Mewarnai Matahari

rosihan fahmi
Ilustrasi: Rizki Agustian

#1 Dapur Nenek

SAVANA- “Maaf, Cu, tabunganmu tak akan pernah cukup untuk membeli matahari,” ucap nenek kepada cucu kesayangannya. “Nenek sudah tua, tak sanggup lagi untuk membantumu membelikan matahari. Dulu, mungkin masih terjangkau oleh nenek dan kakekmu, namun buat apa matahari apabila dengan lilin pun masih cukup membantu?” Nenek mulai membuka tabir sejarah.

“Bahkan dari 5 anak nenek,” sambung sang nenek, “cuma bapakmu seorang yang tampak serius bersedia menggunakan lilin. Sisanya, sibuk dengan urusan masing-masing. Oleh karena itulah, nenek juga kakekmu tak pernah terpikirkan untuk membeli matahari.” Raut muka penyesalan semakin tampak pada garis muka nenek, suara serak serau dan mata yang berkaca-kaca tampak menghiasi wajah nenek yang semakin melayu.

Aku masih ingat, dialog itu selalu kukenang. Suasana bakda subuh di sebuah dapur yang masih menggunakan kayu bakar tengah menanak nasi, hingga air panas. Tungku yang berdebu, kepulan asap kayu bakar tampak tembus di sela-sela genteng dari tanah liat. Nasehat demi nasehat. Petuah demi petuah. Lipatan cerita sejarah hingga gejolak amarah dan curahan kasih sayang. Semua drama itu sering tersaji dan tercipta di dapur nenek yang berdebu.

Dapur nenek, bagiku bukan sekadar ruang mengolah makanan dan minuman. Dapur nenek: ruang dialog spiritual, intelektual hingga obrolan yang aktual; dari urusan pribadi, famili, negeri, hingga urasan illahi rabbi. Dapur nenek hadir bukan  hanya untuk kepentingan pribadi, bahkan bagi sang musafir yang tengah  melintas kampungku, selalu diperkenankan mampir, walau hanya untuk secangkir  air teh, kopi, dan secangkir beras untuk bekal diperjalanan.  Dapur nenek dengan segala perabotan hingga bahan makanan, selalu berusaha hadir untuk berbagi.

Hampir setiap bakda subuh, dapur nenek selalu menjadi ruang kumpul utama para penghuni rumah nenek. Ruang perencanaan pada setiap gerakan untuk melakukan serangan fajar: menyapu dan mengepel lantai, menyapu halaman, hingga melap kaca-kaca rumah. Pembagian tugas dan perencanaan waktu pengerjaan, seringkali dilakukan di dapur nenek. Dapur nenek yang berdebu. Dapur nenek yang hangat.

Ketika sesi serangan fajar usai, kami semua biasa kembali berkumpul di dapur nenek. Sejumlah penilaian, evaluasi kerja kami semua dicandrai oleh nenek. Penilaian nenek kepada kami, seringkali dilengkapi dengan sejumlah petuah-petuah bijak, dan ditutup dengan membagikan sarapan sederhana: telor ceplok. Satu telor ceplok untuk dua orang. Oh ya, jangan lupa dengan kecap tentunya. Kadang kala ditemani kerupuk blek merk Mayangsari atau Banjarsari. Menikmati sarapan di depan tungku kayu bakar sembari mengusir dinginnya udara di kampungku.

Siang itu…

Di teras nenek.  Lokasinya berseberangan antara bagian samping rumah nenek dengan dapur nenek.  Di teras itu kami biasa berkumpul apabila jelang siang hingga sore hari. Maklum, kalau berkumpul di dapur nenek yang bertungku kayu bakar, panas brow!

Kepulan asap dari dapur mulai mengangkasa. Nenek tengah menanak nasi dan menggorang ikan asin sepat.  Nenek, menanak nasi dengan menggunakan tungku berbahan kayu bakar. Hasilnya,  tentu berbeda dengan menggunakan rice cooker atau magic jar yang konon pertamakali ditemukan oleh tentara jepang. Menanak nasi dengan media tungku, prosesnya memang cukup panjang, namun hasilnya, uuugggggghhh…… dahsyat tullah alaik!

“Cu, sebenarnya cita-citamu mau jadi apa? Apa masih ingin membeli matahari?” tanya nenek, setelah menyimpan goreng dan bakar ikan asin sepat di piring dari bahan kaleng.  Aku duduk lesehan di teras, sembari menyandar ke dinding. Sengaja kulakukan, sekadar untuk mengusir udara panas. Adem rasanya, pabila sudah duduk lesehan di teras hitam.

“Memangnya kenapa nek?” tanyaku penasaran.

“Bukan apa-apa, untuk membeli matahari, kamu harus kuat: gak cengeng, harus berani, imannya kuat, dan tentunya ilmunya harus tinggi, “ jawab nenekku sambil membuat adonan sirih. “Ingat, Cu! Sekaliber kakekmu saja tak sanggup untuk membeli matahari. Padahal ia adalah sosok suami yang sangat menyayangi keluarganya, sangat mengutamakan kepentingan ummat, pun ia masih belum sanggup untuk membeli matahari. Matahari itu mahal, butuh banyak pengorbanan, biayanya besar, banyak rintangan dan godaan untuk bisa mendapatkan matahari. Hanya sedikit orang yang mampu. Banyak teman-teman kakek dan nenekmu yang mampu membeli matahari, namun sayang tak mampu bertahan lama untuk menikmati matahari.” pungkas nenek, sambil menumbuk-numbuk adonan sirihnya.

Makan siang tersaji hangat: kerupuk, ikan asin sepat, sambal lengkap dengan coet dan ulekannya, sayuran mentah, dan tentunya nasi yang ngebul tersaji dalam boboko dari Singaparna. Kami berkumpul dan doa makan dimulai, Allohumma baarik lanaa fiima rozak tanaa wa qinaa adzabannar. Aamin.

Bersambung…

Tuliskan Komentarmu !