Menulis Adalah Tempat yang Paling Sunyi

SAVANA- Pada tahun 2011 Tempat Paling Sunyi mendapatkan penghargaan bergengsi Khatulistiwa Literary Award. Jika melihat tulisan di belakang caver novel ini, sebenarnya novel ini tidak memiliki cerita istimewa. Hanya berupa permasalahan rumah tangga yang luar biasa pelik antara tokoh bernama Mustafa dengan istrinya bernama Salma.

Tapi tidak adil rasanya menilai buku setebal 327 halaman hanya dari tulisan di belakangnya, maka saya putuskan membeli buku ini. Buku ini memiliki narator “aku”, dia adalah seorang penulis, penggiat literasi asal Banda, tokoh “aku” ini sedang menyelidiki tentang kehidupan Mustafa dan novelnya Tempat Paling Sunyi.

Di akhir-akhir bab akan diceritakan bagaimana “aku” menjadi tertarik akan kisah hidup dari Mustafa. Mustafa sendiri adalah orang yang terobsesi untuk menulis novel, dia begitu mengaggumi karya sastra. Bahkan alasan Mustafa menikahi Salma adalah karena suatu hari Salma pernah “secara tidak sadar” berkata tentang keagungan novel.

Di kehidupan sebenarnya, Salma sebenarnya tidak pernah mengerti apa pentingnya novel. Bagi Salma, menulis novel adalah pekerjaan sia-sia, karena membutuhkan waktu lama dan tidak menghasilkan uang.

Karena memiliki latar belakang dari keluarga kaya, Salma tumbuh menjadi anak manja, yang hanya mendengarkan apa kata ibunya. Selain itu Salma juga memiliki mulut yang tajam, seringkali perkataan Salma menikam Mustafa.

Tentu saja Mustafa geram dan beberapa kali Mustafa memutuskan untuk pergi dari rumah. Setelah kembali ke rumah, Mustafa dan Salma kembali berbaikan, tapi tidak menjelang lama mereka kembali bertengkar karena masalah hal yang sama. Hal ini membuat Mustafa sangat tertekan dan membuat Mustafa tidak bisa mengerjakan hal yang paling ia sukai, yaitu menulis novel.

Biarkanlah sejenak aku memasuki duniaku sendiri karena di dunia ini tidak ada perihal lain yang membuatku bahagia. Menulis novel merupakan segalanya dalam hidupku….” (Halaman 95).

Awal-awal buku ini hanya menceritakan betapa rusaknya hubungan rumah tangga Mustafa dan Salma. Para pembaca dipaksa akan sangat terganggu dengan setiap pertengkaran-pertengkaran yang terjadi.

“Kaulah yang harus memperbaiki diri, ucap Mustafa dalam hati. Karena sumber dari segala petaka yang membawa hubungan kita ke jurang kehancuran adalah dirimu.” (Halaman 57).

Suatu waktu Mustafa bertemu dengan Riana, gadis yang diimpikannya. Walau masih berstatus suami Salma, tapi hal itu tidak menyurutkan niat Mustafa untuk tidak mendekati Riana. Tak diduga, meskipun Riana mengetahui status Mustafa adalah masih menjadi suami Salma, tapi Riana
tak menolak cinta Mustafa.

Singkat cerita, novel yang dikerjakan Mustafa rampung, tapi tak ada penerbit Jakarta yang mau menerbitkan novelnya, dan akhirnya Mustafa menerbitkannya sendiri dan membagi-bagikan karyanya kepada teman dan kerabat.

Walau sempat dibuat geram oleh Mustafa, tapi saya juga bibuat takjub olehnya, karena digambarkan dengan jelas betapa cintanya Mustafa terhadap Salma. Selain itu kekaguman saya akan Mustafa adalah saat dia menangis seperti anak kecil di jalan umum saat mengetahui temannya ditembak aparat.

Bagi saya Mustafa tidak menunjukan karakter yang toxic masculinity. Cerita rumah tangga rumit Mustafa bisa dikemas dengan kata-kata yang indah oleh Arafat Nur, pembaca diajak berimajinasi tentang keadaan Lamlhok, ruwetnya hidup di rumah Salma, dan juga tekanan batin yang dialami Mustafa.

Cara bercerita Arafat Nur juga sangat bagus di sini, walau diawal sedikit terasa lamban, tapi tidak membosankan, bahkan saya menikmati kata per kata yang ada. Tidak heran jika Tempat Paling Sunyi mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award.

Mungkin Tempat Paling Sunyi adalah bukti dari seberapa cintanya Arafat Nur terhadap dunia sastra dan tulis menulis. Ini terlihat dari terobsesinya Mustafa terhadap novel, dan juga “aku” yang terobsesi akan novel yang ditulis oleh Mustafa.

Selain itu tokoh “aku” beberpa kali kesal dengan kondisi masyarakat sekitar yang tidak suka membaca buku. “Buku bukanlah benda berharga bagi kaum yang bebal ini sehingga mereka tidak perlu membaca, dan selamanya mereka tidak suka membaca buku, bahkan sampai sekarang. Yang ada dalam tempurung keras mereka hanyalah timbunan kotoran!” (Halaman 273).

Terkait dengan kebiasaan membaca mungkin itu bisa saja dimaklumi, saat itu kondisi Aceh belum stabil, pemberontak baru saja berdamai dengan pemerintah Indonesia. Membaca bukanlah pekerjaan prioritas saat itu. Pada akhirnya ini adalah novel tentang obsesi, rumah tangga, cinta, sedikit bumbu peperangan, dan kerumitan-kerumitan lainnya. Tidak heran jika novel ini dibuka dengan kata “Novel, Perang, Cinta, Penderitaan, Sama Rumitnya” (halaman 5).

Tuliskan Komentarmu !