Makna Toleransi bagi Kaum Jomlo

SAVANA- Kata toleransi termasuk kata yang paling sering dibahas di media sosial, terlebih di bulan ramadan seperti sekarang. Orang-orang yang beragama Islam ingin menjalani ibadah shaum dengan khusu, maka segala hal yang dapat mengganggu ibadah shaumnya, dilarang beredar di ruang publik. Jualan es cendol di siang bolong misalnya, dan si Mamang jualannya sambil nyuruput-nyuruput es cendolnya di depan kita.

Kalau di sekitar kita ada yang intoleran, bukan berarti kita dilegalkan untuk marah-marah, apalagi sampai menyuarakan boikot pada si Mamang tukang cendol tadi. Kalau anda merasa tergoda untuk segera berbuka gara-gara digituin sama si Mamang cendol tadi, lebih baik cek lagi iman shaum kita, bukankah tak ada keimanan tanpa godaan? Dan kalau anda merasa terhina, bukankah ada yang lebih berhak untuk membalasnya tinimbang diri kita sendiri?

Orang kalau sedang lapar dan haus memang suka mudah naik pitam, maka Rosul pun mengancam kita dengan adanya amalan-amalan yang dapat menggugurkan pahala shaum. Soal pahala memang itu urusan Yang Di Atas, tapi kita pun mesti paham agar tau batas dan tak melompat melewati pagar syariat.

Makanya tak heran jika di bulan ramadan ini, media sosial bukannya adem ayem, tapi malah semakin ramai. Bawaan orang lapar mungkin memang gitu.

Tentu ada yang lebih krusial lagi untuk dibahas yang kadang suka luput dari perhatian kita, yakni toleransi untuk kaum jomlo. Jangan nyinyir lho.

Begini, biasanya ramadan pertama selalu menjadi ajang pamer kemesraan bagi para pengantin baru, terlebih jika salah satu dari pengantin itu punya mantan yang dulunya sempat nyia-nyiain. Maka dengan unjuk kemesraan di media sosial, semacam menjadi senjata untuk balas dendam. “Saya sudah bahagia lho, nah kamu?”

Yang menjadi soalnya, yang melihat kemesraan itu bukan saja si mantan, tapi semua orang yang berteman dengannya, termasuk Mblo-Mblo yang sedang tunaasmara. Saya bukannya larang lho ya, tapi saya kasian aja sama Pimred Savana Post yang masih sediri saja, sambil suka melirik gimana gitu sama yang pamer kemesraan itu.

Nah, untuk menjaga kekhusuan shaum kita semua, lebih baik yang sudah punya pasangan shaum juga posting-posting foto pamer kemesraannya, tunggu sampai lebaran tiba. Kalau sudah lebaran kan, Mblo-Mblo itu akan dipusingkan untuk menjawab “kapan nikah?” dari para kerabatnya.

Gimana, sudah punya jawaban, Mblo?

Duh, sabar ya Luur…

Tuliskan Komentarmu !