Membangun Karakter Anak Shaleh

taufik ginanjar
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Saat rapat dengan orangtua santri, seorang ibu bertanya, “Ustadz, kami sama-sama bekerja, ketemu anak hanya malam saja, bagaimana cara ideal mendidik anak?”.

Di lain waktu, orangtua yang lain berkata, “Ustadz, ayeuna mah pengaruh lingkungan dan gadget luar biasa.” ujar si Bapak.

Sebelum mengurai tentang judul tulisan ini, saya menyuguhkan data temuan di Bimbingan Konseling MTs Persis 3 Pameungpeuk. Pada Tahun 2015, ada 63 kasus pacaran parah. Tahun 2016 kasus serupa turun jadi 24, dan tahun 2017 turun lagi jadi 17 kasus. Santri di MTs ini jumlahnya di atas 1000 orang. Dan, setelah ditelaah, semua yang berkasus 90% karena ada masalah di keluarganya.

Orang tua merupakan orang yang paling bertanggungjawab atas perilaku anaknya. Perilaku anak hari ini merupakan manifestasi dari apa-apa perlakuan orang tua terhadapnya di masa yang telah lalu.

Di usia 7 tahun pertama, ayah ibunya sanggup mengintervensi (mempengaruhi) hidup anak 80-90%. Di usia 7 tahun kedua (8-14 tahun) intervensinya turun jadi 60%. Di usia 7 tahun ketiga (15-21 tahun) intervensinya turun lagi menjadi 40%. Di usia 7 tahun keempat (22-28 tahun) lebih turun lagi, bisa 20% bahkan nol besar.

Dari mana kita memulai memperbaiki semuanya? Jawabannya, mulai dari ayah ibunya. Memang benar, lingkungan berpengaruh, gadget berpengaruh, teman berpengaruh. Tapi harusnya pengaruh orang tua mesti lebih kuat.

Kenapa pengaruh orang tua menjadi tidak sekuat pengaruh lingkungan? Itu karena;

▪ Saat usia 7 tahun pertama, kebutuhan attachmentnya (kelengketan) tak terpenuhi. Kelengketan berarti si Anak merasakan ayah ibunya hadir dalam hidupnya, menghangatkan suasana hatinya. Ada kenyamanan dan kebahagiaan saat ayah ibunya ada. Karena ayah ibunya tak sekedar mengawasi, tapi juga membersamai dirinya

▪ Di usia 7 tahun kedua, ayah ibunya kurang menerapkan 3 hal ini penting ini saat ada di rumah, yaitu: bermain (bercanda), bicara (ngobrol santai) dan belajar (ngaji atau kegiatan yang bermuatan pembelajaran).

Anak-anak sebetulnya tak butuh ayah ibunya full 24 jam. Saat bermain, tentu anak tak akan nyaman jika terus dibuntuti oleh orangtuanya. Antar jemput selama sekolah full ditunggu dari SD-SMA, pasti sangat tak diinginkan oleh anak.

Faktanya, anak butuh waktu intens 1 sampai 3 jam untuk berinteraksi dengan ayah ibunya. Saat berkumpul di rumah, ada pengaruh yang ditancapkan orang tua kepada anaknya. Saat anak bisa mengagumi ayah ibunya, nilai-nilai baik dari keduanya akan diduplikasi oleh anaknya.

Sesibuk apapun, mengurus anak mesti dijadikan prioritas. Orang tua tak mesti 24 jam ada di samping anaknya, tetapi saat bertemu dengannya, anak merasakan kehadiran kita; ada pengaruhnya keberadaan kita untuk hidupnya.

Misal, ayah ibunya bekerja. Pulang maghrib. Anaknya sekolah di SMP/MTs. Mereka hanya ketemu pas maghrib, ayahnya bisa ngajak shalat berjamaah di masjid. Atau, bisa ngobrol ngaler-ngidul (basa-basi) dulu, namun pada akhirnya dia mendapatkan pembelajaran.

Idealnya jika orang tua sibuk, sekurang-kurangnya manfaatkan waktu 1 jam hingga 3 jam (dari 24 jam waktu yang kita miliki) untuk hadir dalam kehidupan anak-anak kita, menanamkan nilai-nilai agama, ada interaksi dan kebersamaan. Orang tua yang seperti ini, biasanya akan mudah mengendalikan dan membangun karakter anak.

Selanjutnya, anggapan pengaruh lingkungan sangat kuat, mesti kita tepis. Mestinya ayah ibunya yang lebih bisa mempengaruhi, karena waktu terbanyak anak bertemu dengan orang tuanya. Namun sayang sekali jika hanya sekedar bertemu dan ada disampingnya, tanpa si Anak merasakan interaksi, kehangatan dan kebersamaan.

Terakhir, tak semua hal mampu kita capai. Anak kita tak bisa kita genggam hati dan pikirannya. Sebab itu, cara membangun karakter shaleh terpenting adalah orang tuanya harus ikut menjadi pribadi yang shaleh juga. Kita senantiasa berdo’a untuk kebaikan kita dan anak kita. Allah s.w.t berfirman:

Dan orang-orang yang berdo’a ’ Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan anak keturunan sebagai penenang hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al-Furqan: 74)”. Allahu a’lam.

Tuliskan Komentarmu !