Membincang Nasionalisme Pemuda

ridwan rustandi
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

”Ideologi kebangsaan itu bukan sekedar madah, tempat segala sanjung-puja-puji bersemayam. Melainkan ideologi itu sebuah prinsip” -Daniel Dakidhae-

SAVANA- Momentum sumpah pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober, merupakan spirit tersendiri bagi segenap elemen bangsa Indonesia. Pasalnya, Sumpah Pemuda menjadi jembatan awal menyatukan kemajemukan bangsa dalam wahana perjuangan guna merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Saat itu, para pemuda yang menjadi tonggak kemerdekaan bangsa, menghimpun satu kekuatan bersama dalam menggapai harapan bagi segenap bangsa Indonesia.

Melalui Kongres Pemuda yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928, perhimpunan Pemuda Indonesia dari berbagai latar pergerakan dan latar geografis yang bercorak bersatu, mengukuhkan komitmen bersama demi terciptanya keadilan di Bumi Pertiwi. Dengan begitu, kita bisa menilai bahwa Sumpah Pemuda menjadi tonggak awal terwujudnya Bhineka Tunggal Ika di Nusantara. Perbedaan menjadi lebur dan disatukan dalam wujud kepentingan bersama: Nusantara Berjaya.

Sembilan puluh tahun sudah bangsa kita memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai hari bersejarah dalam deretan narasi peradaban Indonesia. Setiap tahunnya, peringatan seremonial ini selalu dilakukan sebagai upaya napak tilas dan proses pengilhaman dalam diri setiap elemen bangsa agar tidak melupakan peristiwa bersejarah, yang mencitrakan jiwa patriotik dan nasionalis para pemuda bangsa.

Utamanya, peringatan ini dilakukan sebagai refleksi diri menuju kesadaran yang mumpuni demi terselenggaranya kehidupan bernegara yang berdaulat, adil, makmur. Dan pemuda harus menjadi garda terdepan terciptanya perubahan bangsa. Partanyaannya, sekian lama kita memperingati Sumpah Pemuda sebagai hari sakral dalam deretan tinta sejarah Indonesia, kontribusi apa yang lantas telah kita berikan dalam mengawal kemerdekaan bangsa?

Tentunya, pertanyaan semacam ini menjadi poin penting untuk terus menggelorakan nilai-nilai perjuangan dan kemanusiaan yang diusung para pemuda dahulu, sehingga menjadi madah bagi kita untuk mewujudkan perubahan-perubahan yang belum kelar dalam proses perwujudan kehidupan bernegara yang berdaulat dalam diri kita sebagai bangsa yang memiliki identitas dan budaya tersendiri.

Soekarno, dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi berujar bahwa, sebagai sebuah bangsa yang bermartabat, setidaknya ada tiga hal yang harus kita miliki. Yakni : Pertama, Indonesia harus berdaulat secara Politik.  Bangsa yang luhur adalah bangsa yang mampu menyatukan segenap heterogenitas dari setiap unsur bangsanya dalam satu madah perjuangan yang diperuntukkan bagi keamanan dan kemakmuran para penghuninya. Spirit menuju kedaulatan tersebut adalah rasa solidaritas yang harus dipelihara dan gerakan primordial dalam arti positif, yakni rasa memiliki dan peduli terhadap bangsanya.

Kedua, Indonesia harus berdikari secara ekonomi. Kiranya, gerakan koperasi yang berbasis ekonomi kerayatan menjadi ciri khas bangsa Indonesia, di mana spirit yang mengawal dalam proses pembangunan nasional adalah spirit kekeluargaan dan kesejahteraan bersama. Dengan spirit semacam ini, Indonesia akan mampu mewujudkan kemandirian ekonominya dengan tidak melupakan rakyat di pangkuannya.

Ketiga, Indonesia harus berkepribadian secara budaya. Budaya timur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang gemar bergotong royong dan ramah terhadap sesama. Kepribadian yang mengawal budaya kita adalah proses adiluhung dalam melestarikan warisan nenek moyang kita dahulu agar selalu berlaku adil terhadap sesama. Kiranya, spirit kepribadian seperti ini yang tidak boleh luntur dalam budaya kita. Suatu keironian bilamana para pemuda bangsa lebih gemar mengadopsi budaya barat dan cenderung melupakan basis kebudayaan kita sendiri yang lebih manusiawi dan memperhatikan kepentingan bersama.

Tiga fondasi di atas dapat kita jadikan sebagai spirit  dan ikhtiar kita dalam mewujudkan kepribadian bangsa yang harmonis, berkarakter, kreatif, dan berdikari. Utamanya, proses pengaktualisasin spirit kebangsaan yang dicetuskan Soekarno digunakan sebagai alat untuk menghilangkan rasa Nasionalis yang semu. Nasionalisme rekayasa yang hanya mementing aspek seremonial tanpa proses abstraksi, refleksi dan internalisasi yang mendalam dalam wujud sikap dan tindakan kita sebagai penerus perjuangan bangsa.

Nasionalisme Rekayasa ini kita lihat sebagai sebuah ideologi yang hanya dielu-elukan tanpa pernah bisa menjadi prinsip dan laku hidup yang lurus dalam kehidupan bernegara. Di satu sisi kita merasa sakit hati ketika menyaksikan atau mendengar negara tetangga mencuri warisan budaya yang kita miliki, tapi di sisi lain kita tidak ada ikhtiar melestarikan atau setidaknya mengenal budaya tersebut.

Kita marah bila pulau-pulau di Indonesia di aku oleh negara lain, tanpa mau menjaga dan memberdayakan SDA pulau tersebut secara bertanggung jawab. Kita menjadi garda terdepan yang mengoyak-ngoyak prilaku korup di tanah air, sementara kita menjadi zombie-zombie yang menanti hasil korupsi tersebut.

Melalui momentum Sumpah Pemuda ini, kita luruskan komitmen kita dalam menggapai dan mengisi kemerdekaan yang ada. Perjuangan fisik para pemuda dahulu melalui perang sudah dilakukan, tingga sekarang bagaimana kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan konsepsi kehidupan yang benar-benar diperuntukkan bagi kemajuan bangsa dan negara kita.

Menarik memperhatikan lirik dalam salah satu lagu Iwan Fals, bahwa: jangan  bicara soal idealisme/mari bicara berapa banyak di kantong kita/atau berapa dahsyatnya ancaman yang membuat kita terpaksa onani//  Kemudian: jangan bicara soal nasionalisme/ mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri/ atau tentang kita yang butabisul tumbuh subur di ujung hidung yang memang tak mancung//  dan seterusnya. Lirik ini berisi kritik yang tajam terhadap spirit nasionalisme kita yang mulai luntur.  Jangan bicara soal moral, soal keadilan, soal kemakmuran bila kita sendiri yang menjadi Zombie kebejadan itu sendiri.

Kita melihat bahwa, kesadaran sebagai titik sentrum terwujudnya kepribadian bangsa harus ada dan tertanam kuat dalam setiap jiwa bangsa ini. Apalagi pemuda yang menjadi generasi penerus bangsa dan kehidupannya. Proses pembacaan terhadap diri, lingkungan sosial kita dari mulai skala terkecil sampai skla terbesar menjadi modal kepekaan kita untuk mencari langkah solutif dalam memecahkan permasalahan bangsa. Dan kepekaan ini tidak akan muncul manakala kesadaran diri yang menjadi kunci pembukanya masih bersemayam jauh di dalam sana. Masih semu dan masih rekayasa.

Menarik pula memperhatikan sajak W.S Rendra pada sajak Gadis dan Majikan bahwa: Siallah pendidikan yang aku terima/ di ajar aku berhitung/mengetik/ bahasa asing dan tata cara// tetapi lupa diajarkan: bila dipeluk majikan dari belakang/ lalu sikapku harus bagaimana//mereka ajarkanku membenci dosa/ tapi lupa mereka ajarkan bagaimana mencari kerja//

Kesadaran diri hanya bisa muncul jika manusia itu sendiri yang mengilhami kesejatian dirinya, mengilhami konteks sosial yang ada lantas membuahkan satu prinsip hidup, laku dan sikap dalam menjalani setiap coretan sejarah yang akan datanng. Kesadaran selalu berjalan berkelindan dengan daya kemauan dan daya kreatifitas. Manusia bisa menjadi paripurna jika dirinya mampu mengambil keputusan mencapai gerakan Ilahiyah dan menyingkirkan dimensi syaitoiyyah dalam dirinya, demikian ungkapan Ali Syariati.

Akhirnya, sebagai sebuah bangsa yang berdaulat, kita harus bangga dan berbesar hati mengakui segenap kelemahan dan keporakporandaan yang ada di negeri ini. Kita harus mengakui bahwa bangsa kita bangsa munafik, bangsa yang selalu tidur menyaksikan kemiskinan, menyaksikan penderitaan sekitar. Selalu merasa puas dengan kesuksesan sendiri tanpa mau berbagi.

Namun, sebagai pemuda yang memliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan ini harus memiliki moral value yang kuat, integritas dan komitmen dalam mengubah pardigma bangsa yang mencapai kehancuran. Kesadaran diri, kehendak yang bebas dan daya kerativitas menjadi spirit dalam mewujudkan kepribadian bangsa yang patriotik, heroik dan nasionalis.

Tuliskan Komentarmu !