Mengatasi Depresi dengan Memaknai Surat Ad-Dhuha

taufik ginanjar
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Selama belajar ilmu psikologi, tak ada yang paling praktis dan mudah dipahami dalam mengurai dan menemukan solusi atas masalah-masalah psikis manusia, selain dari kitab Al-Quran. Misalnya saja, dalam Quran surah Ad-Dhuha, saya menemukan bagaimana secara psikologis orang depresi bisa disembuhkan dalam waktu relatif cepat dan efektif.

Sebelum membahas lebih jauh, apa sih depresi itu?

Depresi adalah kondisi psikis (jiwa) dalam tekanan luar biasa, pikiran dan moodnya terganggu berat, ditandai dengan munculnya ketakutan dan kecemasan (anxiety) yang sangat akut, munculnya rasa tak percaya diri, menarik diri dari lingkungan dan berputus asa (inferior). Jika dibiarkan dalam waktu lama, bisa menyebabkan kegilaan (insane).

Bagaimana Allah s.w.t menawarkan solusinya? Pahami isyarat kasih sayang Allah padamu. Pahami ke Mahabesaran Allah dalam hidupmu. Nama Allah s.w.t biasanya sering dipakai orang untuk bersumpah, agar orang lain percaya dengan sumpah orang tersebut. Namun salah satunya dalam surah Ad-Dhuha, Allah sendiri yang bersumpah. Artinya tak boleh ada celah keraguan sedikit pun bagi orang-orang yang beriman. Janji Allah pasti akan terjadi.

Allah s.w.t bersumpah dengan waktu dhuha.

Demi Waktu Dhuha” (1)

Saat dhuha, orang bisa menyaksikan sinar matahari yang indah, betapa hangatnya mentari, sinarnya menimbulkan kesejukan, kehangatan dan ketenangan meliputi tubuh kita. Artinya, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan kondisi-kondisi suka dalam hidup kita.

Selanjutnya, Allah s.w.t juga bersumpah dengan pekatnya malam.

Dan demi malam apabila telah sunyi (pekat)” (2)

Pernahkah kita keluar malam hari, tak ada bintang, tak ada bulan, tak ada sinar lampu. Kita rasakan kegelapan, kesunyian, ketakutan. Kita sulit melangkah, padahal jalannya ada. Artinya, Allah s.w.t menyuruh kita untuk memperhatikan kondisi-kondisi sulit dalam hidup kita.

Dan bahwasanya Dialah Allah yang menjadikan orang tertawa (suka) dan menangis (duka)”. (Q.S. An-Najm: 43)

Sadari bahwa semua yang sudah terjadi dalam hidup kita ada Kemahabesaran Allah s.w.t di dalamnya. Saat kita menggapai berbagai prestasi, menorehkan karya dan kesuksesan, semuanya atas pertolongan Allah. Saat kita merasakan pahitnya ujian dan ditimpa musibah, itu pun atas kehendak Allah.

Rabb-mu tidak akan pernah meninggalkanmu dan tidak pula membencimu” (3).

Ayat ini romantis banget. Allah s.w.t telah bersumpah tak akan pernah meninggalkan kita baik dalam kondisi suka atau pun duka, tidak pula akan membenci diri kita sekalipun kita berlumur dosa-dosa. Ini tersyaratkan di ayat keempat.

Di sini poinnya adalah, kita wajib memperbaiki struktur pikiran kita. Stabilkan pikiran dan hati kita dengan cara senantiasa husnudzan kepada Allah s.w.t. Berprasangka yang baik-baik kepada Allah s.w.t, akan merekontruksi pikiran dengan cepat, stabil lebih cepat, kecemasan (anxiety) segera hilang, kesedihan mulai terhapuskan dengan ketenangan demi ketenangan.

Perbaiki Orientasi Hidupmu

Dan sungguh Akhirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia (4), Dan kelak pasti Rabb-mu akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lantas engkau pun akan ridha (5).”

Allah sudah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan hambanya dan tidak akan pula membenci diri hamba itu selama dia senantiasa menjadikan Allah s.w.t sebagai satu-satunya orientasi hidup (arah dan tujuan hidup). Ikhlas dalam menjalani semuanya. Just focus on Allah, hanya fokus kepada keridhaan Allah (mardhatillah).

Kegagalan, keterpurukan, kesengsaraan, dan hal-hal lain yang membuat depresi, jika ikhlas dan berorientasi kepada Allah, maka seketika itu Allah akan mengganti depresi dengan rasa tenang atas izin dan karunia-Nya. Allah menjanjikan surga atas kesabaran dan keikhlasan kita saat di dunia.

Jadi teringat, surah Ad-Dhuha ini turun saat banyaknya provokasi orang-orang Quraisy menyerang psikisnya Nabi s.a.w, karena memang waktu itu sudah 6 bulan wahyu belum ada yang turun. Allah s.w.t tepis provokasi tersebut, Allah jawab dengan surah ini.

Bukankah Dialah Allah yang mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan? (8)

Allah s.w.t mengajak flashback ke belakang tentang hidup kita, inilah alasan kenapa kita mesti yakin dengan janji-janji Allah.

Saat kita masih bayi kecil, Allah yang mengurus kehidupan kita. Saat memasuki fase remaja akil baligh, kita dari yang tak memahami agama dan mengalami krisis jati diri, Allah tuntun hingga memahami agama dan hidayah-Nya.

Allah s.w.t juga senantiasa memberikan rezeki dari awal kita di kandungan ibu, hingga kita dewasa, sampai detik ini. Inilah alasan kita mesti yakin benar dengan janji Allah s.w.t.

Saya sering menemukan ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan mengapa terjadinya kerusakan pikiran dalam diri manusia, dan pada ujung-ujungnya Allah selalu menyuruh manusia itu agar memperhatikan dan berbagi dengan orang lain.

Sekarang saya pahami, memang benar, saat orang depresi, dia jauh lebih fokus kepada dirinya sendiri. Egosentrisnya sangat kuat, dan ini akan menghambat penyembuhan depresi.

Tetapi saat Allah menyuruh kita, hamba-hambanya untuk anti egosentris, bersikap peduli dan menolong orang lain (altruistik) maka depresi itu bisa menyublim menjadi sebuah kekuatan dan pada akhirnya depresi itu hilang tergantikan dengan rasa syukur kepada Allah s.w.t.

Lihat dan perhatikan baik-baik pesan dari Allah SWT;

Maka adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang! (9) Dan terhadap orang yang minta-minta (pengemis yang benar-benar papa, maka janganlah engkau menghardiknya! (10) Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (11).”

Allah s.w.t menyebutkan dua kondisi orang yang mesti kita berbuat baik terhadapnya, mesti dijaga baik-baik sikap kita terhadapnya, mesti kita perhatikan hidupnya. Mereka adalah anak yatim dan orang fakir.

Mengapa dan ada apa dengan anak yatim? Ada apa dengan orang yang sangat fakir hingga dia harus meminta minta?

Bersyukurlah, karena Allah masih membuat kita bisa tegak berdiri karena sokongan ayah yang luar biasa. Hangat kasih sayangnya membuat kita tegar, ada tempat mengadu, ada tempat mencurahkan cerita, ada tangan ayah yang mendorong jalannya hidupmu.

Bersyukurlah, kita juga dijaga dirawat dan diberi kecukupan rezeki, tak seperti orang yang Allah uji dengan kefakiran. Dua kondisi tersebut sungguh sangat membebani psikis seseorang.

Pantaslah jika kita mentaati perintah Allah agar peduli dengan hidup mereka. Penderitaan kita mungkin belum seberapa. Bantulah mereka, berbagilah dengan mereka. Agungkan nama Allah, sebutlah nama Allah atas berbagai karunia yang kita bagikan untuk mereka. Syukuri seluruh kenikmatan yang telah kita terima dari Allah s.w.t.

Saat kita bisa mengamalkan semuanya, Allah pasti akan memberikan kelapangan hati dan pikiran. Sebab, setelah turunnya surah Ad-Dhuha, wahyu Allah selanjutnya turun surah Al-Insyirah (Melapangkan). Allahu A’lam.

Tuliskan Komentarmu !