Menyelamatkan Peradaban dengan Mencuri?

doc pribadi

SAVANA- Pada 1814, ketika tentara Inggris membakar perpustakaan Kongres di Washington, buku yang tersisa hanya ada di tangan-tangan pencuri buku, yang lambat laun mulai dikumpulkan dan bisa dipelajari kembali.

“Gila atau waras, mereka menyelamatkan peradaban.” Tentu saja, menyelamatkan peradaban tak selalu jadi motivasi. Sebagian dari mereka luar biasa egois. (Hlm. 200)

Tapi seperti kata pepatah, selalu ada penjelasan untuk tiap kegilaan.

Di mana pun, mencuri adalah perbuatan ilegal yang melanggar moral, tapi mencuri buku adalah prilaku yang paling ganjil. Tentu tak ada hasrat materiil di sana, yang ada hanya hasrat intelektual. Tapi, apakah bisa dibenarkan demi mengejar hasrat intelektual dilakukan dengan jalan ilegal?

Ini beda konteks dengan lelucon Gus Dur, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya. Dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam.” yang selalu dikutip oleh kebanyakan mahasiswa sehabis meminjam buku temannya, termasuk oleh saya.

Konteks lelucon Gus Dur akad awalnya adalah pinjam-meminjam, yang itu memang dilegalkan, walau pada akhirnya jadi pencurian yang terselubung. Sekarang coba kau tengok di rak bukumu, ada berapa judul buku hasil pinjaman yang belum kau kembalikan? Mengakulah…! Di rak buku saya yang terhitung baru ada 11. (Pak Rosihan, Kang Alam dan A Ridwan, maafkan sayaaa… saya hanya tak mau dikatakan orang gila seperti lelucon Gus Dur itu.)

Tapi ada yang unik dari kisah Gilkey. Gilkey mencuri buku karena ia merasa dunia benar-benar tidak adil kepadanya, dan mencuri adalah satu-satunya cara agar dendamnya bisa terbalaskan.

Gilkey mencuri dari toko atau saat pameran, menggunakan cek kosong dengan no atm acak. Beberapa kali Gilkey tertangkap, dipenjara, bebas, lalu mencuri lagi.

Tentu, buku menjadi pajangan yang unik di ruang tamu. Seberapa panjang jejeran bukumu di lemari, semakin menegaskan status sosialmu. Sekarang pun kita menyaksikan, betapa jejeran buku tak hanya jadi ruang yang paling sunyi dan intim, tapi jadi ruang yang paling riuh untuk dijadikan latar berbicara di depan kamera.

Kegilaan itu yang membuat Gilkey rela mencuri dan dipenjara. Ia mau berbangga kepada siapa pun yang mengunjungi rumahnya, dikenang sebagai orang yang paling dekat dengan ‘peradaban’.

Kisah Gilkey memang berakhir tragis. Ia tidak dikenang sebagai intelektual cum sastrawan, ia dikenal sebagi pencuri buku yang kisahnya dituturkan oleh seorang wartawan New York Time, Allison Hoover B. Dan tentu, Gilkey termasuk golongan pencuri yang egois.

Pencurian buku, walau terkesan ganjil, tapi ternyata banyak terjadi di berbagai belahan dunia. “Aku pernah mengenal orang-orang yang mempertaruhkan nasib mereka, melakukan perjalanan panjang hampir ke seluruh dunia, melupakan persahabatan, berbohong, berbuat curang, dan mencuri, semuanya demi mendapatkan sebuah buku.” Menurut pengakuan agen buku di abad kedua puluh, A. S. W. Rosenbach.

Buku memang jadi barang yang malang. Ia diperebutkan, dicuri, dilarang, dibakar. Tapi banyak pula yang berdebu tak tersentuh. Sekali lagi, tengoklah rak buku kita.

Tuliskan Komentarmu !