Masyarakat Tanpa Tuhan

Sumber gambar: riurealita.com

SAVANA- Tuhan tak pernah benar-benar dibutuhkan, mereka hanya butuh pekerjaan. Tuhan hanya perasaan ketakutan yang mesti dibunuh dengan keberanian. Karena itu masyarakat Desa Maringgi tak perna percaya adanya Tuhan. Setiap waktu mereka hanya bekerja  mencari uang. Tak ada sejarahnya masyarakat desa itu mencari Tuhan. Bagi mereka  pekerjaan adalah Tuhan di atas Tuhan.

 Setiap pagi, masyarakat Desa Maringgi bergegas  bangun, ada yang menuju toko, ada pula menuju kantor. Mereka bekerja dari pagi sampai malam, tak ada waktu untuk bersantai.  Setiap waktu hanya dihabiskan dengan bekerja dan bekarja, Hingga hampir semua penduduk desa itu berkecukupan. Di tengah nikmatnya kehidupan dengan bergelimang harta, mereka tak perna merasa butuh Tuhan. Bagi mereka, Tuhan hanya dibutuhkan bagi orang-orang miskin. 

Masyarakat Desa Maringgi sibuk bersaing saling memperbanyak harta. Rumah-rumah di bangun menjulang, pagar-pagar dibuat indah berukir beranika ragam hiasan. Tradisi memperkaya diri  sudah mengakar sejak nenek moyang mereka.

 Di tengah bangunan yang megah, rumah Mbah Sukar yang terbuat dari anyaman bambu nampak lusuh, kontras dengan pemandangan sekitarnya. Masyarakat Desa Maringgi mengangap Mbah Sukar sebagai penyakit  desa, mereka mencibir dan mencacinya.Tak ada satu pun orang  yang  berteman dengannya, ia dianggap orang pembawa sial, hingga sangat pantas untuk ditinggalkan.

 Hidup dikucilkan tak membuat Mbak Sukar kecewa. Ia tetap tak henti-henti mengingatkan mereka  agar sekali-kali  sadar bahwa harta hanya kenikmatan semu belaka. Setiap hari setelah pulang dari sawah Mbah Sukar selalu menasihati orang-orang yang dijumpainya, ia mengajak mereka untuk ingat pada sang pemilik kekuasaan. Meski ucapannya tidak perna didengarkan, Mbah Sukar tetap saja kukuh untuk menasehati mereka agar kembali kepada Tuhan.

“Tuhan itu hanya dibutuhkan olehmu, karena kamu miskin!” kata Pak Sadur suatu waktu saat mendengar Mbah Sukar menasehati orang-orang di warung makan.

Semua orang yang mendengar ucapan Pak Sadur  tertawa. Mereka menganggap Mbah Sukar orang gila yang candu Tuhan.

“Ya, begitulah orang-orang miskin, mereka memang sangat butuh Tuhan,” timpal yang lain.

 “Tuhan itu dibutuhkan hanya bagi orang-orang miskin.” Cibir mereka sambil tertawa.

****

Matahari serasa sepenggal di atas kepala, terik membakar tubuh, keringat berkucuran membanjiri badan. Nampak orang-orang berjalan kelelahan. Ganasnya sinar matahari di siang itu membakar pohon. Semua orang resah, karena tidak biasanya desa mereka panas seterik itu.

 Jalanan sepi, hanya satu-dua orang melintas, bahkan kendaraan tak banyak yang berkeliaran, karena panas siang itu sangat membakar. Orang-orang diam dalam rumah, berlindung dari terik matahari yang serupa api.

Di luar, pohon-pohon nampak muram, daunnya luruh satu-satu. Semakin lama pohon di desa itu menjadi kering dan terbakar. Kebakaran pohon-pohan menjadi ancaman yang serius, wajah-wajah takut semakin bergentayangan di mana-mana. Wajah yang dulunya semringah dengan kekayaan, kini berwajah resah.

  Semakin hari semakin banyak yang terbakar, dari pohon, semak-semak, bahkan rumah. Penduduk Desa Maringgi pontang-panting cari perlindungan. Mereka tak mau mati konyol dalam ganasnya bara api.

Kini, rumah yang dulu megah tinggal puing semata, terlahap api karena teriknya matahari. Mereka menangis sambil meratap. Harta dan semua yang mereka usahakan selama ini terlahap api hanya dalam helaan nafas. Kadang umpatan terdengan nyaring dari mulut mereka, berhamburan, melengkapi kekesalan hati mereka.

***

Mbah Sukar menatap sedih desanya, alangkah cepat balak itu datang. Rasanya baru tadi siang ia menatap keindahan desanya. Sangat lekat dalam benaknya, rumah yang menjulang dengan beranika bentuk yang indah, hingga membuat decak kagum yang luar biasa. Tapi kini, hanya tinggal puing-puingnya semata, hangus terlahap api.

Semua penduduk berkumpul di tepi pantai yang memisahkan Desa Maringgi dengan hutan. Mereka menangis meratapi rumahnya yang hancur lebur. Mbah Sukar duduk muram, ia hanya  menikmati jeritan kepiluan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Mbah Sukar tak merasa kesal dengan rumahnya yang terbakar, ia tak merasah kecewa dengan bencana kemarau ini.

Baginya, semua sudah ada yang mengatur. Kemurungannya  hanya bentuk kekagetan dari pelajaran yang Tuhan berikan. “ Begitu cepat pelajaran untuk menyadarkan mereka datang,” gumamnya.

Saat matahari mulai tenggelam terik mulai redah, udara dingin berkesiur sepoi-sepoi meski masih tersisa udara panas siang tadi. Bauh mayat gosong menyusup ke hidup, membuat mual perut mereka. Tangis kepiluan tak henti. Wajah-wajah ketakutan terus memancar dari wajah mereka.

Sebelum matahari muncul kembali, mereka bersepakat untuk mengungsi ke daerah yang aman. Mbah Sukar hanya manut. Sejak bencana tadi siang, ia menjadi pendiam.

“Ke mana pun kalian pergi, jika masih tertanam dalam dada kalian hasrat untuk menimbun harta, maka murka Tuhan pasti terus mengejar kalian. Kembalilah pada Tuhan sebelum terlambat!” kata Mbah Sukar saat mereka berdebat permasalahan bencan itu.

Mereka membentak Mbah sukar, orang-orang yang merasa kecewa tak segan memukulnya, melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mereka pada Mbah Sukar.

“Jika kamu mau ikut kami, jangan sekali-kali kau sebut Tuhanmu itu di depan kami, dan berhentilah menceramahi kami.”

Mbah Sukar sadar, tak ada guna memberitahu orang yang tak pantas diberitahu. Akhirnya ia manut saja, ia ingin tahu sejauh mana egois mereka bertahan tanpa Tuhan.

Sebelum sulur fajar muncul, masyarakat Desa Maringgi  mulai menaiki kapal. Udara panas mulai menyengat kulit mereka, wajah-wajah takut mereka mempercepat langkah menaiki perahu. Mereka berencana pergi ke desa  di arah barat untuk menyelamatkan diri, dan membangun kembali kehidupan yang baru.

 Saat orang-orang sudah menaiki kapal, Dengan pelan kapal itu melaju. Mbah Sukar duduk termenung di bawah tiang, ia kembali mengingat kisah Nabi Nuh dengan kaumnya. Ia seakan terseret kembali ke zaman itu. Kemurkaan Tuhan telah membasmi umat-umat terdahulu, dan kini ia rasakan sendiri kemurkaan itu datang pada desanya.

 Ia seakan sedang menaiki kapal Nabi Nuh yang lari dari murka Tuhan. Tapi ia tidak yakin perahunya akan sampai ketujuan dengan selamat. Setelah lama termenung, tiba-tiba ombak besar menghantam perahu dari samping, perahu bergerak resah dan miring sebelah. Orang-orag berteriak, Mbah Sukar terplanting hingga membentur dinding kapal.

Angin datang berhembus kencang, langit yang hitam sesekali menyilaukan mata dengan kilatan petir yang bergelegar. Orang-orang menjerit, mereka gelisah, tak ada daya dan upaya yang bisa mereka lakukan. Hanya menjerit dan menangis yang terdengar dari mulut mereka. Kegagahan dan kekayaan luruh dengan ketakutan. Hanya wajah-wajah ketakutan yang  terpancar dari mereka.

Nampak wajah Mbah Sukar tenang, wajahnya terpancar pasrah.

”Dari-Mu aku ada dan kepadamu aku akan kembali,” ucapnya lirih, orang-orang yang melihatnya terheran. Mereka yang tak punya harapan terus menjerit ketakutan, tapi Mbah Sukar  tenang seakan ia mendapat apa yang ia harapkan. Entah karena sengaja atau takut, orang-orang yang tak bertuhan itu meniru ucapan Mbah Sukar. Mereka tak punya daya dan upaya yang bisa dilakukan, selain memohon pada ketiadaan yang mereka lupakan.

Tuliskan Komentarmu !