Merayakan 100 Episode Nonton One Peace

merayakan 100 episode nonton one piece

SAVANA– Mungkin ini perayaan yang sedikit aneh. Tidak ada kue, tidak ada lilin, tidak ada teman yang mengelilingi, juga tidak ada kopi. Mungkin akan ada banyak orang juga yang tidak setuju menyebut ini sebagai sebuah perayaan. Ini terlalu sederhana untuk disebut sebuah perayaan.

Hal yang tak kalah konyolnya, saya merayakan untuk sesuatu yang tak lazim untuk dirayakan. Ya, saya baru saja menyelesaikan serial One Piece episode yang ke 100. Mungkin bagi anda sekalian, bisa menonton One Piece sampai episode 100 itu bukan sesuatu yang membanggakan. Tapi bagi saya lain, begini ceritanya:

Saya terlahir di sebuah kampung yang jauh dari jalan raya, juga waktu itu listrik dari PLN belum masuk. Kebanyakan penduduk hanya mengandalkan cempor untuk menerangi rumahnya di malam hari, dan bagi yang sedikit beruntung, bisa memasang kincir air untuk dijadikan pembangkit listrik, dan itu pun selalu bermasalah jika musim hujan tiba. Maksudnya, masa kecil saya lebih banyak dihabiskan di ladang dan sawah ketimbang anteng di depan televisi.

Kelas 5 Sekolah Dasar saya diajak pindah ke kota oleh bapak, dan itu membuah hidup saya sedikit berubah. Ya, hanya sedikit saja, tidak banyak. Di rumah saya yang di kota memang sudah ada televisi, tapi masih hitam putih, itu pun gambarnya hampir tidak ada yang jelas, selalu saja dikerumuni oleh semut. Saya lebih suka nonton televisi di tetangga, dan tentu, dengan begitu saya tidak bebas mau menonton apa, yang kuasa memegang remotnya ya tuan rumah. Bapak juga melarang saya menonton lama-lama di tetangga, katanya malu-maluin, takut yang punya rumah terganggu oleh kehadiran saya.

Setelah lulus SD, saya dimasukkan ke dalam pesantren yang mempunyai aturan super ketat oleh Bapak. Saya hanya diperbolehkan mendengar radio dan menonton televisi di hari jumat saja, selebihnya selain dilarang juga tidak mendapatkan akses. Masa-masa itu memang menjadi masa yang paling tegang.

Sewaktu masuk kuliah memang saya diberi kebebasan. Saya bisa menginap di kosan teman atau di sekre sebuah organisasi. Saya mulai punya akses untuk menonton anime, tapi waktu itu hanya mengikuti yang ada di televisi saja, tak lebih, dan waktu itu sedang ramai-ramainya anime Naruto.

Sampai akhirnya saya sadar, atau lebih tepatnya disadarkan oleh Bapak juga kebanyakan masyarakat kita, bahwa serial anime hanya cocok jadi tontonan anak kecil. Orang dewasa pantasnya menonton berita-berita saja, dan mengikuti perkembangan politik hari ini. Setelah itu saya pun berhenti mengikuti serial anime Naruto.

Tapi sialnya, beberapa hari lalu sebuah Channel Youtube Satu Persen, yang mengenalkan dirinya sebagai sekolah kehidupan, mengulas sosok kepemimpinan Luffy, sang tokoh utama dalam serial anime One Piece itu. Sebelumnya, saya juga sempat mengikuti perdebatan mana yang lebih baik antara anime Naruto atau One Piece di salah satu media di Jogja, paling tidak itu membuat rasa penasaran saya terbuka.

Jumat lalu saya pun memutuskan untuk memulai menonton serial One Piece dari awal, disela-sela kerja dan melamun. Seminggu, bisa menuntaskan 100 episode. Bagi saya itu luar biasa, dan patut untuk dirayakan, walau dengan cara yang paling sederhana.

Mungkin, ini juga bisa dikatakan ajang balas dendam. Masa kecil saya tak dipenuhi oleh dunia petualangan semacam ini, maka sekarang saya harus menuntaskan semuanya. Dan dalam perayaan yang sederhana ini, saya ingin sedikit berkomentar mengenai dunia One Piece.

Saya disambut dengan penuh gembira oleh Eiichiro Oda (penulis ceritanya) dalam dunia One Piece ini. Beberapa kali saya dikejutkan oleh kelakar dan tingkah konyol Luffy, sang tokoh utama. Alur cerita bergerak begitu cepat dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya, tiap satu episode selesai, saya ingin buru-buru menonton episode berikutnya. Saya benar-benar menikmatinya, bahkan saya sempat rela menahan buang air kecil demi menuntaskan satu episode.

Luffy dan Naruto mempunyai karakter yang hampir sama, berambisi, tengik, dalam beberapa hal tolol, juga mempunyai mantra yang sama: pertemanan. Bedanya mungkin Naruto terlalu banyak ceramahnya, menginginkan yang menjadi lawannya bertobat agar tidak berbuat jahat lagi. Sedangkan kalau Luffy jika bertemu orang jahat, ya hajar saja sampai mampus, tidak banyak ceramah. Kadang Luffy juga tidak mau mendengar masa lalu seseorang yang membuat pertempuran jadi banyak omong kosongnya ketimbang baku hantamnya.

Hal yang membuat saya terkesan, seringkali Luffy menolong seseorang hanya karena keinginannya saja, bukan karena pertimbangan-pertimbangan lainnya. Jika ditanya, kenapa harus menolong dia? “Ya karena ingin saja”. Kalau nanti terjadi begini begitu, gimana? “Ya kita pikirkan saja nanti.” Entah kenapa, percakapan semacam itu melekat sekali di kepala saya.

Saya menjadi tak heran, kenapa channel Satu Persen mengulas gaya kepemimpinan Luffy. Ini mungkin agak berlebihan jika kita mesti belajar kepada sebuah anime, apalagi kepada kelompok bajak laut yang sukanya main baku hantam seenaknya. Tapi mari kita singkirkan dulu ego kita masing-masing.

Kita awali kajian kali ini dengan sebuah asumsi, “setiap orang bisa menggapai impiannya, jika mereka bekerja keras dan bekerjan keras dan bekerja keras.”

Masyarakat kita sangat percaya sekali terhadap asumsi tersebut, hingga masyarakat menangah kita sering memaki orang miskin karena kemalasannya. “Dia miskin karena kurang kerja keras saja”, seolah kita menutup mata jika akses yang didapat orang dengan latar belakang ekonomi kurang, berbeda dengan golongan menengah atas.

Jadi santai saja, tidak perlu mumet. Kalau ada makanan yang makan, kalau ada kerjaan yang kerja, kalau banyaknya waktu luang yang tinggal rebahan saja. Tapi sesekali kita pun mesti latihan, mengasah skil yang kita mau.

Tidak ada yang salah dengan bekerja keras. Tapi kita pun mesti ingat waktu beristirahat dan cara tertawa. Belajarlah dari Luffy, walau gak bisa berenang, tapi mau menjadi bajak laut dan mengarungi lautan.

Gak nyambung ya? Biarin lah, soalnya lagi buru-buru mau nonton episode selanjutnya. Perayaannya dengan secangkir kopi dan sedikit gorengan saja lah.

Tuliskan Komentarmu !