Mendiskusikan Pribumi dan Nonpribumi

Dzawin saat mewawancarai Ricky Santoso

SAVANA- Awalnya saya merasa sebal dengan keturunan Cina yang ada di Indonesia, tapi setelah mengenal Ricky Santoso, rasa sebal saya setidaknya berkurang.

Rasa sebal ini tentu sebuah warisan. Kita punya pengalaman buruk dengan negara Cina, dan karena seteru itu, lantas kita pun harus ikut membenci keturunannya yang berada di Indonesia. Jakarta, Mei 1998, adalah saksi bagaimana kita begitu brutal kepada keturunan Cina yang berada di Indonesia.

Walau kejadian itu sudah diredam atas nama pelanggaran HAM, tapi perasaan sentimentil kita terhadap keturunan Cina masih saja amat kuat. Kita masih saja menganggap bahwa mereka yang keturunan Cina, berbeda dengan kita Indonesia. Kasus Ahok dan Ernest Prakasa misalnya.

Sentimen saya terhadap keturunan Cina dibabat habis oleh video yang diunggah oleh Ricky Santoso. Dalam video yang berdurasi 36 menit tersebut, Ricky bercerita tentang keluarganya yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Waktu itu, Ricky masih berusia 7 Tahun, dan ia tinggal bersama ibu dan kakaknya, sedang ayahnya sedang berada di Taiwan. (Cerita versi lengkapnya silakan klik di sini).

Setelah berhari-hari tersekap di rumahnya dengan keadaan makanan yang sangat minim dan rasa takut yang begitu hebat, akhirnya keluarga Ricky berhasil mengungsi ke Singkawang, Kalimantan Barat, ke keluarga Nenek dan Kakeknya dengan menggunakan kapal Fery.

Peristiwa itu membuat luka yang begitu dalam bagi Ricky. Ia tumbuh dewasa dengan pikiran: “aku lahir di negara yang membenci aku, maka aku pun benci Indonesia. Dan suatu saat, jika aku punya kesempatan, aku harus membalasnya”. Maka saat Ricky SMP dan SMA, jika ada yang mengejeknya, ia pun tak segan untuk mengajaknya gulat.

Namun setelah ibu Ricky tau pikiran anaknya, karena ia sempat cerita ingin kuliah di luar negeri dan meninggalkan Indonesia, Ibunya menasehati: “Ricky, kamu jangan membenci Indonesia, karena kamu belum tau Indonesia, yang kamu tau itu cuma Jakarta dan Singkawang. Suatu saat, jika kamu punya kesempatan, lihat sendiri, pergi sendiri, bagaimana Indonesia itu sesungguhnya.”

Saat Ricky berusia 17 Tahun, ibunya meninggal karena penyakit kangker rahim. Namun nasehat ibunya agar Ricky keliling Indonesia, agar bisa mengenal Indonesia lebih dekat, maka Ricky pun mulai mengumpulkan tekad dan keberanian.

Pada Juli 2017, Ricky mulai berjalan dari Sabang, dan ia menamai perjalanannya dengan Keliling Indonesia Gratis (KIG). Ia memosisikan dirinya sebagai orang yang butuh pertolongan, maka dalam perjalanannya itu, ia sangat sering sekali nebeng truk dan numpang tidur di rumah warga. Ia pun aktip di media sosial, agar kita tau apa yang ia lakukan, dan tidak sungkan juga untuk memberinya pertolongan. Maka tak jarang, di beberapa kota, ia banyak ditemui oleh orang-orang yang mendukung perjalannya.

Pada Desember 2018, Ricky sampai di Merauke, dan menyelesaikan perjalannanya selama 18 bulan. Dan selama perjalanan itu, Ricky bercerita mendapat banyak keajaiban. Tak hanya bisa meredam dendamnya pada masa lalu, tapi juga melahirkan cintanya kepada Indonesia. Rasa cinta yang mungkin saja melebihi rasa cinta dari orang-orang yang sering teriak “NKRI harga mati.” Benci jadi cinta, begitulah singkatnya.

Perjalanan itu setidaknya membuat Dzawin Nur Ikram, seorang Komika yang juga pendaki gunung, ingin menemuinya dan ikut mewawancarainya.

Saat wawancara yang dilakukan oleh Dzawin kepada Ricky, ada pertanyaan yang cukup menyentil, “Loe pribumi bukan, sih?” yang lalu melahirkan pertanyaan baru, “apa definisi pribumi menurut Loe?”

Kalau kita bertanya kepada Wikipedia, arti pribumi adalah masyarakat yang merupakan keturunan penduduk awal dari suatu tempat, dan telah membangun kebudayaan di tempat tersebut dengan status asli yang bukan etnis pendatang dari daerah lain. Secara definisi, itu mungkin sudah selesai, tapi tidak dengan dialektika sejarah kita.

Kakek Ricky sudah terlahir di Indonesia, bahkan ikut membela Indonesia untuk melawan penjajahan Japan. Dalam hati kecilnya, tentu Ricky ingin mengatakan bahwa dirinya orang Indonesia, seorang pribumi, tapi kalau definisi pribumi seperti yang di Wikipedia, tentu ia tak bisa asal mengaku seperti itu, karena dalam tubuhnya mengalir etnis Tionghoa.

Begitu juga dengan Dzawin, yang awalnya mengaku seorang pribumi karena ia lahir di Indonesia, punya KK dan punya KTP, tapi setelah ditelisik silsilahnya, ia punya buyut yang berasal dari Arab. Maka secara definisi, Dzawin pun sebenarnya bukan pribumi ras murni.

Lalu, bagaimana dengan kita? Dan bagaimana kita bisa cek bahwa kita ini benar-benar pribumi asli? Seberapa tinggi perhatian kita untuk mengetahui silsilah kita? Atau jangan-jangan, kita pun sebenarnya bukan pribumi ras murni?

Maksudnya, pengertian kita terhadap kata pribumi jangan hanya terpaku dengan apa yang dikatakan Wikipedia, yang lalu mengata-ngatai siapa pun yang datang dari luar. Bisa jadi, seorang pribumi sejati adalah mereka yang punya kontribusi terhadap negeri. Dan kita, yang mengaku-ngaku pribumi, jangan sampai yang secara tak langsung sudah menghancurkan Indonesia dari dalam.

Tuliskan Komentarmu !