Menjawab Tantangan Millennials Workforce

sumber gambar: kumparan.com

SAVANA- Hari ini workforce telah menjadi ekosistem yang dinamis. Berdasarkan Delloite Insight 2018, terdapat 42% perusahaan atau pelaku bisnis yang mulai bergantung pada tenaga kerja kontrak, freelance, dan gig workers. Oleh karena itu HR dan business leaders harus cakap menyikapi tantangan ini, untuk dapat bergerak lebih cepat dan menciptakan competitive advantages.

Perubahan workforce ini karena dipengaruhi oreh perubahan eksternal perusahaan yaitu karyawan atau pekerja. Generasi pekerja terus berubah seiring berkembangnya jaman, dan saat ini adalah generasi pekerja millenial/millennials workforce yang tentunya berbeda dengan generasi sebelumnya, mulai dari mencari pekerjaan hingga rencana berapa lama dia akan bekerja di perusahaan tersebut.

Millenial merupakan digital native, semua aktifitasnya pasti bersentuhan dengan digital dan internet. Begitu pun jika mereka ingin mencari lowongan pekerjaan, website lowongan pekerjaan menjadi rujukan utama millenial dalam mencari informasi lowongan kerja. Berdasarkan IDN Research Institute, satu dari dua millenial Indonesia mencari informasi lowongan pekerjan dari situs lowongan kerja. Situs jobstreet.com dan jobsdb.com menjadi dua situs yang paling banyak menjadi rujukan millenial dalam mencari informasi kerja.

Gajinya berapa? Itu yang pada umumnya para millenial tanyakan sebelum memilih pekerjaan, baru setelahnya bertanya soal teknis kerja, brand prusahaan, waktu kerja, lokasi, dan lain-lain. Millenial dikategorikan memiliki loyalitas yang lemah kepada perusahaan, idealnya millenial bertahan 2 samapi 3 tahun dalam pekerjaan.

Berdasarkan IDN Media, 3 dari 10 karyawan akan bertahan di satu perusahaan hanya dalam 2 sampai 3 tahun, dan hanya 1 karyawan yang akan bertahan lebih dari 10 tahun. Kondisi tersebut yang akan membuat terjadinya turn over tinggi pada generasi ini.

Faktor yang menyebabkan millenial untuk berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu, fasilitas pengembangan diri yang lebih baik, besaran gaji yang lebih baik, dan kondisi lingkungan kerja. Career path menjadi faktor utama millenial untuk keluar dari perusahaan karena mendapat tawaran yang lebih dari perusahaan sebelumnya.

Memberdayakan bakat dengan kebebasan berkreasi tanpa adanya tekanan, itu yang seharusnya perusahaan lakukan agar dapat memaksimalkan potensi millennial workforce. Karakter generasi millenial ada 3 yaitu connected, confisent dan creative.

Millenial menyukai kreatifitas dalam lingkungan kerja, karena kreatifitas memang bagian dari pasion mereka. Dari beberapa penelitian menyatakan bahwa millenial lebih suka bekerja dengan kebebasan  untuk berkreatifitas, bekerja dengan waktu yang fleksibel, dan juga bekerja secara tim.

Sudah banyak perusahaan yang merespon baik dengan berubahnya tren workforce, mulai dari membuat kebijakan-kebijakan baru sampai pemenuhan fasilitas kerja. Dengan contoh desain kantor disulap menjadi minimalis dengan wajah yang kekinian, yang dimaksudkan untuk memacu kreativitas dan mengurangi kejenuhan. Millennials workforce juga paling anti bekerja selalu dalam pengawasan atasan.

Google salah satu contoh perusahaan yang sudah lama menerapkan fleksibelitas dalam bekerja, terutama menunjang kreatifitas millenial demi inovasi yang tak terputus. Perusahaan menyediakan rest room bagi karyawan yang ingin tidur siang, atau menghilangkan jenuh dengan bermain game, gym, bahkan berolahraga.

Hal tersebut sudah mulai diadopsi oleh salah satu BUMN Indonesia, yaitu Telkom. Telkom tidak lagi menuntut karyawan untuk selalu stay di kantor dalam menyelesaikan pekerjaan, Telkom juga telah merubah lingkungan kantor menjadi open space dan semua terintegrasi, dan masih banyak lagi.

Dalam menghadapi millennials workforce perusahaan harus merumuskan langkah strategis yang dilakukan untuk menciptakan peluang baru.

  • CEO : Memastikan perusahaan mempunyai kapabilitas dalam menangani workforce yang terus berubah.
  • CHRO : Membuat strategi manajemen tentang workforce sebagai pemenuhan kebutuhan perusahaan yang berubah.
  • CFO : Memahami implikasi keuangan ekosistem workforce dan memastikan manfaat financial yang didapat.
  • CIO : Bekerja sama dengan SDM untuk menciptakan infrastruktur TI untuk membantu mengelola ekosistem workforce secara efektif.
  • CRO : Pertimbangkan kebijakan baru apa yang mungkin diperlukan untuk mengelola tanggung jawab ketenagakerjaan dalam ekosistem tenaga kerja, termasuk kebijakan seputar masalah seperti melindungi informasi rahasia dan mengelola risiko reputasi.
Tuliskan Komentarmu !