Mau Bertahan, atau Binasa Perlahan?

SAVANA- Ini mungkin yang dimaksud Pramoedya dengan “pengetahuan tentang manusia tak akan pernah kemput”. Beda orang beda pemikiran, satu bahan bacaan bisa beda penafsiran. Okky Madasari melakukan penghayatan-penghayatan tetang hidup manusia sekaligus mempertanyakan kembali: begitukah seharusnya hidup manusia?

Okky mengawali kisah-kisahnya dengan cerita imigrasi sekeluarga petani desa dari Jawa ke Kalimantan. Bandiman, Okky menamai tokohnya itu. Ia merantau gara-gara di Jawa, di kaki Gunung Lawu, ia tak mendapat tempat yang layak di mata masyarakat. Ia dan istrinya, Utami, dianggap sebagai benalu; entah oleh keluarganya sendiri atau oleh orang lain.

Menjadi benalu itu tentu gara-gara kelakuan mereka sendiri. Sewaktu remaja mereka pernah pergi ke hutan berdua, dan pulang saat sudah malam tiba, itu pun setelah dijemput paksa oleh warga. Mereka akhirnya menikah dengan menahan malu dan gunjingan.

Setelah mereka mempunyai anak, hidup mereka tak juga berangsur berubah. Bandiman masih numpang di mertuanya, dengan pekerjaan serabutan. Bahkan setelah mereka mempunyai dua anak, bayi perempuan dan bocah laki-laki, kehidupan mereka di masa depan masih belum ada tanda-tanda pencerahan.

Hingga akhirnya datang kabar ada program pemerintah yang bisa saja mengubah hidup rakyatnya, yaitu dengan imigrasi ke pulau-pulau yang masih lebat hutannya. Bandiman mulai menimbang-nimbang keinginannya. Namun karena orang-orang Jawa punya filosofi “makan gak makan yang penting kumpul”, “kalau lahir di sini, mati pun mesti di sini”, “buat apa harta kalau terpisah dengan keluarga” maka keinginan Bandiman ditolak oleh mertuanya, awalnya, sebelum ia mengiming-imingi keuntungan imigrasi, walau ia sendiri pun masih belum tau pasti.

Yang mau mengikuti program pemerintah tentu sedikit saja, yaitu orang yang menatap suram kehidupannya di Jawa dan mempuyai kadar kenekatan hidup berlebih. Kepergian mereka ke Kalimantan pun masih menyimpan tanya: bagaimana kalau di sana lebih susah? Tidak betah? Tidak aman? Namun pertanyaan-pertanyaan itu coba ditangkisnya, karena tidak akan tau sebelum dicobanya.

Tragedi kembli terjadi di kapal laut yang mengantarkan mereka ke Kalimantan. Bayi perempuan Bandiman, Ambarwati, meninggal. Diduga kalau bayi itu belum sanggup menanggung perjalanan jauh, dengan berbagai macam cuaca, polusi, hingga peluh. Ambarwati pun dimakamkan dengan cara dilemparkan ke laut bersama besi pemberat yang sudah disediakan penjaga kapal. Bandiman makin membatin.

Setibanya di tempat tujuan, bukan berarti mereka harus bergembira. Mereka seperti dilempar ke dalam hutan belantara, dan memulai kehidupan kembali dari nol. Mereka hanya dibekali tempat tinggal, bebijian untuk ditanam, dan sedikit persediaan makanan.

Disaat persediaan makanan mereka sudah habis, sedang tanaman mereka masih jauh waktunya untuk dipanen, mereka mulai berpikir untuk berburu saja di hutan, dan itu memberi ‘panggung’ untuk Bandiman. Kebanyakan imigran berasal dari pinggiran kota. Mereka tak tau menahu soal berburu. Walau Bandiman sendiri tidak begitu lihai berburu, tapi paling tidak sejak bocah ia sempat ikut bersama orang tuanya berburu, di kaki Gunung Lawu. Bandiman pun jadi pemimpin mereka.

Petualangan mereka pertama-tama harus membabat ilalang, agar tau jalan pulang. Bandiman mulai membidik seekor rusa, dan dengan hati berdebar-debar, ia melempar tombaknya. Hari itu hari keberuntugan Bandiman. Sekali berburu, langsung dapat. Bandiman jadi pahlawan bagi mereka. Tak hanya dihargai, tapi juga dipuja. Bandiman sadar kalau hasil buruannya hanya keberuntungan semata, tapi ia menikmatinya. Besok-besok, biarlah hari berjalan sesuai nasibnya, seperti apa yang sudah ia lalui.

Dalam buku kumcer Yang Bertahan dan Binasa Perlahan ini, Okky memuat 19 cerpen. Kesemuanya bernada sama: realis. Okky memang dikenal suka menyeruakkan kritik-kritik sosialnya melalui sastra, dan di dalam kumcer ini, satu upaya Okky untuk menghayati kembali makna kita sebagai manusia.

Kumcer ini ditulis Okky dalam waktu satu dekade (2007-2017), satu perjalanan yang cukup panjang dengan penghayatan-pengahyatan yang menyentil. Di belakang sampulnya akan ditemui tulisan: “Ini adalah serangkaian kisah tentang pertarungan manusia. Ada yang melawan dan bertahan. Ada yang lari dan menyembunyikan diri. Ada yang tak punya pilihan lain selain binasa perlahan.”

Sajian judul-judul dalam kumcer ini selain yang di atas ialah: Janin, Sarap, Pemain Topeng, Laki-Laki di Televisi, Dua Lelaki, Keumala, Hasrat, Partai Pengasih, Patung Dewa, Riuh, Dunia Ketiga Untukku, Perempuan Pertama, Di Ruang Sidang, Bahagia Bersyarat, Dua Pengantin, Lalu Kita Menua, Akad dan Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku.

Sebagai penulis perempuan, tentu Okky pun tak melewatkan isu-isu feminisme, terutama di cerpen Janin dan Keumala. Perempuan, bagi Okky, harus bisa menjaga kehormatannya, agar ia pun dihormati.

Kumcer ini membuat kita berkelana, bukan hanya ke tempat-tempat nan jauh di sana, tapi juga ke batok-batok kepala manusia.

*) pernah diterbitkan oleh blog Pandir-Id

Tuliskan Komentarmu !