Makna Ihsan dan Laku Politik Kita

savana post
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Nabi tengah duduk bersama para sahabatnya. Datanglah seorang pria. Ia menghampiri Nabi, lalu duduk di hadapan sang Nabi. Pria itu menempelkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi. Ia menanyakan perihal iman, islam, lalu ihsan kepada Nabi s.a.w. Nabi menjawab semua pertanyaan itu, kecuali yang terakhir.

“Tidak lah lebih mengetahui kecuali orang yang bertanya,” begitulah jawab sang Nabi tatkala ditanya apa itu ihsan?.

Lalu pria itu menjelaskan bahwa ihsan adalah laku ibadah seseorang yang disertai rasa diawasi oleh Allah ta’ala. Dan jika rasa diawasi itu tidaklah mewujud dalam kalbu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengawasi.

Dalam agama (Islam) tiga hal di atas merupakan poin utama yang harus dipahami dan tentu diamalkan oleh seorang muslim. Di mana ejawantah dari iman adalah rukun yang enam, ejawantah dari islam adalah rukun yang lima, dan ejawantah dari ihsan adalah apa yang dikenal sebagai tasawuf.

Hari-hari sekarang, muslimin sebagai elemen masyarakat  paling banyak berhuni di rumah besar Indonesia, tengah diuji, tengah ditempa untuk menjadi pribadi muslim yang betul-betul beriman, berislam, dan berihsan. Hari-hari sekarang adalah masa muslimin berada di ruang estafet menuju hajat besar demokrasi Indonesia, yakni pemilihan presiden 2019.

Sialnya, keempat manusia Indonesia yang manggung sebagai Capres maupun Cawapres adalah muslim semua. Orang-orang yang berada di lingkarang tim pemenangan pun didominasi oleh muslim pula tentunya. Pun mayoritas pemilih adalah masyarakat muslim.

Kok sial? Ya sial. Betapa tidak sial, antar kubu terutama sekali yang menonjol adalah saling mengorek, menggali, mengeruk kelemahan dan kekeliruan masing-masing. Petahana menggoreng borok kubu oposisi. Pun sebaliknya, kubu oposisi menggodok borok petahana. Hasil dari gorengan dan godokan borok itu kemudian disajikan kepada khalayak penikmat sebagai sajian mewah. Siapa khalayak penikmat itu? Adalah segenap rakyat Indonesia! Ya, kita semua.

Siapa yang tidak percaya pak Jokowi seorang muslim, pak Prabowo seorang muslim, pak Sandiaga Uno seorang muslim, pak Ma’ruf Amin seorang muslim? Siapa? Siapa yang tidak percaya? Pun siapa yang tidak percaya bahwa mayoritas manusia-manusia Indonesia yang menjadi tim sukses pemenangan masing-masing kubu diisi oleh muslimin wal muslimat?

Ah, saya jadi mikir, bagaimana nasib orang-orang non muslim di negeri ini? Mereka seolah diabsenkan sebagai bagian dari demokrasi hari ini. Ini pemilihan presiden atau pemilihan imam salat?

Tapi, kalian dan juga saya jangan berbangga dulu sebagai seorang muslim. Bagi saya apa yang mau dibanggakan? Wong isi dari persilangan, pertemuan, pertempuran, dan persinggungan dakang-dukung dalam arus demokrasi hari ini adalah pertempuran antar borok. Borok yang begitu busuk baunya, tapi kemudian dinikmati begitu saja tanpa rasa jijik dan mual.

Saya meyakini, andai saja -andai lho, ya!-, andai saja kita lebih bisa mengamalkan sila pertama dari pancasila dalam berkeindonesiaan ini, saya yakin cara-cara kita melakukan lompatan-lompatan berdemokrasi akan tidak lebih buruk, bahkan baik. Ketuhanan yang Maha Esa, bagi saya bukan sekadar sila atau pilar yang berbunyi begitu saja. Ia merupakan salju putih yang kemudian jika kita sentuh akan mencair, mendinginkan urat syafat demokrasi kita. Maka, jika kemudia pengamalan sila-sila berikutnya belumlah melesat secara mulus menuju titik kesejahteraan sosial, kita perlu menengok pengamalan kita atas sila pertama ini.

Saya yakin, semua agama tidak pernah mengajarkan kelicikan. Semua agama tidak pernah mengajarkan cara memproduksi hoaks, lalu mendistribusikannya. Semua agama tidak pernah mengajarkan bagaimana caranya menyoroti kekurangan orang lain yang kemudian dijadikan olok-olok, nyanyar-nyinyir, sambil lalu menjadi hidangan publik demokrasi. Semua agama adalah mengajarkan kasih sayang.

Oh ya, saya teringat pernyataan pak Salim Said, bahwa di Indonesia, Tuhan pun tidak ditakuti. Pejabat yang korupsi, mereka semua disumpah di hadapan kitab suci. Tapi, silakan Anda renungkan sendiri.

Baca Juga: Tepuk Tangan Sang Kiai

Tuliskan Komentarmu !

Mantan Bocah Angon yang sedang kuliah di Pascasarjana IAIN SNJ Cirebon.