Mengintip Duka Lulusan Sastra Bahasa Asing

duka sarjana bahasa asing
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Ketika saya bertemu beberapa rekan yang dulunya sama-sama lulus dari Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Jepang, obrolan yang sering saya dengar adalah, ”Duh, aku udah lama nggak pakai bahasa Jepang, jadi banyak lupa deh!”

Sebenarnya itu bukanlah masalah, juga bukan salah mereka. Hanya saja, terkadang orang-orang di sekitar kami ini yang setelah tahu kalau kami lulusan bahasa asing -sastra pula, akan memberikan stereotip aneh-aneh. Bahkan tidak jarang stereotip itu membuat hati kesal. Misalnya:

Anak Sastra Pasti Jago Menulis Sastra

Memang benar, selain belajar bahasa asing, kami juga dicekoki materi-materi yang berbau nyastra. Nah, masalahnya itu kan dipakai hanya waktu kuliah. Saya sendiri belajar di Sastra Jepang dengan tujuan untuk menguasai tata bahasanya, bisa membaca kanji dan paham budaya.

Cita-cita sebagian besar kawan-kawan saya dulu adalah bisa bekerja di perusahaan Jepang, atau melanjutkan pendidikan di Jepang. Rupanya ketika sudah lulus dan bekerja, kadang kami ditanyakan tips membuat puisi dalam Bahasa Jepang, apakah suka membuat haiku atau tidak, dan karya sastra Jepang milik siapa yang kami suka.

Sewaktu kuliah dulu, saya (dan teman-teman sekelas pasti setuju) butuh usaha super tinggi untuk mengkaji puisi, atau membedah cerpen yang memakai Bahasa Jepang. Ketika tugas-tugas tersebut dibahas di dalam satu kelompok pun, tak jarang kami berdebat demi menemukan makna yang sesuai. Dan tidak semuanya hobi menulis, meski menulis dalam bahasa Indonesia sekali pun.

Kebetulan saja, menulis dan membaca sudah menjadi hobi saya sejak kecil, jadi label itu masih ada benarnya. Dan teman saya yang lulusan Sastra Inggris pun berkata,”What? Reading? When I read, I will sleep.”

Ketika Bekerja Tak Sesuai Jurusan

Cita-cita boleh saja tinggi, namun nasiblah yang menjadi penentu. Tidak semua lulusan sastra bahasa asing bekerja menggunakan kemampuan bahasanya. Teman-teman saya ada yang bekerja di bank atau di bidang lain. Bahasa itu kalau lama tidak dipraktekkan dan tidak dilatih, pasti lama-lama akan lupa juga, kaya mantan #eh. Kalau dalam bahasa Jepang, jangankan bisa menulis huruf kanji, bagaimana cara membacanya saja bisa jadi sudah lupa.

Contoh lain. Ketika ada orang bule yang datang ke bank dan butuh bantuan, lalu disodorkanlah manusia lulusan Sastra Inggris yang dianggap maha tahu soal Bahasa Inggris. Akan tiba saatnya si alumni ini kebingungan karena bule itu memakai Bahasa Inggris logat spanyol misalnya, dan si penerjemah dadakan gagal menangkap maknanya.

Kegagalan itu bisa jadi akan dicap buruk hampir sepanjang karirnya. Julukan ‘Alumni Bahasa Inggris tapi kok nggak bisa Bahasa Inggris’ pun menempel di jidat serta punggungnya. Padahal berapa banyak wisudawan dan wisudawati yang kuliah namun keahliannya tidak sesuai dengan jurusannya? Sarjana Pertanian yang berbelok menjadi banker juga banyak. Atau Sarjana Pendidikan yang jadi pengangguran intelektual. Haa~

Ditanya Bakal Kerja Apa

Kebalikan dari topik sebelumnya, masih saja ada orang-orang yang bertanya buat apa kami memilih jurusan sastra, apalagi dalam bahasa asing pula. Lucunya, malah satu keluarga saya pernah bertanya begini, ”Kamu mau kerja apa kalau lulus? Mau jadi TKW di Jepang?”

Untungnya selepas lulus saya berkesempatan untuk bekerja sambil menggunakan Bahasa Jepang, tetapi beda lagi dengan yang lain. Di tengah masyarakat kita, ada anggapan jika lulus jurusan A, maka wajiblah bekerja di bidang A.

Menurut saya, mau kuliah di jurusan apa pun, itu tidak harus memaksakan diri bekerja sesuai bidang studi. Mau lulus dari Sastra Jerman tetapi bekerja menjadi polisi, silakan, atau lulusan Sarjana Hukum malah menjadi pebisnis online juga bukan dosa.

Yang menjadi masalah kalau lulus lalu bekerja menjadi maling hingga koruptor. Kuliah itu kesempatan untuk menimba ilmu lebih banyak, namun bukan menjadi tolok ukur seseorang harus menjadi apa setelahnya.

Begitulah duka lulusan sastra bahasa asing yang sering saya dengarkan dari teman-teman, atau  tidak sengaja numpang lewat di telinga. Buat siapa pun yang masuk jurusan sastra, jangan berkecil hati ya! Tekunlah belajar dan lulus tepat waktu, lalu carilah pekerjaan yang halal. Itu juga sudah cukup untuk hidup di bumi yang konon kejam ini.

Baca Juga: Memoar Pendidikan Indonesia

Tuliskan Komentarmu !