Merindukan Ramadan

ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau itu kita utamakan, jadinya kok pahala itulah yang kita Tuhankan. Apa tak malu kita kepada-Nya? Pada akal dan perasaan kita sendiri?” –Emha Ainun Nadjieb-

Seakan sudah mentradisi dari tahun ke tahun, bulan Ramadan dijadikan tempat untuk belajar, membiasakan diri menahan segala nafsu. Yaitu napsu yang dipadankan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Umat Muslim diwajibkan untuk belajar mengerti jadi orang susah, yaitu ketika perut yang biasanya dicekoki dengan berbagai rasa dan aroma makanan, pada bulan itu, makanan seakan hanya ada pada waktu sebelum terbit dan selepas terbenamnya fajar.

Pada saat terik matahari yang menyengat, kita pun manggut-manggut seraya berkata, -dalam bahasa Gus Mus- “Oh, beginilah rasanya jadi orang susah”, walau hanya kekosongan perutnya saja pada waktu itu yang kita rasakan.

Dari soal makan saja, kita dapat pelajaran yang cukup. Saat perut kosong, segala makanan maunya dimasukan, dari berbagai aroma hingga harga. Namun perut mengingatkan soal batas.

Pada waktu buka, kita inginnya lidah terus mengecap rasa lezat dan gurih yang ada pada makanan, namun perut tak peduli pada aroma dan harga makanan, ia hanya tahu kosong dan terisi saja. Kata orang bijak, makanlah untuk perut, bukan untuk lidah, karena perutlah yang tahu soal batas.

Kalaulah lidah terus kita ikuti keinginannya, maka pertimbangan semacam rasa, aroma, hingga harga yang menjadi persoalan. Maka pemenuhan bukan lagi soal terisi atau tidaknya perut, tapi berapa nilai yang ada pada makanan itu, yang berakhir bisa meleburkan pengetahuan kita pada orang-orang susah. Jelasnya, shaum tak hanya memberi pengetahuan bagaimana rasanya perut kosong sebagai gambaran orang susah, tetapi menahan lidah supaya makan gak neko-neko. Lebih jauh lagi, menahan diri dari sifat rakus dan serakah.

Emha Ainun Nadjieb menegaskan, “Pengetahuan barulah tatanan terendah dari persyaratan mutu dan aktualitas eksistensi mahluk yang bernama manusia.”

Kalaulah dianalogikan pada sebuah tangga, maka pengetahuan adalah dasar untuk bisa naik ke anak tangga berikutnya, untuk bisa mencapai mutu dan aktualitas eksistensi manusia. Maka manusia tak cukup berdiri pada pengetahuannya saja, tapi bagaimana dengan pengetahuannya itu, bisa menyelamatkan diri, keluarga, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Berjubel pengetahuan sudah tertanam dalam diri manusia. Dari mulai yang dinamakan ontologi, epistemologi, hingga aksiologi. Dari yang materialis hingga idealis. Dari yang islami, hingga non islami. Dari pengetahuan yang bersumber dari seorang petani, hingga profesor.

Begitu pun pengetahuan kita yang terus melipat ganda dari pembelajaran bulan ramadan. Apakah pengetahuan itu bisa menyelamatkan diri? Keluarga? Atau orang-orang terdekat?

Mari mikir sejenak.

Tuliskan Komentarmu !