Memoar Sistem Pendidikan Indonesia

ridwan rustandi
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Mukadimah UUD 1945 menegaskan bahwa cita-cita bangsa Indonesia ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pertanyaannya, kecerdasan seperti apa yang dibutuhkan oleh bangsa kita?

Berbicara sistem pendidikan, tidak terlepas dari segenap komponen keberlangsungan pendidikan yang akan menentukan keberhasilan proses pendidikan tersebut. Komponen pendidikan yang dimaksud merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi instrument untuk mencapai target pencapaian pendidikan yang diinginkan.

Sedari awal, Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat mencita-citakan kehidupan bangsa yang cerdas, sebuah kehidupan bangsa yang memiliki dimensi intelektualitas dan jauh dari ketertinggalan. Tentunya untuk meraih apa yang dicita-citakan tersebut tidak cukup dengan sebatas konsepsi saja, perlu semacam rumusan yang mengatur jalannya proses sehingga keberlangsungan pendidikan tersebut benar-benar terejawantahkan secara penuh dan bertanggungjawab.

Pendidik sebagai salah satu komponen pendidikan, mempunyai peranan signifikan dalam membangun dunia pendidikan. Karakter pendidikan seperti apa yang kemudian harus dibangun seorang pendidik dalam mewujudkan masyarakat belajar yang berkarakter moral dan intelektual.

Dalam hal ini, pendidik mempunyai sebuah kewenangan untuk merumuskan konsepsi pendidikan –baik secara teoritik maupun praktik-, sehingga kecerdasan bangsa yang diinginkan sesuai dengan realitas yang seharusnya.

Apa yang dilakukan oleh seorang pendidik harus berbanding lurus dengan komponen pendidikan yang lainnya. Harus ada semacam sinergitas antara apa yang dilakukan pendidik dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan, media yang digunakan dan anak didik yang menerima pengajaran tersebut. Sinergitas tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada keberhasilan proses pendidikan dan target pencapaiannya.

Dengan merujuk pada cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, juga penjelasan yang tertulis dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pedidikan Nasional, disebutkan bahwa:

“Pendidikan bangsa berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab”.

Orientasi yang pertama yang ingin dibangun melalui sistem pendidikan Indonesia ialah oriemtasi pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan. Sebuah cita-cita yang mulia, dimana fondasi spiritualitas menjadi hal utama.

Derivasi pendidikan secara afektif dan kognitif dari orientasi pertama tersebut, yakni dengan mewujudkan karakter masyarakat belajar yang mengembangkan potensi moralitas dan intelektualitas, agar sistem pendidikan yang dibangun dapat menghasilkan karakter anak didik yang peka terhadap sosial dan disiplin pada intelektual.

Permasalahannya, rumusan sistem pendidikan tersebut pada tataran praktisnya belum mampu diterapkan di berbagai institusi pendidikan –formal ataupun informal- secara maksimal. Artinya, harus didukung pula dengan segenap sarana dan prasarana pendidikan yang dapat digunakan dalam proses keberlangsungan pendidikan. Jelas, sebuah cita-cita luhur untuk mewujudkan konsepsi pendidikan karakter sebagai upaya pencitraan moral bangsa.

Moralitas yang menjadi fondasi awal dalam karakter kepribadian bangsa, hanyalah sebuah konsepi kosong bilamana hanya sekedar ungkapan belaka. Artinya, harus ada upaya aktualisasi kepribadian karakter tersebut dalam kehidupan nyata.

Moralitas tersebut akan terbangun dengan sendirinya bila ada stimulus spiritual yang cukup bagi pertumbuhan individu tersebut. Dalam hal ini, spiritualitas menjadi kunci. Ary Ginanjar (2001) dalam bukunya ESQ Way berujar bahwa spiritualitas adalah sebuah self powerfull yang bisa menciptakan ketertiban dan keteraturan hidup. Spiritualitas tersebut ada dalam inner journey setiap individu.

“Kemudian Dia menyempurnakannya (tubuh manusia), dan meniupkan ruh ke dalam tubuh ciptaan-Nya. Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (Q.S As-Sajdah ayat 9)

Baca Juga: Warisan Perjuangan Ulama Salaf

Tuliskan Komentarmu !