Menjadi Kesatria di Tengah Ingar Bingar Kampanye Politik

rosihan fahmi
Ilustrasi: Rizki Agustian

SAVANA-Alkisah, Don Quixote pernah memberikan wejangan kepada hamba setianya, Sancho Panza, mengenai pilihan hidupnya untuk menjadi kesatria:

Beginilah pikirku, jika seorang pelukis ingin populer, ia mencoba meniru guru lukis yang baik. Dalam hal tugas penting lainnya juga begitu. Jika ingin sabar dan hati-hati demi keindahan pemerintah republik, orang harus meniru Ulysses, pribadi sabar dan hati-hati yang digambarkan Homerus. Tirulah Aeneas yang digambarkan Virgilius, jika ingin jadi orang pemberani. Ketahuilah, kedua penyair itu menggambarkan Ulysses dan Aeneas bukan dengan maksud bahwa kedua tokoh itu ada, tapi bagaimana supaya mereka harus ada. Maksudnya, agar mereka menjadi teladan kebijaksanaan bagi masa-masa yang mendatang. Demikian juga Amadis. Dialah batu penjuru, bintang dan matahari bagi para pahlawan yang gagah berani. Siapa ingin berjuang di bawah panji cinta dan kepahlawanannya, ia harus meniru Amadis. Maka Sancho, sahabatku, aku berpendapat, siapa saja meneladan Amadis dengan sempurna, ia akan dekat sekali pada kepahlawanan yang sempurna. (R. Girard, 1965).

Di Indonesia, kisah ini memang kurang begitu populer. Andaikata kisah ini populer, mungkin bangsa ini tidak akan pernah kekurangan generasi kesatria yang bijaksana. Para calon kesatria tidak akan hanya disibukkan mencuri simpati dengan berbagai pencitraan, seperti yang tengah terjadi di negeri ini sekarang; jelang Pemilu 2019.

Panggung politik semangkin hari semangkin memanas; bertebarannya spanduk, baligo dan berbagai media sosialisasi yang tepangpang di sepanjang jalan raya hingga gang-gang sempit kota. Demokrasi semangkin semarak, demi suatu pencitraan untuk meraih simpati masyarakat. Bahkan urusan tagar (#) menjadi ajang kontestasi kekuasaan.

Namun sayangnya, momentum pesta demokrasi ini justru banyak dipenuhi oleh sejumlah niatan-niatan mulia, tapi yang sering muncul dipermukaan justru malah kecurangan, ketidakadilan, dan atau bahkan membodohi dan menyengsarakan rakyat.

Belajar dari Sosok Don Quixote

Ada sesuatu yang sangat menarik pada sosok Don Quixote, terlebih apabila dihubungkan dengan situasi politik hari ini. Hal menarik dari sosok Don Quixote adalah prinsip: untuk menjadi sosok tertentu dibutuhkan model atau teladan kebijaksanaan. Misalnya, Don Quixote memilih Amidas sebagai teladan kebijaksanaannya, karena ia menginginkan dirinya menjadi sosok kesatria yang pemberani dan bijaksana.

Kisah petualangan Don Quixote, tokoh kesatria hasil rekaan Miguel de Carvantes (1547-1616) hingga hari ini pun memang tidak pernah habis untuk dibicarakan. Entah karena kekonyolannya, atau karena kegigihan dan ketulusannya dalam memegang teguh idealisme yang ia tempa selama bertahun-tahun.

Sejatinya, untuk bisa menjadi seorang kesatria sejati bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan banyak syarat yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, sembari menggunakan konsep Pierre Bourdieu (1930-2002), bahwa siapa saja yang ingin menduduki kelas sosial tertentu, tentunya harus memahami ‘aturan main’ yang berlaku di kelas sosial tersebut.

Aturan main untuk menjadi seorang kesatria sejati diantaranya: harus memiliki baju zirah, sebilah pedang yang kokoh, seekor kuda yang gagah berani, memiliki pengikut atau hamba yang setia, dan harus memiliki pujaan hati. Bagi sebagian orang (khususnya bagi mereka yang kaya raya), bukanlah sebuah kendala besar agar bisa memenuhi prasyarat untuk mendapatkan gelar kesatria tersebut, toh semuanya bisa dibeli oleh harta benda. Namun tidak demikian yang terjadi pada Don Quixote. Selama mempelajari aturan main menjadi seorang kesatria sejati, ia sampai lupa makan, jarang tidur, dan sudah tidak sempat lagi untuk berburu serta bekerja di ladang. Semua itu sengaja ia lakukan sekadar memenuhi ambisi untuk menjadi sang kesatria.

Apa yang diperbuat oleh Don Quixote untuk menjadi kesatria, mungkin tidak seperti apa yang dikonsepsikan Bourdieu secara menyeluruh, tentang apa dan bagaimana menggunakan modal ekonomi, sosial, politik dan budaya. Namun Don Quixote benar-benar seorang yang bersedia mengubah teks menjadi suatu tindakan yang nyata. Dari sekadar teks dongeng atau cerita-cerita fiktif kesatria, hingga kisah-kisah kepahlawanan yang real, ia aplikasikan dalam kehidupannya dengan segenap keseriusan, tanggungjawab serta rasa cinta.

Bisa dikatakan bahwa, kegagalan pada Don Quixote hanya terletak pada ketidakmampuannya dalam menerjemahkan teks pada tataran konteks. Wajar apabila itu terjadi pada Don Quixote, modal sosial yang ia miliki sangatlah terbatas. Ia hanya memiliki baju zirah rombeng peninggalan kakeknya, sebilah pedang tua, seekor kuda yang kurus kering dengan nama yang indah; Rozinante, seorang hamba yang setia namun tidak berpendidikan, dan seorang pujaan hati Dulcinea del Toboso; nama yang sangat indah, namun tidak seperti aslinya.

Namun satu hal yang harus dicatat dari diri sang kesatria Don Quixote, dalam dirinya ia memiliki 2 jiwa sekaligus, yakni dirinya dan Amadis. Inilah modal sosial utama yang paling mendasar yang dimiliki sang kesatria pemberani Don Quixote. Don Quixote adalah sosok pahlawan yang pantang menyerah dalam menggapai cita-cita, tak peduli berbagai rintangan dan godaan yang senantiasa menghampirinya.

Tapi yang penting dari sosok Don Quixote adalah tekadnya dalam mempraktikan nilai-nilai luhur panutannya pada setiap langkah dan gerak-gerik perjuangannya. Suatu ketika Don Quixote berkata  kepada Sancho Panza: Menjadi pemimpin berarti menjadi teladan kebijaksanaan bagi masa-masa yang mendatang .

Peniru yang Bijak

Bagi René Girard (1923), membaca kembali Don Quixote berarti jalan menuju gerbang pertaubatan, sosok idealis yang dibutuhkan di tengah zaman yang rapuh akan idealisme. René Girard yang tiada lain merupakan teman seperjuangan Roland Barthes, Jacques Derrida, dan Jacques Lacan, dalam memperkenalkan pemikiran filosofis baru di Amerika.

Untuk menjadi pemimpin yang ideal, apabila menggunakan sudut pandang René Girard itu bisa berarti menjadi peniru yang bijak. Menurut Girard, keprihatinan Cervantes adalah dengan menampilkan sosok Don Quixote sebagai imitator, seorang peniru. Cervantes berhasil menampilkan hal tersebut. Ia membuka suatu kenyataan dalam masyarakat yang kehidupannya berjalan berdasarkan sistem tiru-meniru. (Sindhunata, 23:2006).

Menjadi imitator bukan berarti menafikan orisinalitas, namun senyatanya adalah sesuatu yang fitriah. Bagi Girard, Don Quixote telah menyerahkan total hak-haknya pada Amadis. Amadis adalah sosok ideal, karena ia memiliki kriteria berani dan bijaksana. Amadislah model yang memilihkan dan menentukan objek-objek dari hasrat Don Quixote untuk menjadi kesatria. Hal seperti ini kemudian yang dinamakan oleh Girard sebagai mediator hasrat (mediator of desire).

Hubungan Don Quixote terhadap Amadis adalah pola umum dan dasariah bagi setiap kisah kepahlawanan lainnya. Eksistensi kepahlawanan adalah peniruan, seperti peniruan Don Quixote terhadap Amadis, yang dalam hal ini sama artinya dengan peniruan kita (bagi mereka yang muslim) dalam megikuti jejak Rasul Muhammad sebagai eksistensi yang tak terelakan.

Mengingat betapa banyaknya pemimpin maupun calon pemimpin yang memiliki latar belakang agama Islam sebagai keyakinannya, namun apakah mereka benar-benar menjadikan dirinya sebagai imitator dari Rasul Muhammad? Semoga saja begitu.

Apabila kita mau bercermin kembali secara bijak, dan bahkan sejarah pun telah membuktikan bahwasanya Rasul Muhammad lah prototipe ideal dalam banyak hal, termasuk perannya sebagai pemimpin yang layak menjadi panutan. Allah telah menggariskan dalam Al-Quran, bawasanya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Q.S. Al Ahzab ayat 21).

Keberhasilan Rasul Muhammad dalam memimpin bukan semata-mata karena ia telah dijaga atau dima’sum oleh Allah s.w.t., akan tetapi, beliau dalam kesehariannya selalu menempa diri dengan berbagai ujian dan cobaan melalui sifat-sifatnya (amanah, fatonah, sidik, dll), sehingga tertanam dalam dirinya jiwa sang pemimpin. Ia sendiri tidak pernah lupa untuk selalu bercermin kepada Nabi Ibrahim a.s (Bapak Para Nabi) sebagai panutannya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah s.w.t dalam  Q.S. Al Mumtahanah ayat 4 sampai 6.

Namun dalam situasi seperti sekarang ini, kita jangan pernah berkecil hati. Kita memang bukanlah sang kesatria pemberani seperti  Don Quixote, apalagi seperti seorang Nabi. Kita hanyalah segelintir ras umat manusia yang tersisa, dengan segudang persoalan. Barangkali, hal yang harus kita lakukan hari ini adalah memperbaiki kembali niatan kita ketika hendak mencalonkan atau dicalonkan sebagai pemimpin, atau bahkan dalam memilihya. Alhasil, siapa pun untuk menjadi seorang pemimpin harus merujuk pada sosok keteladanan yang layak.

 Baca Juga: Kisah Cinta yag Tak Tuntas

Tuliskan Komentarmu !