Menapaki Puncak Slamet

SAVANA- Pagi itu, tidak terdengar lagi suara angkuh pabrik dan kendaraan, yang terdengar hanyalah kicauan burung-burung yang menyambut datangnya pagi. Tidak terlihat lagi kesombongan dan keegoisan masyarakat perkotaan, yang terlihat hanyalah keramahan dan perhatian petani dan pendaki.

Ya, pagi itu aku sedang menapaki setiap jengkal keindahan Tuhan lewat ciptaan-Nya, yaitu Gunung Slamet yang berada di Purwokerto, Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3428 Mdpl atau tertinggi kedua di Pulau Jawa.

Saat melewati hutan rimba yang disuguhkan-Nya, mulai kuresapi setiap hembusan angin dingin yang datang menyapa, kesejukan dan keheningannya membebaskanku dari segala persoalan negeri ini. Dari derasnya arus zaman modern yang menghanyutkan masyarakat perkotaan ke zaman digital dan arus zaman postmodern yang mengubah kebutuhan menjadi gaya hidup dan berwajah globalisasi. Yang akhirnya melunturkan peran manusia sebagai mahluk sosial, karena perannya sudah tergantikan oleh gagdet yang di pegangnya. Alhasil, masyarakat perkotaan sudah terlalu sibuk untuk terus eksis dalam dunia maya, dibanding berperan aktip dalam dunia nyata.

Tutur sapa antar pendaki menjadi pemandangan yang begitu indah, sekaligus pendobrak “keangkuhan” dan individualistis yang diterapakan oleh masyarakat perkotaan. Walau kami datang membawa latar belakang yang berbeda, dari mulai organisasi/komunitas, bahasa daerah, kebudayaan hingga kepercayaan, tapi dengan tujuan yang sama maka lenyaplah perbedaan antar pendaki. Yang terasa hanyalah persaudaraan yang entah dari mana silsilahnya. Ya, persaudaraan itu timbul dari kesadaran bahwa kami sama-sama ciptaan Tuhan dan ingin mengenal Tuhan lebih dekat lewat ciptaan-Nya yang lain, yaitu alam semesta.

Hari mulai sore dan udara terasa semakin dingin, akhirnya kami putuskan untuk  ngecamp di pos 5 dengan ketinggian kira-kira 2871 Mdpl, atau yang sering disebut dengan Mata Air. Gumpalan awan mulai membentuk satu kombinasi yang begitu indah, dengan pantulan cahaya matahari yang terbenam warna awan pun berubah menjadi orange, dan di bawah gumpalan awan tersebut, di sanalah tempat manusia tinggal dan menghabiskan waktunya.

Suasana malam yang sunyi dan tentram mendefinisikan kedamaian alam yang begitu dalam, hembusan angin dingin pun tak pernah aku lawan, tapi aku nikmati dan resapi dalam setiap napas yang masih Tuhan berikan.

Dekapan alam itu menyadarkanku dari kearogansian dalam menjalani kehidupan, dia (alam) sama sekali tidak pernah berusaha untuk menimbulkan kesan bahwa dia lebih pandai (baca: indah) dari yang sebenarnya. Pesan kealamian (kejujuran) selalu melekat dalam menapaki setiap jengkal keindahan-Nya, tak seperti manusia yang selalu mau terkesan lebih baik, lebih cerdas, lebih gaya, lebih pantas dan lebih pandai dari yang sebenarnya. Maka pencitraan baik pun sering dilakukan oleh kebanyakan manusia.

Pagi datang menyapa. Kicauan burung pun menghiasi indahnya hutan menuju puncak, terlihat juga bunga edelweis yang malang, tapi begitu anggun, tegar dan juga kuat. Perjalanan menuju puncak ini diberengi oleh terbitnya matahari, terlihat begitu mempesona saat matahari itu malu-malu dan bersembunyi di balik awan, seakan-akan sudah enggan lagi untuk terbit, dan bagai mana jika itu terjadi? Jawaban sederhananya mungkin mudah, yaitu kiamat. Tapi apakah seluruh manusia sudah benar-benar siap untuk menghadapinya dan meninggalkan semua akun-akunnya di dunia maya?

Hutan rimba telah aku lewati, saat aku mendongak ke atas, dari mulai batu kerikil yang kecil hingga bogkahan batu yang besar menanti untuk aku lewati. Ya, bagiku ini tentang perjuangan dan keberanian hidup, bila aku melewatinya maka aku akan berdiri di puncak (baca: surga) namun apabila menyerah dan terbuai fatamorgana kehidupan dunia, maka akan terhanyut dalam derasnya zaman. Kakiku pun terus aku langkahkan walau kerap kali kerikil-kerikil itu memundurkan langkahku.

Satu kehormatan bagiku saat “Tangan” Tuhan mengijinkanku untuk bisa berdiri di puncak Gunung Slamet, hamparan alam sebagai ciptaan-Nya terlihat begitu menakjubkan. Hembusan angin dingin mengubah rasa lelah menjadi sebuah kesadaran yang amat penting bagiku. gumpalan-gumpalan awan menyelimuti kehidupan di  bawahnya, ya kehidupan manusia, dan di sana (puncak) jelas terlihat betapa kecilnya kekuatan yang dimiliki manusia, tapi kerap kali keangkuhan muncul dari mahluk yang bernama manusia itu yang diberi titel khalifah.

Sempat tersirat dalam benak, bagaimana jika semua gunung-gunung meletus dalam waktu yang sama? Masih adakah ruang keangkuhan bagi mahluk yang bernama manusia? Atau, bagaimana jika “Tangan” Tuhan menyudahi seluruh sejarah (episode) tentang kehidupan? Masih adakah ruang kesadaran untuk terus “mengingat”-Nya?

28-10-2013

Tuliskan Komentarmu !