Menyambut Hari Kemerdekaan

Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Walau tanggal 17 Agustus masih terhitung jauh, tapi riuh-riuh perayaan untuk menyambut hari kemerdekaan sudah hangat. Tak hanya ada pada atribut merah-putih atau patung “perlawanan para pahlawan” di tiap gang, tapi juga acara perlombaan di tiap kampung, dusun, hingga desa yang sudah mulai digelar, bahkan beberapa di antaranya sudah selesai. Lho kok sudah selesai? Kan di awal waktu lebih baik, coy!

Tentu tiap daerah punya ciri khasnya masing-masing dalam menyambut hari proklamasi ini, tapi di atas semua perbedaan itu, tetap ada yang universal, yakni: rasa haru. Mungkin di kotamu hari kemerdekaan biasa dimeriahkan oleh dangdut koplo misalnya, dengan segala macam perlombaannya, atau mungkin juga dihangatkan oleh wayang, jaipong, kasidah atau pengajian. Tapi yang tak boleh dihilangkan adalah rasa heroik kepada para pendahulu kita yang sudah berjuang.

Bagi sebagian rakyat, prosesi menyambut hari kemerdekaan ini begitu mendalam, bahkan mendekati sakral. Bagi orang kota yang biasa dengan wacana bahwa “Indonesia belum sepenuhnya merdeka”, atau yang suka membahas bahwa hari kemerdekaan tak mesti diperingati dengan cara “seperti itu”, akan memicingkan matanya sambil nyinyir (dalam artian cerewet perintah ini larang itu, bukan menyindir).

Hidup di alam merdeka (dalam pengertian tekstual: lepas dari penjajahan Belanda, Jepang, si Merah –PKI-; singkat kata segala macam peperangan pisik) adalah cita-cita yang amat didambakan. Dalam “Cerita dari Blora”nya Pramoedya, digambarkan dengan amat getirnya hidup di masa itu; sesama bangsa sendiri saling menikam hanya untuk bisa bertahan hidup; saling cakar antara si Merah, republik dan si Hijau untuk saling menguasai.

Paling tidak, sekarang kita bisa bernapas lega karena lepas dari peperangan pisik. Kejatuhan Orde Baru membuat Indonesia bisa mengambil napas baru, memperbaiki tatanan masyarakat bawah dari bayang-bayang “ketakutan”, mamperbaiki demokrasi kita dari bayang-bayang kerajaan. Dan memang, demokrasi kita belum kelar.

Kuntowijoyo dalam Identitas Politik Umat Islam memberika alternatif-alternatif lain bagi demokrasi kita, yang tidak kapitalis namun juga tidak sosialis. Dalam sub judul Kaidah-Kaidah Demokrasi, Kuntowijoyo menitik-poinkan bahwa demokrasi kita mesti saling mengenal, musyawarah, kerja sama, menguntungkan umat, adil, dan yang terpenting adalah membawa perubahan.

Dalam buku itu juga Kunto memberikan penerangan mengenai Demokrasi Politik, Demokrasi Sosial, Demokrasi Ekonomi, Demokrasi Agama dan Demokrasi Kebudayaan. Maksud Kunto, mesti ada formula-formula baru jika demokrasi yang lalu tidak membawa perubahan yang signifikan untuk umat, dan Kunto menawarkan formulasinya: Ta’awun.

Mari kita menatap seorang kakek yang berusia 73 tahun ke atas. Maksudnya, seseorang yang menyaksikan bagaimana Indonesia ini berkembang: dari meniti sebagai negara yang baru merdeka, melewati barbagai macam gangguan -dari luar maupun dari dalam, hingga sampai saat ini. Pada masa transisi itu, hitung berapa korban yang berjatuhan (entah karena perang atau pun kelaparan)?

Kita yang masih diberikan usia untuk bertahan –entah dalam keadaan jaya harta jaya jiwa atau sebaliknya-, apa tak ada heroik-heroiknya gitu? Ih, kamu ma gitu~.

Kita memang hidup di zaman yang serba enak ( enak mulut lho! ), mau pergi tinggal ‘klik’ Gojek ( kan tetep mesti bayar bosque ), mau belanja tinggal ‘klik’ Akulaku ( duh, kreditanku makin nambah tau! ), mau eksis kaya selebritis tinggal ‘klik’ Instragram ( followersku dikit masque, hiks ), mau olahraga tinggal ‘klik’ Mobile Lagends ( gara-gara bocah-bocah yang afk, rankku masih Master nich ), mau kelihatan intelek tinggal ‘klik’ Google lalu copy-paste ke kolom komentar media ternama ( kan tetep ada proses editing dulu bosque ).

Masih tergantung sama kuota kok ngaku-ngaku merdeka. Bhaa…

Tuliskan Komentarmu !