Menyoal Mulut dan Hal-Hal yang Biasa Dilakukannya

soal mulut
Sumber gambar: hidupsehat.com

SAVANA- Apa jadinya bila tubuh manusia tidak dilengkapi mulut? Okelah, persoalan yang akan muncul pertama kali adalah cara makannya. Bagaimana cara memasukkan makanan, bagaimana cara memasukkan minuman, bagaimana cara memasukkan asap rokok, dan lain-lainnya, menjadi problem nyata tentang permakanan jika manusia tak punya mulut.

Orang yang sakit parah, yang sedang koma, bisa makan dan minum, tetapi caranya sangat radikal. Dimasukkan selang ke mulutnya sampai ujung tenggorokan. Setelah sampai, barulah makanan dan minuman itu dimasukkan.

Tapi, ini yang tidak mengenakkan, makanan dan minuman itu sudah diproses sedemikian rupa. Diproses agar memudahkan masuk ke selang, dan langsung dicerna perut. Bagaimana rasanya, nikmat atau tidak, gurih atau tidak, tawar atau asin, tiada yang bisa membahas. Yang penting pasien kenyang. Dan yang penting lagi, dia masih hidup.

Persoalan kedua yang muncul jika manusia tidak dikaruniai mulut adalah bicara. Orang yang tidak punya mulut, di samping kelihatan aneh, dia juga pasti tak bisa berkomunikasi verbal dengan temannya.

Saat enak-enaknya berkumpul dengan teman-temannya, dia akan merasa aneh. Teman-teman lainnya yang mulutnya masih ada, mereka bisa bertegur sapa. Saling bercerita tentang anak istrinya, tentang pacarnya, tentang gosip artis yang paling aktual. Dan bisa pula mengungkit kesalahan orang lain.

Sedangkan dia yang tidak punya mulut hanya menjadi penyimak. Sesekali merespon, dengan bahasa tubuhnya, dengan tangan dan kepalanya. Maklum, dia sebenarnya ingin bicara dan tertawa, bahkan mengolok lawannya. Tapi apalah daya, mulutnya tidak ada.

Untungnya Tuhan itu selalu menciptakan segala hal yang ada di dunia ini tidak sia-sia. Tuhan selalu menyisipkan manfaat pada semua ciptaannya. Ini garansi teologis yang menuntut kita selalu menyelidik dan meneliti segala kebesaran-Nya itu.

Bagi orang yang tidak dikaruniai mulut, paling tidak ketidaksia-siaan yang diperolehnya, dia akan selamat di dunia. Hubungan sosialnya terjaga dengan harmonis. Karena satu hal yang utama, mereka tidak sanggup mengolok, membenci dan “misuhi” orang lain.

Tantangan kita sekarang ini, ketika terjadi masalah dengan orang lain, kita terbiasa tidak bisa mengerem mulut. Gosip, fitnah, berita hoaks, ujaran kebencian, yang terjadi di zaman kejayaan internet ini, semuanya dimudahkan dengan adanya mulut kita.

Lihat saja betapa banyak para tetangga yang tidak akur dan tidak bertegus sapa gegara mereka pernah saling lempat mercon yang keluar dari mulutnya. Akhirnya mereka pun bermusuhan dalam waktu yang lama. Padahal sejatinya pertetanggaan itu mewujudkan persaudaraan dan kerukunan.

Lihat juga di penjara-penjara. Banyak orang yang “ngandang” di bui penderitaan dikarenakan tak bisa mengontrol mulutnya. Punya sedikit problem saja, sempat-sempatnya dia mengatai seterunya dengan kata “setan”. Dilaporkanlah dia ke kantor polisi. Satu kata itu pun menjadi password kepindahannya, dari rangkulan istri cantiknya, menuju rangkulan para nyamuk di dalam bui.

Lihat juga di layar hape kita. Banyak video yang menayangkan mulut orang yang berkata seenaknya. Menghinadinakan orang lain. Menjelekkan orang lain. Padahal jika dilihat dari fisik wajahnya dan tentu pula ocehannya, dia sendiri jelek maksimal. Sok ganteng, padahal tayangan versi HD tak bisa memungkiri kejelekannya sendiri.

Karena ocehan mulut yang menganga tanpa terkontrol etika, jadilah pembalasan pun dilakukan. Orang yang dijelekkan membalas penjelekan itu dengan kejelekan pula. Jadilah, kita sebagai penonton setia film dokumenter yang tak ber-ending itu, bingung sendiri. Jelek dibalas jelek. Pisuhan dibalas pisuhan. Dan itulah bukti betapa rusaknya mulut orang kalau tidak dijejali etika.

Saya pernah berangan berdasarkan analogi Car Free Day (CFD) yang marak dilaksanakan di kota-kota besar. Sebuah kegiatan yang tujuan utamanya “meliburkan” laju mobil dan kendaraan bermotor lainnya barang sehari atau beberapa jam. Hasilnya, setiap CFD digelar, selalu tidak ada mobil dan kendaraan bermotor yang lewat. Masyarakat pun terbebas dari resiko kecelakaan lalu lintas dan hirupan asap knalpot yang merusak paru-paru.

Meniru CFD, kita pun sebenarnya bisa membuat even Hate Speech Free Day (HFD). Jadi ketika hari H sudah ditentukan, semua manusia yang melaksanakan ritual yang pasti sulit itu, mengerem mulutnya dari kata-kata yang berunsur kebencian.

Jika perlu, diatur pula sanksi tegas bagi orang yang melanggar. Misalnya, mulutnya di-uppercut Daud Cino Jordan. Ah tidaklah, itu terlalu ekstrem. Mungkin bisa diberlakukan kerja sosial. Misalnya seseorang berujar satu kata kebencian, maka dia diganjar membersihkan toilet satu tempat ibadah seharian penuh. Wah, sungguh mulia kalau angan-angan ini terealisasi.

Baca Juga: Yang Geisah, Yang Mengubah

Saya juga pernah mengangan, seandainya dalam urusan fitnah dan ujaran kebencian ini, Tuhan langsung turun tangan. Misalnya, sekali seseorang berujar kebencian, langsung di menit selanjutnya Tuhan akan menghilangkan beberapa persen mulutnya, sebagai hukuman. Jika mengulangi lagi, maka persentase berkurangnya mulut pun akan bertambah.

Sampai kemudian terjadi dengan massal, banyak orang yang tiba-tiba setelah bangun pagi, tidak bisa gosok gigi lagi. Sebab ketika dilihat di cermin kamar mandi, ternyata mulutnya sudah hilang.

Mereka pun menangis, tapi tak bisa bersuara. Istri cantiknya pun menghampiri, lalu mengelus rambut suaminya.

“Papa, ya beginilah resiko melanggar larangan Tuhan. Papa sih suka mengujar kebencian, mulut Papa pun jadi hilang.”

Si Papa tidak bisa membalas omongan istrinya. Dia hanya geleng-geleng kepala.

“Tapi menurut Mami, memang sebaiknya Papa seperti ini saja. Karena dengan ini Papa sudah tidak bisa lagi menghina orang lain. Jadi setiap hari Papa sudah terbebas dari hate speech.” Motivasi unggul dari istri cantiknya. Si Papa yang kehilangan mulut itu pun menjadi orang baik di kemudian hari.

Tuliskan Komentarmu !