Memahami Keragaman Agama-Agama Manusia

memahami agama-agama manusia

SAVANA- Tabiat manusia yang memiliki rasa ingin beragama, mengabdi dan menyembah pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pembawaaan diri ingin beragama yang menjadi fitrah bagi manusia serta suasana dari kehidupan di bumi merupakan faktor pendorong manusia untuk beragama.

Di awali dengan titik keberangkatan yang terdiri atas pertanyaan: Di mana kah kita? Mengapa kita ada di sini? Apa arti semuanya ini? dan Apakah jika memang ada sesuatu yang harus kita lakukan? menjadi suatu bukti bahwa Huston Smith bertanya, apa yang hendak dicapai ketika kita membicarakan agama-agama manusia.

Ada suatu pesan yang hendak disampaikan agar dipikir secara mendalam oleh umat manusia, melihat bagaimana kemudian kita harus memahami agama-agama tersebut terkait satu sama lain. Hal paling penting yang kemudian menjadi tema utama bahasan buku ini adalah tentang tradisi kebijaksanaan masing-masing agama.

Fokus inilah yang kemudian membuat Huston Smith tak menyebut buku ini sebagai buku tentang sejarah agama. Fakta historis hanya ditampilkan sejauh diperlukan untuk menjelaskan dan memberi kerangka waktu dan ruang bagi berbagai gagasan yang menjadi inti pembahasan buku ini; tradisi kebijaksanaan agama-agama (tercantum dalam bukunya halaman 12).

Ada beberapa agama yang dibahas dalam buku ini, yaitu agama-agama besar yang telah berumur ribuan tahun dan memiliki pengikut yang tak sedikit di berbagai belahan dunia. Antara lain Hindu, Budha, Konfusianisme, Taoisme, Islam, Yahudi, Kristen, dan sedikit keterangan tentang agama-agama zaman purba.

Huston Smith mengulas setiap agama dengan padat dan indah. Padat dalam arti ulasan tentang nama-nama, tanggal, sampai pada pengaruh sosial dari masing-masing agama disuguhkan dengan lugas.

Hinduisme misalnya. Hinduisme yang termasuk ke dalam agama ardhi, berasal dari India. Kitab utamanya ialah Upanishad. Mereka meyakini pada Yoga (yoke) untuk mengaktualisasikan potensi manusia, yakni latihan membangun integrasi untuk mencapai Tuhan. Ada 4 jalan yang dipaparkan di dalam buku ini, yakni melalui jalan pengetahuan (pengetahuan faktual yang memahami intuitif atau naluriah yang mentransformasi di pemilik pengetahuan menjadi serupa dengan apa yang diketahuinya), melalui jalan kasih, melalui jalan pekerjaan, dan melalui latihan-latihan psikofisik. Huston Smith juga menuturkan tahap-tahap kehidupan bagi Hindu itu seperti apa.

Di sini ada 4 tahap yang dituturkan, yakni: tahap pertama adalah murid; tahap kedua ialah menikah atau berkeluarga; tahap ketiga ialah pertapaan ke hutan untuk menemukan hakikat diri, dan yang terakhir ialah pengingkaran diri. Hinduisme juga mengenal karma, yakni mekanisme yang mengikat akuisi-akuisi baru.

Disambung dengan Budhisme, kitab utamanya ialah Weda. Budhisme bermula dari seorang manusia yang pada masa tuanya berkobar oleh pesan yang dibawanya, dengan menyatakan: Aku ini adalah sadar. Ya, beliau adalah Sidharta Gautama. Dalam perjalanan hidupnya, beliau selalu mencari kebenaran.

Budhisme merupakan sebuah reaksi dari penyimpangan-penyimpan di dalam Hinduisme. Ada 4 kebenaran menurut Budha, yakni dukkha (kesengsaraan), tanha (keinginan atau hasrat), konsekuensi yang logis dari kebenaran yang kedua, lalu membeberkan bagaimana penyembuhan tersebut bisa dicapai.

Sebagaimana Hindu, Budha pun mempunyai jalan mencapai Tuhan, yakni pengetahuan yang tepat, keinginan yang tepat, tutur kata yang tepat, perilaku yang tepat, mata pencaharian yang tepat, upaya yang tepat, keawasan diri yang tepat, dan penyerapan yang tepat. Dalam buku ini pun dibahas sesuatu yang keramat dan bahasa yang biasa dipergunakan oleh Budhisme.

Berlanjut dengan agama yang berasal dari China, yakni Konfusianisme. Konfusianisme dibawa oleh seorang tokoh yang bernama Konfusius, yakni seorang bijak yang berkelana atau melakukan pengembaraan dari satu kerajaan ke kerajaan lain untuk mengajarkan suatu pengajaran yang bersifat Sokratis.

Dalam bukunya, Huston Smith memaparkan ajaran-ajaran yang diajarkan oleh Konfusius kepada murid yang ia temui. Ada pembahasan sedikit mengenai perdebatan di kalangan masyarakat yang bertanya: “konfusius ini merupakan etika atau agama?”. Huston Smith menyuguhkan jawaban dengan baik dengan penjabaran yang sangat luar biasa yang bisa memahamkan umat pembaca.

Masih dalam ruang lingkup agama di China, lahir juga Taoisme. Taoisme ialah penyeimbang bayangan spiritual Konfuisme. Taoisme berasal dari seorang pria bernama Lao Tzu. Kitab utama dari Taoisme ialah Tao Te Ching, di dalamnya ada nilai-nilai atau makna pendekatan kekuasaan maupun dari Tao itu sendiri.

Tao ialah jalan realitas puncak, norma, ritme, kekuatan penggerak di semua alam (Tuhan). Nilai-nilai itu antara lain: taoisme filosofis, taois kesehatan dan yoga; taoisme religious, pemanduan kekuasaan. Untuk mencapai Tao itu bisa dilakukan dengan cara sikap diam atau keheningan kreatif.

Agama selanjutnya ialah Agama Samawi, yakni Islam, Yahudi dan Nashrani. Pedoman Umat Islam ialah Kitab Suci Al-Quran, dan sunnah Nabi atau al-Hadits. Kata Islam berkonotasi pada kedamaian yang terjadi karena seseorang memasrahkan atau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Sebagaimana agama-agama lainnya, segala sesuatu dalam Islam berpusat pada titik puncak keagamaan, yakni Tuhan yang ghaib. Umat Islam berpaham monotheisme yang dipandangnya sebagai kontribusi Islam secara kaffah, bukan hanya bagi orang Arab saja.

Ada 5 rukun Islam sebagai pondasi atau tuntunan hidup dalam mencapai jalan yang lurus, yakni: Syahadat, Sholat, Zakat, Shaum dan Ibadah Haji.

Baca Juga: Dawuk; Apa Anak dari Pasar dan Cantik Itu Luka?

Berbeda dengan Islam, Yahudi dan Nashrani memandang monoteisme dengan sebagai berikut:

Yahudi menyembah Tuhan, akan tetapi ajaran-ajarannya terbatas hanya kepada orang Israel. Sedangkan umat Kristen atau nashrani mengkompromosikan monoteisme mereka dengan mengkultuskan Kritus.

Selain dari agama-agama yang telah dibahas sebelumnya, dalam buku ini juga Huston Smith menyajikan pula agama-agama primal (purba).

Di akhir bab, Huston Smith memaparkan mengenai: Mendengar dan Cinta. Ia  memberikan sikap terkait dengan kehidupan modern saat ini yang cenderung semakin menjauh, atau tak meyakini pandangan dan tradisi kebijaksanaan keagamaan. Hal ini berhubungan dengan bagaimana kita bersikap di tengah kehidupan yang pluralistis saat ini.

Huston Smith menawarkan satu sikap penting, yakni kita bisa menyimak atau mendengarkan. Mendengarkan di sini dalam arti kesediaan menyimak atau mendengarkan keyakinan orang lain termasuk kaum sekularis. Meski terkesan sederhana, kesediaan untuk mendengarkan orang lain yang berbeda ini begitu penting dalam konteks kehidupan plural.

Menurut Huston Smith, orang-orang yang mendengarkan berarti sedang berupaya mencapai perdamaian. Perdamaian yang tak dibangun berdasarkan hagemoni, politik atau agama, namun berdasarkan saling mengakui dan peduli. Pemahaman ini akan menghasilkan rasa hormat, dan rasa hormat akan menciptakan jalan bagi kemampuan lebih tinggi bernama cinta.

Baca Juga: Intuisi Berujung Kenestapaan

“Jika kita mengikuti secara benar tradisi-tradisi kebijaksanaan kita, kita harus menaruh perhatian pada orang lain sedalam dan sepenuh kita berharap mereka akan menaruh perhatian kepada kita” (hlm 430).

Di buku ini, pembaca akan bisa melihat keindahan yang dibawa setiap agama dan mendapatkan inspirasi untuk meneguhkan tali persaudaraan antar-umat beragama.

Dominasi gambar dan ilustrasi yang mengisi lembar demi lembar buku ini, menghadirkan unsur-unsur penting dalam sejarah dan inti-inti ajaran agama-agama besar di dunia.

Huston Smith berpendapat dalam bukunya, bahwa hampir sepanjang sejarahnya, umat manusia menemukan teks-teks suci mereka dalam rupa lukisan, patung, pahatan, tarian, nyanyian, dan hal-hal lain yang bernilai seni. Wallahu A’lam

Judul buku      : Agama-agama Manusia “A Guide To Our Wisdom Traditions”

Penulis           : Huston Smith

Penerbit         : Serambi Ilmu Semesta

Tahun terbit   : 2015 (Cet-I)

Tebal buku     : 433 halaman

Tuliskan Komentarmu !