Meretas Pertolongan Allah

taufik ginanjar
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Mengarungi samudera kehidupan saat badai ujian melanda, bukanlah hal yang mudah. Setiap saat kita membutuhkan pertolongan dari Allah SWT. Teringat salah satu episode kehidupan saya waktu awal nikah. Saat itu 2013, saya dihadapkan pada krisis ekonomi.

“A, barusan kepala sekolah minta uang tabungan yang senilai 4 juta, agar disiapkan untuk dibagikan Kamis pagi”, ujar Istri saya, Selasa sore.

Awal menikah kondisi ekonomi saya begitu terpuruk, sehingga terpaksa pinjam uang tabungan sekolah TK tempat istri saya mengajar. Waktu itu terpakai untuk biaya kuliah dan KKN, kuliah istri, biaya kontrakan, biaya cicilan motor dan tentu kebutuhan kami sehari-hari.

“Gimana, A?”, tanyanya membuyarkan lamunan saya. Saya pun mulai melihat genangan air di matanya.

“Insyaallah pasti aya rezekinya, pasti Allah menolong,” jawab saya, walau jujur saja waktu itu saya tak tau harus bagaimana untuk mendapatkan uang 4 juta dalam waktu 1 hari.

Saya ingat hadis yang menceritakan Nabi SAW pernah melihat Abu Umamah termenung di masjid, ternyata ia sedang dililit hutang. Lalu Nabi mengajarkan sebuah doa;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan). Di sini Nabi SAW mengisyaratkan bahwa orang yang punya tekanan psikis seperti kena lilitan hutang, perlu ditenangkan dahulu pikiran dan hatinya.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

(Dan aku berlindung kepadamu dari rasa lemah dan kemalasan). Setelah pikiran dan hati mulai tenang, barulah bergerak.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ

(Dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan bakhil). Selanjutnya mesti bisa memberikan manfaat untuk oranglain, harus berani berbagi.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

(Dan Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan ketertindasan oleh orang lain). Barulah Allah akan tunjukan jalan-jalannya sehingga hutang bisa terlunasi.

Sungguh luar biasa, sabda Nabi SAW itu 15 abad yang lalu. Jauh sebelum ada istilah ilmu psikologi. Beliau sangat memahami psikologi orang yang kena lilitan hutang.

Keesokan harinya, setelah shalat shubuh, saya mulai merancang ikhtiar. Saya SMS satu per satu relasi yang dianggap bisa meminjamkan uang. Tak berselang lama, beberapa orang langsung konfirmasi tidak bisa. Betapa malunya waktu itu. Tapi saya tempuh sebagai bagian dari menyempurnakan rukun-rukun ikhtiar.

Beranjak pukul 7, saya putuskan untuk pergi dan menemui sahabat dekat. Ternyata tak ada juga channel mereka yang menyanggupi untuk membantu.

Belajar Bergerak dari Siti Hajar

Siti Hajar melihat ismail kecil menangis kehausan, membuat dirinya berikhtiar maksimal. Ia berlari ke bukit shafa, tak didapati air di sana, lalu melanjutkan berlari ke bukit Marwah.

Bolak-balik 1 sampai 2 kali masih logis, tapi sampai 7 kali (menunjukan banyak sekali), mulai tidak masuk akal bagi manusia keumuman. Ternyata Siti Hajar tak menggunakan logika matematikanya, ia hanya terus bergerak, meretas pertolongan Allah yang Mahamelihat agar sudi menurunkan pertolongan-Nya.

Hingga akhirnya Allah munculkan keajaiban air zamzam yang keluar dari tanah yang diinjak Ismail. Ikhtiarnya ke mana, Allah munculkan solusinya dari hal yang tidak kita duga. Yang terpenting adalah ikhtiarnya, itulah yang terus memotivasi saya agar terus bergerak.

Waktu itu memasuki pukul 9.30, selepas shalat dhuha, SMS yang ditunggu belum kunjung ada. Akhirnya saya putuskan menggojes motor dan membantu setiap orang yang terlihat butuh bantuan.

Motor terus melaju, doa-doa terus saya panjatkan. Saya nikmati perjalana tiap laju ban motor. Saat di Soreang, saya lihat ada seorang bapak dengan tas besar yang di punggungnya sambil menjingjing kresek besar.

Saya tawarkan bantuan padanya. Kebetulan dia sedang kehabisan ongkos, dia berjalan dengan tujuan ke Kopo untuk menemui anaknya. Sepanjang perjalanan saya terus berdoa, dan bertawashul dengan ikhtiar memudahkan urusan si Bapak ini. Tak terasa kami sudah ada di tempat tujuan, motor pun saya putar balikkan.

Dzuhur belalu, Ashar berlalu, Maghrib berlalu. Tak kunjung terlihat ada tanda-tanda solusi yang datang.

Bada shalat maghrib, saya pasrah, sebagaimana Nabi Yunus AS berpasrah dan berdoa kepada Allah;

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (٨٧)فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (٨٨ )

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan kegelapan berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’. Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. (Q.S. Al-Anbiya: 87-88)

Tak ada harapan sedikit pun kepada manusia, tak ada yang saya yakini bisa menolong saya dari ‘kegelapan ini’ selain Allah. Saya sudah tak peduli lagi dengan ikhtiar saya. Saya pasrahkan esok hari kepada empu-Nya kehidupan.

***

Setelah shalat Isya, saya lihat ada notif SMS masuk. “Akh, lagi di mana? Bisa ke rumah?”, isi pesan tersebut.

Tak menunggu lama, motor saya gujes melaju ke Cipasung Baleendah.

“Kenapa bisa punya hutang 4 juta, Akhi?”, tanya dia. Saya pun menjelaskan semuanya.

Ia langsung melangkah ke lantai 2, turun lagi sembari memberikan amplop besar.

“Coba hitung lagi Akhi”, ujarnya

Alhamdulillah ya Rabb, saya sujud syukur, Allah menepati janji-Nya. Allah kabulkan doa-doa saya.

Sekali lagi, saya merasa bahwa Al-Quran ini benar-benar fresh. Sangat relevan dengan kondisi kita. Tinggal kitanya yang mentadaburi.

Ala kulli hal, mudah-mudahan refleksi tahaduts bini’mah ini bisa bermanfaat. Setidaknya bagi yang menjalani awal rumah tangga dan diuji dengan krisis ekonomi Yakinlah pasti Allah akan mencukupkan segala kebutuhamu, selama kita bertauhid kepada-Nya. Sebagaimana yang Nabi Zakariyya sebutkan dalam doanya;

وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Dan aku tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku” (Q.S. Maryam : 4)

Allahu A’lam

Tuliskan Komentarmu !