Menjadi Manusia Modern

ridwan rustandi

SAVANA- “Media turut menciptakan keretakan emosi dalam dimensi kehidupan kita” -Richard M. Restak-

Manusia sebagai bagian dari komunitas sosial, tengah mengalami sebuah perubahan kultural yang mengarah pada perubahan pola dan gaya hidup. Perubahan yang dimaksud merupakan manifestasi graduasi informasi dan pesatnya teknologi modern. Hal ini dapat kita lihat dari seberapa besar porsi dan peranan teknologi dalam mengubah paradigma hidup pelakunya.

Seolah tak mau menafikan yang ada, Alvin Toffler (1981) sebagaimana dikemukakan Jalaluddin Rakhmat, mengatakan bahwa saat ini tengah terjadi sebuah graduasi perubahan hidup, yakni  akselerasi perubahan gaya hidup dalam berbagai aspek dan komponen kehidupan.

Toffler mencoba merangkaikan graduasi tersebut dalam empat tahapan. Menurutnya, manusia mula kali mengalami perubahan dimensi Technosphere, tahapan perkembangan teknologi yang mengarah pada proses perubahan kultural pelakunya. Tahapan ini diawali dengan geliat kemajuan teknologi secara jasmani.

Technosphere menciptakan instrumen-instrumen hidup yang simplistis, serba mudah dan serba instan. Dapat kita lihat sekarang, manusia tak mau susah untuk mengakses segala kebutuhannya. Cukup dengan menekan gadget-gadget teknologi tertentu, maka apa yang ia inginkan sudah tersedia didepan mata.

Tahapan selanjutnya, sebagai buah dari akselerasi teknologi ialah tahapan Infosphere, dimana perkembangan teknologi secara fisik, memungkinkan manusia pada umumnya –dengan bantuan dari beragam teknologi yang ada- bisa mendapatkan informasi dengan mudah dan tanpa adanya sekat-sekat pembatas. Dalam hal ini dunia mengarah pada deteritorialisasi wilayah.

Ada sebah reformasi media yang berimplikasi pada akselerasi informasi tanpa batasan jarak, ruang dan waktu. Di satu pihak, dengan adanya Infoshpere ini manusia diuntungkan, karena manusia dengan mudah mampu mengetahui beragam informasi –baik yang bersifat mendidik ataupun mempengaruhi- di seluruh pelosok dunia. Namun, di satu sisi yang lain kita pun tidak bisa menafikan, bagaimana geliat akselerasi informasi ini mendatangkan beragam implikasi negatif. Misalnya, kurang adanya ruang privasi dalam memberitakan atau memberikan informasi yang bersifat umum.

Sebagai buah dari Infoshpere ini, maka tahapan selanjutnya ialah Psycosphere. Geliat dan peranan media dewasa ini secara psikologis berpengaruh terhadap ruang personal (personality) para pelaku di dalamnya (baik mereka yang bertindak sebagai produsen maupun mereka yang bergerak sebagai konsumen media).

Dengan merujuk pada prinsip komunikasi klasik, bilamana ketika komunikasi disampaikan maka komunikasi menyentuh dimensi emosional para pelakunya. Begitupun dalam tahapan ini, perubahan media tentunya berpengaruh pula terhadap dimensi psikologis manusia.  Tak salah kiranya ungkapan yang dikatakan oleh Richard M. Restak di atas, bagaimana geliat informasi media menciptakan sebuah keretakan pada dimensi emosi masyarakatnya.

Di samping itu, sifat dasar media yang cenderung jauh dari pedoman netralitas menjadi faktor penyebab perubahan yang ada. Bagaimana media mencoba menggiring asumsi publik (khalayak ramai) pada sebuah kepentingan para aktor di balik pemberitaan media yang ada. Yang dikhawatirkan Toffler ialah, tahapan graduasi terakhir, ia beranggapan bahwasanya perubahan psikologis yang terjadi berakibat pada perubahan kehidupan sosial.

Tahapan terakhir yang dikenal dengan Sociosphere merupakan buah dari tahapan graduasi sebelumnya. Perubahan ketiga dimensi sebelumnya akan berpengaruh pada aktivitas sosial –termasuk di dalamnya kepeduliaan dan kepekaan social.

Pola hidup yang cenderung private memungkinkan manusia sebagai penikmat media lupa bahwasanya dirinya bagian dari kehidupan masyarakat. Seringkali kita temui, orang yang hanya mengedepankan kehidupan pribadinya tanpa mau melihat dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Artinya, saat ini tengah hilang sebuah dimensi empatik di antara manusia sebagai pelaku interaksi dan komunikasi sesama.

Tuliskan Komentarmu !