Merayakan Dendam, Membisukan Rindu

sumber gambar: Pandir-id.blogspot.com

SAVANA- Membaca novel ini memang nggak bisa grasa-grusu apalagi sambil berlari, tapi harus duduk santai sambil minum kopi atau teh. Pasalnya, beberapa saat anda harus meluangkan waktu untuk berpikir, merenung, lalu tertawa ngakak -kalau ngerti, kalau enggak, ya baca aja lanjut.

Memang gampang saja menyelesaikan satu novel semalaman, tapi untuk yang satu ini, saya sarankan tidak. Selain karena ditakutkan setelah selesai kebingungan mau baca apalagi, tapi juga sebuah novel hakikatnya untuk dinikmati, bukan dituntaskan lalu keheranan. Novel-novel Eka memang bebal, apalagi yang seperti ini, yang ada tanda 21+, yang menunjukkan butuh pikiran dewasa untuk mencernanya, gak bisa sembarangan.

Aris Kurniawan (dari Koran Tempo) mengomentari kalau tokoh-tokoh dalam novel ini ‘tidak waras’, yang menjadi cermin ketidak-warasan zamannya. Tentu saya punya pandangan lain, yang amat berlawanan, yakni tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel ini waras sewaras-warasnya. Memang bedanya setipis alis antara yang waras dan yang tidak, kalau timbangannya subjektif.

Bagi saya, dalam novel ini (dan dalam novel-novel lainnya), Eka Kurniawan memotret realitas dengan begitu vulgar, tidak mendayu-dayu. Memang kekuasaan penulis mau melihat dunia dari sisi sebelah mana –kebanyakan penulis melihatnya dari sisi romantis dan ideologis, dan Eka dengan keberaniannya menyuguhkan dunia sebagaimana apa adanya -walau bagi kebanyakan penulis menganggapnya satire, bahkan bermain-main. Bagian romantis dan ideologis hanya berupa endapan, di antara pergulatan kekerasan dan kebrutalan.

Walau plot yang dibangun Eka sangat ganjil, tapi ia mampu menyuguhkan realitas dengan begitu dekat, terlebih plot-plot itu dibangun dengan pendasaran argumentasi, bukan semau gue penulis. Tantu berkebalikan dengan plot-plot ‘logis’ tapi karena kurang bangunan argumentasi, maka realitas yang dianggap logis itu pun terkesan berada di negeri dongeng. Dalam hal ini, penulisan Eka berupa cerminan dari budaya dan realitasnya; vulgar dan jujur.

Ajo Kawir –tokoh dalam novel itu, menemukan kebijakan dan kearifannya setelah melalui berbagai macam pertarungan. Ia akhirnya dapat belajar dari sesuatu yang awalnya ia anggap sebagai kutukan; yakni, -maaf- burungnya tak bisa berdiri.

Ajo Kawir lahir di sebuah dusun dengan kultur agama doktriner. Ia tak pernah ‘berkomunikasi’ dengan agama yang ia yakini. Sewatu kecil ia sering pergi ke suaru, bisa mengaji, dan sesekali suka shalat –terlebih selepas melaksanakan dosa, dengan alasan untuk menghapusnya. Ia pun percaya kalau berbohong, mulutnya akan disumbal di neraka kelak, sebagaimana keterangan-keterangan komik yang ia baca. Tapi itu tak menjadikannya sebagai orang yang taat dalam beragama.

Ada satu fase dimana cerita ini bermula, yakni ketika Ajo Kawir tak bisa menatap masa depannya. Tentu ada yang merampasnya. Fase itu digambarkan Eka dengan menghadirkan tokoh yang burungnya tak bisa berdiri, yang membuatnya tak punya alasan untuk menikah, untuk merajut masa depan. Selanjutnya pergulatan-pergulatan Ajo Kawir dan Si Tokek untuk dapat kembali membangunkan burung Ajo Kawir tersebut, dari yang ‘tercerdas’ hinggat tersinting.

Setelah dicoba beberapa kali –dengan diolesi cabe merah hingga disengat tawon- tak juga menuai hasil. Ajo Kawir pun tumbuh menjadi orang yang nekat; orang yang tak takut mati karena tak bisa lagi menatap masa depannya. Ia bertarung dengan beringas, dan tak perlu ada sebab jika ia sedang mau –ia tinggal melemparkan kuntung rokoknya ke pangkuan orang yang ingin dia ajak bertarung.

Hingga akhirnya ia bertemu Iteung, wanita yang mencintainya setelah berduel dan kedua-duanya bonyok. Ini bagian terromantis yang ganjil. Ajo Kawir si begundal itu sadar bahwa dirinya tak bisa melepaskan dari kata cinta, tapi apa yang bisa dia lakukan dalam keadaan burungnya tak bisa berdiri?

Namun Iteung bersikeras, bahwa cinta untuk cinta, bukan yang lain. Si Tokek pun mengingatkan, syarat pernikahan itu hanya ada lima, dan dari kelima syarat itu tidak ada yang menerangkan harus punya burung yang dapat berdiri. Mereka pun menikah dengan jargon: cinta hanya untuk cinta, bukan tektek-bengeknya.

Kearifan Ajo Kawir muncul setelah ia menjadi supir truk, melalui permenungan-permenungannya dengan si burung yang tak bisa berdiri. Kehidupan supir truk jalur Pantura sepatutnya menjadikan ia lebih keras, tapi tidak dengan Ajo Kawir, walau ia sering dipancing-pancing oleh saingannya sesama supir truk, Si Kumbang. Ajo Kawir mulai menginginkan kehidupan yang damai, dan menyelesaikan semua masalah dengan kata: maaf.

Setelah merenungkan banyak hal bersama burungnya yang tak bisa berdiri, paling tidak ia dapat menyimpulkan satu hal: semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak masalah yang bisa kau peroleh. Burung itu menempuh jalan sufi, jalan pencari ketenangan.

Setelah berada di puncak kedamaiannya –memilih kata maaf daripada bergulat atau sekedar beradu mulut, burung Ajo Kawir mulai bisa bangun lagi. Tapi sayang, sang istri, Iteung, sedang berada di dalam penjara karena menghajar dua polisi. Ajo Kawir pun menunggu waktu itu dengan sabar, dan si burung meminta tidur lagi sewaktu Ajo Kawir menunggu.

Eka memainkan tokohnya bukan sebagai orang yang berada di puncak pengetahuan, tapi membersamai tokoh itu dengan logika-logika sederhana yang biasa ada di pedesaan, yang sedang ‘bertarung’ dengan kehidupan. Kalau dilihat dari puncak pengetahuan, tentu tokoh-tokoh yang dihadirkan Eka itu sangat tidak waras, sebagaimana komentar Aris Kurniawan.

Saya selalu merasa bahwa tokoh-tokoh yang dihadirkan Eka itu sangat dekat dengan kita; mereka pemuda-pemuda yang secara tidak langsung dipenggal masa depannya, dan dengan mudahnya bersikap kasar. Tokoh-tokoh yang sering dimunculkan Eka hampir selalu begitu; mereka yang menjalani kehidupan ini dari lapisan paling bawah (strata ekonomi, pendidikan dan agama) dan Eka membersamai mereka, tak berdiri di ketinggian.

Yang perlu digaris-bahawi dari Eka ialah timbanganya bahwa sastra untuk sastra. Jadi kalau melihatnya dari pandangan moral agama, maka yang timbul hanyalah amoral, tidak waras. Eka tidak menobatkan dirinya sebagai pengkhotbah kebenaran dan kebaikan, ia hanya pencerita, pencerita yang mewakili zamannya. Bagaimana pun kalutnya zaman ini, bagi Eka, masih ada sisi-sisi untuk diinsafi, seterusnya ditertawakan. Eka tidak mau membalut realitas dengan kebohongan. Dan tentu, mau melihat dunia ini dari sisi sebelah mana, hanya penulisnya lah yang kuasa. Dan Eka memilih jalan itu.

Tuliskan Komentarmu !

Nurdin A. Aziz merupakan anak bungsu bagi ibu kandungnya dan adik terkecil bagi kakak-kakaknya.