Manurung dan Puisi yang Kehilangan Tubuh

menurung

SAVANA- Kenapa kau, dan dua orang selain dirimu tidak juga menjawab pertanyaanku? Apakah menuntut kebenaran melalui sejumlah pertanyaan hanya akan berakhir dengan pertanyaan itu sendiri? (Faisal Oddang – Manurung, hlm. 119)

Orang-orang bertanya untuk sampai pada kebenaran. Kebenaran bisa jadi mengerikan bagi sesuatu yang salah. Kebenaran jadi musuh. Yang menyembunyikan kesalahan pasti gemetar di hadapan kebenaran.

Tak semua hal yang disukai bernilai baik menurut orang lain. Orang gemar bersedekah atau gemar menolong, mungkin akan dianggap baik. Namun, orang yang gemar bertanya, bisa saja jadi sangat menjengkelkan. Dulu, di Yunani, Socrates pernah membuktikan itu.  Pertanyaan mampu menjelma senjata yang mematikan bagi lawan bicara. Orang-orang risih. Pertanyaan bisa bermaksud menjatuhkan. Lawan bicara murka ditanya tentang hal-hal njelimet, yang –mungkin- tak pernah dilontarkan orang awam.

Pertanyaan itu bikin geram. Apalagi jika yang bertanya merupakan orang yang tak terpandang secara sosial. Hal itu bisa kita temukan dalam buku kumpulan puisi garapan Faisal Oddang berjudul Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama (2017). Buku Manurung lahir dari pergumulan Faisal dengan naskah kesusastraan Bugis klasik La Galigo.

Dari dulu hingga sekarang, orang-orang tak berhenti dengan intens mengkaji naskah itu. La Galigo diteliti, lalu diapresiasi dalam berbagai bentuk. Wujudnya berupa teater, kritik sastra hingga berbentuk novel. Eksplorasi terkait La Galigo yang bejibun jumlahnya, tak membuat Faisal pesimis untuk mencoba hal baru dengan bentuk puisi.

Buku Manurung menampung 13 judul puisi. Tiap judul ditulis dengan bentuk pertanyaan. Keputusan menulis Manurung lahir dari sebuah kerisauan. Dalam pengantar bukunya, Faisal mengatakan “La Galiigo sangat istanasentris: sepertinya ditulis untuk orang-orang istana, oleh orang istana, dan tentang istana.”

Hal itu yang bikin penulis kelimpungan setelah membaca La Galigo. Risau berbuah rasa ingin tahu. Faisal lalu mengajukan beberapa pertanyaan untuk menjawab hal-hal yang tak ia ketahui. “saya punya banyak pertanyaan setelah membaca La Galigo, dan saya tidak punya jawaban yang memuaskan untuk itu. Saya percaya, ketika sebuah pertanyaan tak mampu dijawab, maka saya harus bertanya berkali-kali hal yang sama dengan bentuk yang berbeda-beda.”.

Manurung mengajak pembaca bertamasya, menyelam, dan menulusuri cerita kehidupan yang kerap dilewatkan begitu saja dalam narasi besar La Galigo. Faisal memberi suara pada budak-budak; orang-orang yang suaranya hampir tak terdengar dalam naskah epik itu. Kesempatan mempertanyakan kehidupan orang-orang istana –yang mendapat porsi dominan dalam pengisahan La Galigo-, disodorkan dengan kritis lewat mulut ‘orang-orang pinggiran’.

Ada 3 nama yang menjadi sasaran pertanyaan; Datu Palinge, Sawerigading, La Galigo. Ketiga orang tersebut memiliki darah manurung dalam dirinya. Dalam tradisi masyarakat Bugis, manurung kerap diartikan sebagai orang-orang yang turun dari atas langit. Dan puisi-puisi Faisal yang berwujud pertanyaan ini, kita pahami sebagai sebuah ungkapan bernada sarkastis kepada para manurung.

Dalam puisi berjudul “Sudahkah kauajarkan kepadanya tentang wajah Kesedihan yang kelak datang kepadanya setelah dia selesai menciptakan Bumi dan isinya?” (hlm. 33), para budak mempertanyakan tanggung jawab Datu Palinge, dan Patotoe –suaminya-, yang dihikayatkan sebagai tuhan. Mereka gerah dengan tindak-tanduk para manurung yang seenaknya dan abai pada budak, bahkan pada anaknya sendiri. Budak-budak mengaduh. “Suamimu benar-benar Tuhan yang tidak tahu diri” (hlm.33), “Kau di mana ketika anakmu pergi, o, Datu Palinge?” (hlm.36).

Budak-budak yang suaranya diredam, meledak melalui sentuhan Faisal Oddang. Faisal ibarat sedang mengorganisir para budak. Kesempatan bersuara dimanfaatkan dengan sangat apik dan epik. Budak-budak tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya segala hal. Kisah-kisah istana yang cenderung ditutupi dikoyak begitu saja. Termasuk mempertanyakan kelakukan Sawerigading yang terlampau cabul. Pembaca dibuat merinding ketika membaca pertanyaan ketujuh, “Apa yang kaukenang dari tubuh-tubuh tak bersalah yang kau siksa dan kaubunuh demi berahi dan selangkanganmu yang basah?” (hlm. 83).

Sawerigading dikuasai berahi. Ia bersiasat agar dapat menikahi adiknya sendiri; We Tenri Abeng. Orang-orang menyebut kelakuan Sawerigading sebagai ‘pamali’. Kepalanya penuh dengan imaji tentang selangkangan. Cintanya terlarang. Sawerigading ditegur dengan ungkapan yang metaforis, “Kalian pernah hidup dalam tembuni yang sama./ Kelambu juga tembuni bagi orang-orang dewasa./ Kau menginginkan hidup di tembuni yang sama lagi.” (hlm. 88).

Budak terbayang seperti sedang melakukan orasi di hadapan manurung. Setelah diberi suara, budak-budak lantang berbicara. Manurung memberi peluang pada orang-orang pinggiran, orang yang di luar lingkaran kekuasaan, untuk dapat eksis. Para manurung tak hanya disodor pertanyaan, mereka dicerca, dan digugat dengan marah oleh para budak.

Kerusakan moral yang selama ini disembunyikan rapat dalam istana, dimintai pertanggung jawaban. Kebenaran tampak samar. Sebab, “Di hadapan Kekuasaan yang telah Langit kirimkan untukmu/ kebenaran hanya lempung, tanah liat yang bisa dibentuk sesuai/ kehendak orang-orang yang berkuasa atasnya…” (hlm. 101).

Kebenaran mesti diungkap meski pahit dan menyakitkan. Suara orang-orang istana, yang dekat dengan kekuasaan tak akan berani melakukan itu. Yang bisa hanya suara orang pinggiran, suara yang jujur walaupun sering tak didengarkan.

Manurung menampilkan puisi yang sungguh dramatis. Pembaca dibawa pada panggung pertunjukan besar bernama La Galigo “yang lain”. La Galigo yang menentang imajinasi konvensional tentang kehidupan dewata. Eksplorasi Faisal dalam buku Manurung ingin menyampaikan sebuah titah, bahwa dalam kaca mata orang pinggiran, orang-orang yang dianggap agung sekali pun, tak bebas dari laku menyimpang.

Nirwan Arsuka dalam esainya berjudul “La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan ‘Penemuan” Manusia”, memiliki nada yang hampir sama dengan Faisal, ia menulis: “Dalam tokoh-tokoh I La Galigo, tidak ada yang benar-benar sempurna dan tanpa cacat dengan perilaku yang benar-benar serupa dewa agung. Para dewa bahkan bisa memperlihatkan sepak terjang konyol dan sangat manusiawi.”, “Ia tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa ada sesuatu yang ‘gelap, gila, dan tak terduga’ dalam diri manusia, sekalipun ia adalah keturunan dewa berdarah putih”.

Puisi yang Kehilangan Tubuh

Dari buku Manurung, kita menyadari satu hal yang lain. Pembaca mengamati puisi kehilangan tubuh sosialnya. Suara keluar dari mulut para budak atau orang pinggiran terlampau puitis, namun asing dan berjarak dari realitas kehidupan mereka.

Jika kita membandingkan puisi Faisal dengan puisi yang ditulis Wiji Thukul, misalnya, kita akan mendapati bahasa yang berbeda. Bahasa yang digunakan Wiji dalam puisinya terasa akrab dan tak berjarak dengan realitas kehidupan sosial para buruh. Bahasa puisi yang digunakan Wiji terefeki dari kerasnya kehidupan sehari-hari. Bahasa Wiji memiliki ruh genetik orang pinggiran. Sedangkan Faisal, yang menulis puisi dengan meminjam mulut para budak sebagai subjek puitik, menghasilkan bahasa yang jauh dari bahasa orang-orang kelas bawah, bahkan terkesan tidak memiliki ruh budak sama sekali.

Jika Wiji menulis puisi dengan menggunakan mata orang pertama, yang merasakan betul kehidupan orang pinggiran, maka Faisal –meminjam penuturan Afrizal Malna- menulis puisi (yang meminjam mulut budak) dengan menggunakan mata orang kedua.

Bagi saya, dalam buku Manurung, aku lirik kurang dalam mengeksplor bahasa para budak ketika mengajukan gugatan atau protes terhadap para Manurung. Bahasa budak yang digunakan Faisal begitu jauh berjarak dari kehidupan budak-budak istana yang keletihan dan mengalami tekanan. Puisi-puisi Faisal dalam Manurung –meminjam kembali penuturan Afrizal Malna- hanya”berakhir sebagai peristiwa puitik dalam bahasa Indonesia yang kehilangan tubuh-sosialnya”.

Judul               : Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama
Penulis             : Faisal Oddang
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 128 halaman; 20 cm
ISBN               : 9786020376813

Baca Juga: O: Seni Mencintai

Tuliskan Komentarmu !