MENYOAL WAKTU

SAVANA– Dalam hitungan angka yang dapat diukur oleh kepastian logika, tahun baru saja berganti. Angka, selalu membumikan yang abstrak, melihat yang tak terlihat. Angka adalah sebuah usaha untuk membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal, yang siap menilai, menanggapi, hingga menghukum sebuah kejadian, walau sejatinya tak terungkap secara penuh.

Pergantian waktu yang diukur oleh kepastian angka, ditanggapi dengan gegap-gempita. Ada yang memeriahkan dengan ledakan kembang api di mana-mana, ada juga yang menggerutu sinis. Kita menyaksi, sebuah wajah dunia yang tragis.

Tere Liye menulis dalam akun facebooknya, bahwa momentum tahun baru hanyalah bisnis semata. Kita yang ramai pergi sana-sini, sibuk belanja ini itu, hingga ada sebuah selentingan “aku belanja maka aku ada”, menandingini “aku berpikir maka aku ada”-nya Rene Descartes, adalah manusia yang digerakkan oleh kapital. Kesadaran berperilaku manusia dicerabut oleh orang kebanyakan. Kebudayaan kita adalah kebudayaan mengekor. Barangkali, pelaku bisnis itu menikmati pergantian tahun dengan damai, bukan dengan ramai.

Ada sebuah pepatah, “yang lalu adalah kenangan, kini adalah keniscayaan dan nanti adalah misteri”, membagi waktu dalam tiga dimensi.

Masa lalu dikatakan kenangan, barangkali akan lebih mengena bila disebut sebagai pengalaman atau sejarah. Namun, masa lalu juga penuh kontradiksi, kita tidak bisa melihat hanya dari satu segi. Tak ada pengalaman yang dapat diambil pelajaran, dan tak ada sejarah yang berharga, bila kita melihat masa lalu lepas keterkaitannya dengan masa kini. Masa lalu selalu ada hubungannya dengan masa kini, bila tidak, maka tak pantaslah kita mempelajari sejarah.

Masa kini bukan sebatas keniscayaan, tapi sebagai cerminan masa lalu. Kita bisa merdeka, karena ada yang memperjuangkannya di masa lalu. Kita bisa membaca, karena di masa lalu kita belajar. 1000 tahun lalu amatlah dekat bila kita sanggap mengambil pelajaran darinya, dan satu detik yang lalu, amatlah jauh, bila penyesalan yang ada padanya.

Masa depan tak hanya jadi misteri, tapi juga sebuah cita-cita. Misteri bisa terungkap dengan hanya ditunggu, tapi cita-cita, sebuah perjalanan yang harus diciptakan. Masa depan adalah sebuah ketidak-mungkinan yang harus ditaklukkan. Pepatah itu nampak telah usang yang mengajari manusia menyerah pada keadaan.

Tuhan pun bersumpah atas nama waktu, yaitu pada surat yang ke 103, al-Ashr. Dalam ayat ke duanya dikatakan, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”. Nana Wijaya mengungkapkan jika rugi berada dalam konteks jual-beli, maka waktu adalah modalnya. Tentu, setiap manusia mempunyai modal itu, tinggal siapa yang lebih bisa memangfaatkannya, dan siapa yang abai padanya.

Manusia yang terlelap saat pergantian tahun baru tanpa huru-hara, walau ia abai padanya, tahun tetap saja berganti. Namun manusia yang terlelap dalam kenyamanan, sejauh apa pun waktu melesat, ia tetap saja berdiri dalam kondisi yang sama. Waktu dalam hitungan angka, bagaimana pun kita abai padanya, ia tetap saja berganti. Namun waktu dalam falsafi, setua apapun umur manusia, bila kita abai padanya, maka sejatinya manusia tak bergerak, berada dalam kejumudan.

Dengan demikian, waktu bukan soal perayaan maupun gerutu tajam padanya, tapi soal siapa yang mampu memangfaatkannya dan siapa yang abai padanya.

Tuliskan Komentarmu !