Manusia Milenial dan Ketelanjangan Berpikir

SAVANA- Bakri, seorang dosen ilmu komunikasi yang bergelar doktor itu, adalah dosen yang selalu menjaga integritasnya di hadapan para mahasiswa, juga masyarakat. Tentu hal itu ia lakukan agar citranya sebagai dosen yang memiliki pengetahuan luas, tidak luntur.

Tiap hari ia datang ke kampus tepat waktu, dengan menggunakan pakaian yang rapi. Baju kemeja panjang, dasi yang selalu melekat di dadanya, juga celana kain hitam yang mengkilap sehabis dilicin. Tak lupa sepatu pentofel hitam yang terbuat dari kulit, membuat penampilannya sangat berwibawa.

Pembicaraannya pun selalu berkualitas juga santun, berbicara mengenai ilmu pengetahuan, berbicara mengenai moralitas, berbicara mengenai agama tentu selalu diutamakan sebagai wujud eksistensi sebagai seorang dosen yang sudah bergelar doktor itu.

Itu yang terjadi di dunia nyata, di dalam realitas sejati. Akan tetapi dalam dunia maya, Bakri berwujud dengan karakter lain, karakter yang sejatinya bertolak belakang dengan gelar dan pekerjaan yang dimilikinya.

Di dalam dunia maya, Bakri selalu tampil sebagai sosok laki-laki yang genit dan juga narsis. Setiap hari dia selalu memposting foto-foto selfi, seolah ingin menunjukan ke dunia jagat maya bahwa dirinya merupakan seorang laki-laki yang tampan.

Selain itu, perkataan-perkataan yang selalu muncul di dingding profil facebooknya tidak lagi berbicara mengenai ilmu, akan tetapi lebih banyak membicarakan mengenai cinta, benci, kecewa, kemarahan, dan sederet pembicaraan-pembicaraan yang mencerminkan seorang anak remaja yang sedang galau-galaunya.

Melihat dua karakter yang berbeda pada satu jiwa yang sama, membuat saya bertanya-tanya, karakter mana yang sesungguhnya dimiliki oleh Bakri? Apakah karakter yang ia tujukan dalam dunia virtual, atau karakter dalam realitas sosial? Mari kita mulai melirik pandangan para filosof orang yang telah memikirkan permasalahan ini secara serius.

Bila kita memperhatikan pandangan Descarter, sang Bapak Filsafat modern itu, dia mengatakan bahwa yang dinamakan dengan realitas sejati itu adalah pikiran, sedang yang berada di luar itu adalah semu. Jika kita mengamini pandangan ini, berarti karakter asli yang sesungguhnya yang dimiliki Sang Dosen tersebut adalah yang ditampilkannya dalam ruang virtual, karena yang tertuang di sana semuanya merupakan isi kepala dia yang sesungguhnya.

Namun bila kita melihat para filsuf postmodern, seperti Bauldrillard atau Yasraf Amir Piliang dengan teori Simulakra atau teori Posrealitasnya, mengatakan bahwa yang terdapat dalam dunia maya itu adalah artifisial, semu, menipu dan itu bukanlah realitas sejati. Realitas sejati adalah merupakan realitas yang di mana kita bergerak di alam nyata, kita berjalan berinteraksi dengan mengeluarkan suara, berkeliling dengan bergerak, melihat dengan mata, dan bersentuhan secara fisik dengan segala jenis benda yang nampak, itulah realitas yang sejati.

Bila kita merujuk kepada dua tokoh postmodern ini, tentulah kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang ditampilkan oleh Bakri dalam ruang virtual itu adalah suatu kebohongan, suatu kepalsuan, bukanlah karakter dia yang sesungguhnya.

Di sini kita sedang berhadapan dengan permasalahan mengenai ontologi di era milenial yang memiliki dua dunia berbeda namun satu jiwa. Tentu, dua-duanya juga bisa kita aminkan, dan dua-duanya juga memiliki landasan argumentasi yang saya rasa sama kuatnya.

Dunia maya dan dunia nyata, dua-duanya merupakan arena bagi kehidupan. Kendati pun dunia maya itu hanya merupakan arena bagi pikiran-pikiran saja, sedangkan dunia nyata merupakan arena bagi pikiran dan tindakan. Dalam prosesnya, kita tidak bisa mengabaikan berbagai aturan dan etika yang melekat dalam kehidupan manusia.

Kekuatan teknologi, tidak bisa pungkiri dapat mendikte kehidupan. Sebagai manusia, kita harus tetap mengutamakan akal dan tuntunan etika yang berlaku. Media virtual jangan dianggap sepele, sehingga kita bebas menuangkan segala isi pikiran kita dengan begitu sangat telanjangnya, tanpa ada sensor barang sedikit pun.

Seperti halnya dalam dunia nyata, dunia virtual pun akan sangat menentukan terhadap nilai, karena sejatinya kenyataan itu hadir dimulai sejak dalam pikiran, dan pikiran merupakan sesuatu yang begitu sangat privat bagi setiap orang, bahkan lebih privat daripada kelaminnya sendiri.

Patutlah ketika kita melakukan aktifitas di dunia maya, dapat memilah pikiran-pikiran kita, mana yang patut dipublikasikan dan mana yang harus dipercayai diri sendiri. Sama saja seperti ketika kita melakukan segala aktifitas dalam kehidupan, ada beberapa karakter yang kita sembunyikan dan ada beberapa karakter yang kita perlihatkan ke hadapan umum.

Dalam hal ini, kecanggihan teknologi jangan sampai membuat kita sebagai manusia (subjek),  berubah menjadi objek. Di mana pun arenanya, kita harus mampu menjadi subjek yang bisa mengendalikan segala kesadaran perbuatan kita sendiri, bukan sebagai objek yang diarahkan oleh kecanggihan teknologi (beserta opini-opini yang berseliweran di dalamnya).

Tuliskan Komentarmu !