengan I. J. Kasimo, F. S. Hariyadi, tokoh Partai Katolik; J. Leimena dan A. M. Tambunan dari Partai Kristen Indonesia. Akan tetapi mereka tetap berkawan. Setelah menyingkir dari dunia politik, Natsir mulai aktif di Dewan Dakwah pada 1967, T. B. Simatupang sering datang ke rumah untuk berdiskusi dengan Natsir. Anak-anak Natsir berkawan dengan anak-anak Pa Leimena.

Ketika Ki Sarmidi Mangunsarkono, salah seorang pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI), meninggal, Natsir melayat dan menangis. Ini mengagetkan semua orang. Masalahnya, PNI sangt bersebrangan dengan Masyumi. Akibat mosi yang diajukan Ketua PNI ketika itu, Hadikusumo, Natsir membubarkan kabinetnya yang baru berumur setahun pada 12 Maret 1951. Peristiwa penting ini diabadikan Abadi, majalah Masyumi berjudul “Air Mata Natsir Mengalir di Rumah Mangunsarkono”.

Bandingkan dengan anggota DPR sekarang, pada saat pemilihan Ketua MPR, DPR, Fraksi, malah ribut bagi-bagi jabatan, kekuasaan. Perbedaan pendapat pun sering diakhiri dengan pengrusakan fasilitas Dewan (kursi dirusak, meja digulingkan). Parahnya, anggota dewan malah memberikan contoh korupsi berjamaan, seperti yang terjadi di Kota Malang, sebanyak 41 dari 45 anggota DPRD terjerat kasus korupsi.

Harus diakui, warga negara Indonesia tengah di landa krisis kepemimpinan, ketiadaan idola, figur dan teladan yang menjadi panutan masyarakat dari pemuka agama dan pejabat. Dengan demikian, keteladanan akan sangat diharapkan hadir dari elit-elit agama, politik, birokrat maupun umatnya secara keseluruhan.

Bila elit agama dan umat beragam tidak mempu hadir untuk menjadi teladan di tengah hilangnya suri teladan, maka saat itu pula kepercayaan masyarakat atas agama menjadi turun. Mudah-mudahan dengan adanya suri teladan dari para pendiri bangsa, salah satunya Mohammad Natsir ini, menjadikan Indonesia semakin hebat, mandiri, beradab dan berdaya saing dengan negara lain. Semoga.

Tuliskan Komentarmu !